Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 103


setelah membicarakan beberapa pendapat dan pandangan Arcane juga mengatur pekerjaan, dan secara garis besar Arcane membagi menjadi 3 yaitu bagian pengurus organisasi, bagian perdagangan dan prajurit.


meskipun begitu ketiganya memiliki peran masing-masing dan terus bekerja sama kedepannya, kemudian Arcane memanggil Sebastian untuk berunding.


"Sebastian apakah aku bisa menambah ruang di tempat ini" kata Arcane.


Sebastian langsung menjawab.


"tidak masalah, lagipula anda adalah pemilik tempat ini"


Arcane mengangguk.


"ok, kalau begitu kau, Kai, One eye, dan Gray kalian ikut aku untuk menyusuri tempat ini.


yang lain kembali kerja"


__________________________________________________________


"Sebastian apa kau yakin kalau tempat ini tidak pernah runtuh atau rusak? " kata Arcane sambil berjalan di lorong.


Sebastian langsung menjawab.


"tidak, meskipun ada bencana alam tempat ini masih utuh"


"bagaimana kau bisa tau“


" firasat "


Arcane dan yang lainnya kini berjalan ke lorong yang menghubungkan setiap ruangan, mereka sedang menuju pintu gerbang atau jalan keluar dari tempat ini.


ketika mereka sampai di sebuah tempat dimana ruangannya melebar dan di sana terdapat pintu besar yang cukup megah.


semua orang mendekati pintu itu, namun ketika akan menyentuhnya sebuah serangan mengarah langsung kepada mereka.


"werrrr..... sling.... "


semua orang menyadari dan langsung melompat mundur untuk menghindar, setelah serangan itu ada suara yang menggema.


"apa yang kalian inginkan! ? "


semua orang mencari asal suara namun tidak ketemu, lalu Gray akhirnya menjawab.


"siapa kau!? kenapa kau menyerang kami!? "


"tidak sopan menjawab pertanyaan dengan bertanya" kata suara itu.


Kai tak tahan langsung membalas.


"kalian sendiri saja langsung menyerang dan bersembunyi,bukankah itu juga tidak sopan!?"


"benar juga" kata suara itu.


Tiba-tiba sesuatu meluncur dari atas pintu dan mendarat di depan mereka, selain Sebastian dan Arcane mereka semua menjadi waspada.


namun Arcane dengan tatapan datarnya bertanya dengan santai.


"kami di kenal sebagai penjaga pintu ini sejak dahulu... "


".... tidak ada yang boleh masuk atau keluar"


mereka mendapati kalau mahluk yang di hadapan mereka adalah 2 orang, mereka juga bisa melihat kalau kedua mahluk itu bertelanjang dada dan hanya memakai celana.


kedua mahluk itu memiliki otot yang kuat dan kekar ketika diperhatikan mereka memiliki mata yang bersinar dimana sebelah kiri berwarna merah sementara sebelah kanan berwarna biru.


semua orang menduga kalau keduanya adalah Orang kembar dan kemudian mereka mendekat, kini tampaklah wajah mereka yang seperti orang tua tanpa rambut yang masing-masing memiliki mata berwarna biru dan merah.


Masing-masing dari mereka kemudian memperkenalkan diri mulai dari yang berwarna merah.


"namaku Agni"


"namaku Rudra"


"" kami adalah penjaga pintu masuk dan keluar istana ini"" kata mereka bersama-sama.


Arcane tanpa basa basi langsung berkata.


"baik bagaimana caranya aku dan orang-orang ku bisa keluar? "


Agni dan Rudra saling menatap mereka kemudian mengangguk.


"kau harus mengalahkan kami.... "


"....kau juga akan memiliki kendali penuh akan siapa yang boleh keluar atau masuk"


Arcane tersenyum dan langsung berkata.


"ternyata persyaratannya terlalu mudah"


Arcane maju dan tanpa basa basi ia langsung melakukan eksekusi sihir secara cepat, ia langsung meluncurkan sihir tanah untuk langsung menahan pergerakan mereka.


"kah kira kau sedang apa?.... "


"tanah lemah begini, tidak cukup untuk mengalahkan kami!! "


Arcane dengan wajah datarnya langsung menggunakan sihir esnya dan membentuknya untuk mengurung Agni dan Rudra.


namun ketika mereka akan membalas Arcane menyemprotkan sejumlah air dan ketika mereka terendam Arcane langsung mengeluarkan kabut dingin yang langsung membekukan air seketika dan membuat es semakin keras.


Agni dan Rudra menjadi terkejut karena dalam waktu yang sesingkat itu mereka tidak bisa bergerak maupun mengeluarkan kekuatan mereka.


dalam keterkejutan semua orang Arcane dengan tatapan datar berkata.


"batu sebab pondasi, es sebagai belenggu, air sebagai pelengkap dengan sentuhan aliran nitrogen terciptalah penjara es dadakan... "


Arcane maju hingga ke dekat Agni dan Rudra ia kemudian tersenyum dan berkata.


"menyerah lah... "