Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 8


"ternyata tidak sesulit yang aku pikiran, ini hanya seperti merakit komputer dari nol"


arcane tenggelam dalam pikirannya sendiri dan ia langsung melanjutkan untuk membuat mananya lebih banyak, ia akan berhenti ketika akan mencapai batas karena ia yakin kalau kapasitas mana itu termasuk ke dalam salah satu pondasi.


malam yang dingin telah lewat dan di gantikan matahari pagi yang indah, kebetulan juga arcane telah bangun dari kehabisan mananya.


ia bangun dengan sedikit pusing dikarenakan mananya terisi seperempatnya saja, ia kini bertekad untuk membuat tehnik pernafasan itu kebiasaan tubuhnya supaya penyerapan mana menjadi lebih singkat.


arcane berdiri dan mencuci muka, ia berganti pakaian berlatih dan langsung menuju ke halaman belakang disana ia sudah di tunggu oleh gray dan brown, melihat keduanya arcane tersenyum dan mendatangi mereka dengan membawa 3 buku.


arcane datang dengan wajah yang lesu dan sedikit pucat, melihat itu brown berinisiatif untuk bertanya.


"maaf tuan, apakah anda tidak apa-apa?"


"ehem.... tidak masalah, aku baik baik saja, hanya kehabisan sedikit mana"


mendengar itu brown sedikit lega, sebenarnya mereka berdua sedikit merasa ragu dengan kehidupan masa depan mereka.


namun mereka memilih untuk melihat bagaimana tuan barunya akan bersikap dan insting mereka mengatakan kalau tuan barunya bisa merubah diri mereka di masa depan, karena itu mereka ingin melihat bagaimana sikap tuan yang sesungguhnya.


"baik sekarang kita akan sedikit berlatih.


gray pelajari manual bertarung ini, lalu brown berlatih dengan mempelajari sihir pendukung ini, lakukan hingga manamu habis.


kita akan melakukan sparing sesekali, yah jika kita menemukan seorang guru kita akan belajar bersama"


arcane mengatakan itu dengan santai dan menyodorkan buku bertarung dan sihir yang ia bawa dengan santai, sementara gray dan brown menatap arcane dengan mulut yang menganga.


arcane melihat mereka bersikap seperti itu menyadarkan mereka.


"berhenti bersikap seperti itu dan mulai berlatih"


mereka berdua sadar dan langsung membungkuk


"trimakasih tuan"


"jangan bersikap seperti itu, dan mulailah berlatih jika membutuhkan sesuatu katakan kepadaku"


selesai bicara arcane menuju pojok lapangan dan duduk dalam posisi lotus untuk ngumpul kan kekurangan mananya dengan tehnik pernafasan.


arcane merubah jadwal pelatihan nya karena kedatangan kedua bawahannya, dan tidak mungkin dimasa depan ia harus terus berlatih sepanjang malam.


gray dan brown masih bingung namun mereka dapat merasakan kalau aliran mana sedang menuju tuannya, mereka kini tambah yakin kalau sebenarnya arcane memiliki semacam hal yang di sembunyikan.


mereka bertiga berlatih bersama, dan di sisi lain di balik cendela mansion seorang pelayan laki-laki sedang memperhatikan mereka khususnya arcane.


"sang pangeran melakukan hal-hal aneh semenjak sembuh"


tak salah ia adalah mark, ia sangat mengenal arcane sejak ia di lahirkan karena ia sudah mengabdi kepada Ratu ketiga sejak beliau menikah, tentu saja ia tau akan sifat dan seluk beluk arcane.


waktu berlalu dan tanpa sadar sudah menjelang sore.


"tak..... tak...... tak..... "


arcane sedang sparing dengan gray menggunakan pedang kayu, mereka berlatih dengan serius meski gray lah yang lebih mendominasi.


lalu setelah beberapa saat


"crack"


pedang arcane patah dan ia langsung terjatuh ke tanah dengan terengah-engah.


"hah.... hah.... hah... kau kuat gray"


"hah... hah.... trimakasih tuan"


gray merasa heran dengan arcane, bukan karena kemampuan berpedang nya melainkan keteguhan berlatih ya.


arcane memulai berlatih dengan mengisi mananya ketika telah penuh ia langsung melakukan pelatihan fisiknya dengan berlari, pushup, dan situp dan beberapa pelatihan lain.


namun begitu selesai ia langsung menang gray bertarung dengan segala senjata yang ada, dimulai dengan tangan kosong, tongkat, tombak, pedang dll.


setelah matahari terbenam mereka memilih untuk mengakhirinya dan makan, seharian berlatih dan hanya makan di pagi hari tentu membuat mereka bertiga kelelahan.


lalu anehnya arcane juga makan di dapur terlebih ia sepertinya tidak menggunakan cara makan bangsawan karena ia makan dengan membaca buku, bergabung dengan gray, brown dan 3 pelayan termasuk mark.


pemandangan ini membuat mereka ber 5 terkejut karena seorang pangeran makan di meja dan makanan yang sama dengan mereka.


mereka juga makan dengan sangat pelan untuk tidak mengganggu arcane.


"kenapa kalian makan sangat pelan apa ada masalah? kenapa kalian makan dengan sangat pelan? "


arcane menyadari sikap mereka, mereka pun langsung gugup dan beberapa menjadi salah tingkah.


lalu mark pun membalas.


"tidak apa-apa pangeran, namun kalau boleh tau kenapa anda makan di sini? "


"hmm.... Untuk mengganti suasana saja. "


_______________________________________________________


3 hari telah terlewat dengan sekejap brown sedang berlatih dengan sangat serius, dalam 3 hari ini dirinya, gray dan arcane berlatih dengan sangat keras.


dalam waktu 3 hari brown dan gray berlatih dan menunjukkan perkembangan yang bagus, meski tidak signifikan namun ras half beast adalah seorang petarung alami jadi mereka akan selalu berkembang jika di asah terus.


namun kali ini di lapangan pada siang hari hanya ada brown yang sedang berlatih untuk mempercepat eksekusi mantra tanpa ucapan, dan juga berkat arahannya brown belajar dengan sangat cepat.


awalnya brown merasa ragu namun ketika arcane menunjukkan kemampuannya brown merasa sangat termotivasi dan ingin langsung mencobanya.


namun di dalam pelatihannya seorang pelayan mendatangi nya.


"brown, dimana tuan?"


brown yang sedang berlatih menghentikan sebentar dan menghampiri pelayan itu.


"tuan sedang keluar bersama gray, ada apa?"


"oh itu ibu tuan, ratu ketiga dan tuan putri pertama sudah pulang.


lebih baik kau mempersiapkan dirimu dan mengambut kepulangannya di ruang pertemuan"


setelah mengatakan hal seperti itu brown mengangguk dan langsung menyudahi latihannya.


di dalam aula Elisabeth dan selena sedang duduk berdua meminum teh, lalu semua pelayan datang dan menunduk dan mengucapkan selamat datang.


Elisabeth memandang seorang yang memakai pakaian pelayan dan mengenakan rantai dengan ukiran rune di lehernya, apalagi ia adalah seorang half beast.


"sepertinya kita ada pelayan baru, siapa kamu"


brown maju satu langkah dengan wajah tertunduk memperkenalkan diri.


"hamba adalah brown ratu, putri.


hamba adalah budak yang di beli oleh tuan beberapa hari lalu"


selena memandang brown dan berkata.


"tunjukkan wajahmu"


brown mengangkat wajahnya dan menunjukkan wajahnya yang lugu dan imut, meski ada sedikit jejak luka namun itu tidak menghalangi aura kecantikan nya.


selena memandang itu langsung berkomentar sarkas.


"huh.... sepertinya kakak sampah itu menemukan mainan baru."


Elisabeth tidak menegur ataupun menasehati putrinya, meski tau putrinya salah namun itu hanya umpatan ekspresi nya dan Elisabeth membebaskan anak-anaknya berekspresi kecuali sudah kelewatan ia akan menegurnya.


namun hal yang tidak terduga muncul.


"tuan tidak seperti itu putri, saya rasa putri hanya kurang mengenalnya"