
Arcane dengan kecepatan tinggi terbang naik dan memandangi seluruh kota, ia menggunakan lensa buatan dengan sihir es ringan sebagai teropong.
dengan muka khawatir ia terus mencari dan berkeliling kota, apa yang ia pikirkan adalah ketika orang itu hilang Arcane bisa melihat sorot matanya yang memancarkan rasa kemenangan.
dari hal itu sudah pasti kalau ia bukanlah orang yang salah dan di malam itu Arcane diliputi oleh rasa gundah dan gelisah.
sementara itu di depan pelelangan Elisabeth dan Selena merenung akan kejadian yang baru saja terjadi Jones melihat itu mendekat dan bertanya.
"kenapa kalian tampak murung? "
Selena hanya menggeleng sementara itu Elisabeth menjawab.
"entahlah, namun aku merasakan rasa familiar dengan anak itu ayah"
Jones menatap langit dan menghela nafas.
"hah..... tentang Arcane kan?
aku tau, biarkan takdir yang berjalan ingat seorang anak akan selalu pulang ke pangkuan orang tuanya tidak peduli sejauh apa mereka pergi"
Elisabeth mengangguk pelan dan pergi bersama Selena, lalu Jones menatap Ghor.
"bagaimana denganmu nak? "
Ghor hanya menaikkan bahunya dan berkata.
"mungkin aku ke hotel tempat kami menginap saja, jikalau ia pergi aku hanya harus keluar dari kota ini"
Jones mengangguk dan berkata sebelum pergi.
"jika kau perlu bantuan pergilah ke tempat penguasa kota"
Ghor hanya mengangguk dan berpisah dengan kelompok Jones, sebenarnya ia tidak tau harus pergi kemana karena ia juga dalam kondisi yang tidak menguntungkan.
ia tidak memiliki rencana lain dan mengikuti Arcane dengan harapan ia bisa mendapatkan sebuah tempat nyaman untuk dirinya tinggal.
__________________________________________________________
malam telah berlalu dan sinar matahari kini telah mulai muncul dan di langit Arcane masih berkeliling semalaman wajahnya pucat dan ia memiliki kantung mata yang sangat tebal.
merasakan kehangatan matahari ia dengan berat hati turun di antara gang kecil, kumuh, dan sepi.
Arcane menyusuri beberapa belokan dan bertemu beberapa preman yang berakhir terkapar karena di hajar Arcane.
suasana hatinya buruk dan ia melampiaskan pada sampah yang berserakan di gang itu, ketika keluar dari gang ia menabrak seorang pria tua dengan jubah mewah.
Arcane tidak memandang pria itu ataupun meminta maaf melainkan langsung pergi begitu saja, namun pria itu bersama dengan 2 anak muda yang terlihat sama dengan Arcane.
keduanya tak Terima dengan perlakuan Arcane hingga si anak laki-laki menegur Arcane.
"hei kau! menabrak seseorang bukannya minta maaf malah langsung pergi!? "
Arcane tidak memperdulikan itu dan terus berjalan sementara itu pria tua itu berkata dengan santai.
"tenanglah mungkin saja ia memiliki masalah"
si anak perempuan itu kembali menimpali.
"tapi guru sepertinya ia memang sampah, lihat ia bahkan hanya memiliki energi mana yang sedikit di umurnya yang segitu"
pria tua itu hanya menggeleng ringan dan menasehati.
"setiap orang memiliki keunikannya masing-masing, jangan terlalu cepat menilai"
anak perempuan itu mengangguk namun anak laki-laki itu seperti tidak puas.
"tapi kita tidak bisa membiarkan dia begitu saja, ia harus di beri pelajaran"
"hei tunggu..... "
pria tua itu berusaha menghentikannya namun sepertinya sudah terlambat.
anak laki-laki itu langsung mengeluarkan sihir petir dari tongkatnya dan langsung mengarahkannya ke Arcane, namun hal yang tidak mereka duga langsung terjadi.
Arcane menoleh dan dengan cepat ia mengambil sebuah tombak yang seluruhnya terbuat dari besi, dengan cepat ia menancapkan tombak itu ke tanah dan mengatakannya ke petir tersebut.
meskipun jalanan nya dilapisi oleh marmer dan batu namun Arcane menggunakan sihir tanah untuk membuka lapisan batu dan mengubur tombak itu.
alhasil petir itu langsung mengarah ke tombak dan seperti hilang di serap oleh tombak tersebut, ketiga orang itu terkejut dan si anak laki-laki pun berusaha menyerang Arcane dengan sihir yang sama namun tidak berguna.
sementara itu Arcane hanya berdiri santai dan berkata.
"aku tidak tau siapa kalian dan aku tidak ingin tau.
tapi suasana hatiku sedang buruk Jadi jangan ganggu aku"
setelah berkata seperti itu Arcane langsung berbalik melihat itu anak laki-laki itu seperti tak terima dan menyerang Arcane dengan tangan kosong.
Arcane yang menyadari hal itu langsung merilis sihir bola angin yang membuat anak laki-laki itu terbang terpental jauh, namun di sisi lain Arcane langsung sempoyongan karena mananya telah terkuras.
ia pun langsung pergi meninggalkan mereka bertiga yang sedang bingung dengan apa yang terjadi