
"mati kau!!... "
Gray bisa merasakan kalau apapun yang ia lakukan pedang itu pasti membelah dirinya dan tidak sempat melakukan pemblokiran, dalam hatinya ia menyesal dan malu karena kekalahan ini.
lalu Johnson pun melayangkan pedangnya dengan kuat.
"sling..... booom.... arck"
ketika sedang melakukan serangan terakhir punggung Johnson terkena sihir tanah dan angin yang kuat, ia pun terpental dan berhenti karena barier yang di buat Brown.
Gray melihat keadaan Brown diikuti oleh Johnson yang bersusah payah melihat keadaan, dan kejadian itu membuat mereka takjub.
disisi Brown ia terus berlindung dari serangan Elias dan pendeta itu, di beberapa kesempatan ia juga melakukan sihir pelemahan dan stun kepada mereka.
meski tidak terlalu kuat namun beberapa mengenai mereka membuat efektifitas sihir yang mereka keluarkan melemah, ia kemudian melihat Gray yang terdesak.
hati Brown mulai kacau melihat saudaranya yang akan di bunuh namun ia tidak bisa melakukan bantuan karena harus fokus pada pertahanannya.
dalam kondisi yang sempit itu hati dan pikirannya mulai bekerja keras, ia pun berharap kalau ada sihir yang bisa membantu saudaranya itu.
"Tuhan...... "
ketika Johnson tengah melayangkan serangan tiba-tiba Brown teringat akan perkataan Arcane ketika mereka berlatih.
__________________________________________________________
"Brown apakah kau tau bagaimana mana bergerak? "
brown memiringkan kepalanya karena bingung.
"bukannya mana itu ada begitu saja di alam tuan? dan mereka muncul begitu saja di beberapa tempat?"
Arcane menggelengkan kepalanya dan mengusap kepala Brown dengan gemas.
"biar aku kasi tau satu hal Brown.
tidak ada yang namanya sebab tanpa akibat semuanya pasti ada penjelasannya, untuk mana singkat nya aku berfikir kalau mereka seperti udara yang terus bergerak sekaligus air yang alirannya bisa kita kendalikan"
__________________________________________________________
setelah mengingat kejadian itu Brown mulai merasakan setiap inci mana di sekitarnya, ia beranggapan kalu itu adalah udara yang bergerak sekaligus aliran air yang bisa di kendalikan sesuka hati.
untuk sesaat waktu seolah-olah berhenti, kemudian ia mulai membelokkan jalan serangan Elias dan pendeta itu.
meski Brown masih merasa sangat asing dengan perasaan ini namun serangan yang ia belokkan bisa tepat mengenai Johnson.
Brown sendiri terkejut dengan apa yang barusan ia lakukan, namun ketika ia berusaha mengendalikannya lagi ia selalu gagal.
"apakah itu kebetulan? "
kini keadaan kembali seperti semula, Gray berdiri dan menghampiri Johnson, ia kemudian mengambil pedang besar milik Johnson yang terlempar dan membawanya ke Johnson yang masih berbanding.
raja James melihat itu menjadi khawatir dan berteriak.
"mahluk kotor jika kau berani membunuh anakku ku pastikan kalau Hidup seluruh rasmu akan menderita"
ratu maria juga berteriak dengan keras akan kondisi Johnson.
"mahluk kotor jika kau berani melukai dirinya lebih dari itu aku pastikan akan menyiksa mu"
tanpa memperdulikan semua ucapan yang terarah padanya ia terus berjalan, ketika sampai di depannya ia langsung mengangkat pedang Johnson tinggi-tinggi menggunakan satu tangan.
semua orang melihat kalau Gray akan membunuh seorang pangeran jadinya raja James mengeluarkan aura tempur yang berwarna biru muda dan langsung melesat kearah Gray.
sementara ratu Maria memanggil prajurit dengan berteriak gila.
raja James menghancurkan pelindung yang di buat Brown dengan mudah dan melesat menghampiri Gray, namun saat ia akan menyerangnya Gray menancapkan pedang itu di depan Johnson.
sembari memasang kembali kuda-kuda nya ia berkata dengan tegas.
"jika kau belum mengakui kekalahan ambil pedang itu"
meski Gray tau kalau kemungkinan ia akan kalah sudah di pastikan dan energinya sudah mulai habis namun Gray kini membawa nama baik dari Arcane jadi ia harus menjunjung tinggi jiwa kesatria nya.
semua orang mendengar apa yang di katakan Gray namun ketika selesai berkata seperti itu sebuah pukulan melayang dari samping kanannya dan mengenai perut kanannya.
"buk... arck... "
Arcane terkejut dengan kedatangan ayahnya yang menyerang Gray ia pun menghampiri Gary yang mengeluarkan sejumlah darah dan kemudian pingsan.
sesaat kemudian sebuah ledakan besar tercipta.
"boom.... "
Arcane membalikkan badan dan mendapati kalau Brown juga telah terlempar menuju kearahnya, refleks ia langsung menangkap Brown.
dengan lemah ia menatap Arcane kemudian melihat kondisi saudaranya, dengan menahan sakit dan air mata yang mengalir ia berusaha mendekat kearah Gray.
"kakak.... "
namun sepertinya Brown telah kehabisan energinya hingga ia pingsan, Arcane tau kalau Brown kehilangan fokusnya karena serangan raja James yang sangat cepat itu dan kini ia berusaha melakukan sihir penyembuhan kepada Gray.
Arcane dengan sigap meletakkan mereka secara berdampingan dan melakukan pertolongan pertama dengan mengecek seluruh tubuh mereka.
setelah itu ia langsung melakukan sihir penyembuhan kecil untuk menstabilkan kondisi mereka, namun di saat ini ada sebuah suara yang membuat telinganya panas.
"huh ternyata ia sangat lemah"
"tentu saja pangeran, mereka hanya mahluk kotor yang tidak memiliki Tuhan yang bisa melindungi dirinya seperti kita"
Arcane tau kalau suara itu berasal dari Elias dan pendeta, didalam hatinya ia mencibir kalah mereka bahkan tidak bisa menembus pertahanan Brown kecuali saat dirinya tidak fokus.
sementara itu raja James menolong Johnson.
"kau tak apa? "
Johnson menggertak kan giginya dan membalas.
"iya ayah, hanya sakit di bagian punggung"
raja James lega mendengar nya dan kemudian menoleh ke Arcane yang sedang mengobati Gray dan Brown.
"kenapa kau menolong mereka, hentikan saja... mereka nantinya juga akan aku eksekusi, kau juga akan dihukum karena kesalahan mu"
Arcane kemudian menjawab tanpa menoleh.
"kali ini apa kesalahanku? "
James menjawabnya dengan enteng namun dengan penekanan.
"karena mereka hidup dan berbeda dengan kita sementara dirimu itu karena kau memberikan waktu mereka untuk hidup"
Arcane mendengar jawaban itu menjadi geram, ia kemudian menghentikan sihir penyembuhan nya karena melihat mereka telah stabil setelah itu ia berdiri dan menghadap ayahnya.
"lalu jika aku tidak mau kau mau apa? "
James kini menaikkan dagunya dan menjawab.
"kau akan kehilangan status pangeran mu"
Arcane menundukkan kepalanya, ketika Arcane bersikap seperti itu semua diruangan itu menganggap kalau Arcane akhirnya menyerah dan takut.
namun apa yang mereka kira Arcane takut nyatanya berbeda, ia malah tertawa keras dan sambil menunjukkan tatapan yang tajam .
"haha..... hahahaha....
buahahaha.... pangeran? .... apakah aku di anggap pangeran disini!?..... asal kau tau bahkan aku tak menganggap semua yang di sini adalah keluarga kecuali hubungan timbal balik.
.
.
Jadi kenapa aku harus takut jika kau membuangku!?"
perkataan Arcane sukses membuat semua orang menjadi terkejut apalagi ibunya yang ketika Arcane mengatakan hal itu hatinya terluka, kini Elisabeth tak peduli apakah anaknya dikendalikan atau tidak namun ia bisa mengetahui kalau perkataan itu memang muncul dari dalam hati Arcane.
raja James masih dengan tatapan yang meremehkan.
"huh... kau masih seumur jagung dan kau masih labil, hukuman mu adalah pengasingan selama 2 tahun dan mereka berdua akan di penggal ketika kau meninggalkan kerajaan ini.
kau akan belajar menjadi rakyat biasa, kau akan meninggalkan kerajaan ini segera!!! "
Arcane marah namun kali ini ia bisa mengendalikan emosinya, ia menunduk dan tanpa bicara ia berbalik dan membawa Gray dan Brown keluar.