
disaat bulan telah ditempatkan tertingginya dan awan berusaha menutupi keindahannya, disaat itu pula terjadi pergerakan secara mendadak di distrik timur.
dari 3 penjuru mereka semua membawa pasukannya masing-masing menuju ke sebuah tempat, beberapa waktu kemudian mereka bertemu hampir secara bebarengan.
"akhirnya sampai beruntung kita sampai dulu sebelum kelompok lain" kata seseorang yang memiliki perawakan garang dan terdapat gambar ular di punggungnya.
kelompok yang berada di geng viper yang pertama datang, karena ini adalah sebagian dari wilayahnya maka ia para anggotanya sudah hafal.
orang itu kemudian memberikan tanda untuk langsung menyerang tempat judi itu dan spontan saja begitu mereka mulai masuk sebuah suara terdengar dari luar.
"sepertinya kalian memulai pesta, bisakah kami ikut?"
semua orang menoleh ke luar dan terlihat kini pintu keluar telah di kepung oleh banyak wanita yang memakai baju ketat namun tertutup dan memegang senjata mereka masing-masing.
salah seorang geng viper berteriak.
"kak-kalian geng poison lily!! kenapa klian kesini!? "
pertanyaan itu langsung di jawab oleh ketua mereka yang datang dari kerumunan, Rose.
"mengapa? bukankah tempat judi adalah zona aman? "
kemudian seseorang yang memiliki perawakan garang itu maju dan langsung berkata.
"lalu kenapa kau membawa pasukanmu?! apa kau ingin berperang? "
Rose langsung menjawab.
"kalau ingin perang....
kita bisa melakukannya"
Rose langsung melakukan kuda-kuda bertarung diikuti juga oleh geng viper, namun ketika akan maju sebuah suara berat kembali terdengar.
"jika ingin perang sebaiknya kalian mengajak kami"
semua orang mendongak dan di atap terlihat kalau banyak orang berdiri disana, hampir seluruh atap telah di penuhi oleh sebuah pasukan, kemudian ada seseorang yang memiliki otot besar dan membawa sebuah gada ia pun berkata.
"jika ada perang disini sebaiknya kalian mengajakku"
semua orang terkejut dan baik pemimpin dari poison lily dan viper mengenali dirinya dan tanpa sadar mereka berkata.
"Gao si pendobrak gila"
orang yang di sebut Gao itu tersenyum lebar lalu membalas.
"ternyata aku terkenal juga Ya...
namun kenapa geng viper mengirim cecunguknya? apakah karena berada di kandang kalian menjadikan kalian lebih kuat? "
orang yang di maksud begitu tertekan namun mereka sebenarnya memiliki anggota yang lebih banyak di karenakan mereka campuran dari prajurit bayaran yang di sewa Fake.
Gao dari ketinggian menatap remeh mereka kemudian berkata dengan nada merendahkan.
"lebih baik kalian pergi dari sini, kalian itu lemah Jadi sebaiknya kalian pergi"
"sling.... wing... "
setelah berkata seperti itu sebuah belati dan tombak meluncur kepada dirinya, dengan mudah Gao menghindari serangan itu dan mengenai kedua orang di belakangnya.
ia melihat kebelakang dan mendapati kalau selain terluka mereka juga terkena racun, ia kemudian tersenyum dan berteriak.
"SERANG!!!! "
"HOAAAA..... "
semua orang yang berada di atap langsung turun dan menyerang, dengan refleks tanpa perintah kedua geng lainnya juga berteriak dan bertarung.
mereka langsung mengeluarkan aura pertempuran mereka yang berwarna merah, jingga dan kuning.
__________________________________________________________
sementara itu seorang prajurit sedang berlari dan mengabaikan sopan santun ia langsung menuju kediaman jendral dan langsung menggedor pintunya.
"dor... dor... dor... tuan keadaan darurat tuan!! "
bersamaan dengan itu sebuah lonceng yang berada di menara di bunyikan, suaranya begitu nyaring hingga terdengar sampai nistana.
prajurit yang membangunkan jendral itu semakin khawatir namun ketika pintu di buka prajurit itu langsung berlutut.
"mohon maaf yang mulia namun ada keadaan darurat yang sedang terjadi"
dengan kesal ia pun menendang prajurit itu hingga tersungkur.
"cih kau di bayar untuk menyelesaikan masalah keamanan kenapa aku malah di bangunkan di tengah malam! ini juga bukan dalam masa perang! "
prajurit itu kembali membenarkan posisinya dan berkata dengan gemetaran.
"tapi jendral masalah ini di luar jangkauan kami... karena ini memang perang antar geng dunia bawah di distrik timur!"
jendral itu bukannya waspada namun malah mencibir prajurit itu.
"cih merepotkan saja....
segera kumpulkan pasukan, setelah itu kita tangani masalah ini"
"siap" kata prajurit itu.
prajurit itu langsung pergi meninggalkan jendral yang kembali masuk kedalam kamarnya dengan menguap lebar.
di sisi lain raja James juga terbangun dengan suara keributan di luar, ketika bangun seorang prajurit dengan baju besinya datang lalu berlutut.
raja James melirik dan berkata.
"huh... ada apa? "
"hak..... di distrik timur terjadi keributan, informasi terkini terjadi perang antar geng banginda" kata prajurit itu.
taja James menghela nafas kemudian kembali berkata.
"apa tindakan saat ini? "
"menjawab...., saat ini pangeran pertama, pangeran Johnson sedang bergegas mengumpulkan prajurit dan bersiap pergi" kata prajurit itu.
raja James mengangguk lalu memberi perintah.
"aku ijinkan pangeran pertama memimpin oprasi kali ini, berikan laporannya kepadaku setelah selesai"
"baik yang mulia" kata prajurit itu.
prajurit itu mundur lalu berbalik keluar sementara raja James menatap kosong keluar jendela dimana ada sebuah menara tinggi disana.
dilain tempat sang pangeran pertama Johnson telah mendapatkan perintah untuk melakukan penanganan ia dengan semangat langsung memilih senjatanya.
pangeran pertama memiliki hobi yang sedikit aneh dimana ia hobby mengkoleksi senjata berat seperti pedang lebar ataupun palu dan gada.
ketika ia memasuki ruang pribadinya dan melihat ruangan itu penuh dengan senjata berat lainnya.
"hah.... baiklah siapa yang akan beraksi"
setelah beberapa pertimbangan ia mengambil sebuah gada besar dengan desain yang lumayan norak dimana pada bagian gagangnya terdapat hiasan permata.
setelah mendapatkan gada itu ia langsung pergi dan menuju tempat prajurit berkumpul, ketika sampai para prajurit masih bersiap dan beberapa juga ada yang baru datang dari barak.
Johnson sedikit jengkel karena lambatnya persiapan para prajurit.
"PERHATIAN.....!!! "
ia langsung berteriak untuk mendapatkan perhatian, ketika para prajurit telah tertuju ke arahnya ia mulai memberi perintah.
"LAMBAT.... inikah prajurit kerajaan!?
aku tidak mau tau saat ini juga aku ingin melihat semua prajurit memegang senjata aku tidak peduli kalian telah memakai baju besi atau tidak!! "
setelah mengatakan hal itu para prajurit kebingungan dan saling memandang, Johnson kini menjadi semakin jengkel dan berteriak.
"lakukan perintah ku!!....
saat ini akulah pemimpinnya dan aku telah mendapatkan persetujuan raja.
jika tidak mematuhi perkataan ku penggal! "
para prajurit kini menjadi takut, alhasil mereka semua berbaris rapi namun banyak dari mereka hanya memakai pelindung lengan dan kaki saja bahkan ada yang sama sekali tidak memakai Pelindung.
namun Johnson melihat mereka memakai senjata sudah cukup, ia pun mengangkat gada nya lalu berteriak.
"berangkat!!....
kita habisi tikus-tikus itu! "