
Arcane terus menghindar namun kini ia memilih untuk naik supaya tidak menimbulkan kerusakan yang bertambah besar, Arcane mencoba untuk menyerang petir itu dengan kekuatan anginnya namun hasilnya adalah angin Arcane kalah.
Arcane akhirnya menggunakan sihir tanah dan melakukan sedikit guncangan kepada anak laki-laki itu, dan sontak saja keseimbangan nya goyah dan membuatnya kehilangan fokus.
setelah itu Arcane langsung merilis sihir penekan seperti biasanya dan tidak hanya itu dengan sihir tanah Arcane membuat lubang dan membuat anak itu terpendam.
hingga akhirnya anak laki-laki itu terpendam dan hanya menyisakan kepalanya saja, arcane pun turun dan memandang anak itu.
"huh aku menang"
"hei kau awas kalau aku sudah bebas"
kata anak itu marah.
"hahaha.....
sudahlah Kevin, kalau kau terus bertarung dengan kepala panas maka kau tidak akan pernah menang"
kata pria tua itu.
Arcane dengan tenang menghampiri orang tua itu dan langsung menunduk sebagai bentuk sopannya.
"panggil saja aku Arc, apa yang aku tau dari Sella aku berhutang maaf kepada Anda"
pria itu itu membalas Arcane dan menjawab.
"halo Arc namaku Albus, yah sebenarnya aku lebih ke penasaran denganmu.
jika kau mau apa boleh aku mengundangmu untuk bermain beberapa permainan? "
Arcane mengangguk dan duduk berhadapan dengan Albus, dan ternyata di meja itu ada papan catur yang telah berantakan karena gebrakan Kevin.
sementara itu di sisi lain Kevin menjadi mainan oleh Sella dan Ghor.
"hei kerdil menurutmu bagaimana kita mengurus kepala ini"
"namaku Ghor, dan mengenai kepala ini bagaimana jika kita meletakkan ulat di depannya.
jika ia memanjat kepala ini dan ia berteriak kau traktir aku makan"
"jika sebaliknya belikan aku es cream"
"setuju"
seperti sebuah tombol yang ada di kepala mereka telah di tekan dan dalam sekejap wajah mereka menjadi sedikit licik, dalam sekejap keduanya langsung menjadi akrab dalam beberapa hal.
"he- hei.....
apa yang ingin kalian lakukan, cepat bebaskan aku"
keduanya tanpa koordinasi langsung membahas.
"hoh.... itu bukanlah perkataan untuk meminta tolong"
dan di siang itu Kevin memiliki alasan untuk mengurung diri selama seminggu.
__________________________________________________________
disisi lain Arcane dan Albus memulai permainan mereka, disini Albus juga memeriksa kalau mana Arcane telah berkurang sedikit karena pertarungannya.
sebelumnya Albus berfikir kalau mana Arcane akan terkuras habis namun sepertinya perkiraan nya salah dan ia memulai pembicaraan.
"nak arc sebenarnya apakah kau pernah kehabisan mana? "
Arcane menoleh dan menjawab.
"pernah, dan rasanya sangat tidak menyenangkan"
Albus tertawa dan berkata.
"hahahaha.....
kenapa? apa kau mencoba sesuatu yang gila? "
Arcane hanya menaikan bahunya dan membalas.
"tidak juga, hanya memenuhi hasrat dan sebagai obat tidur"
Albus mengangguk memang wajar jika seseorang yang kehabisan mana akan langsung pingsan namun apa yang ia tidak ketahui adalah Arcane melakukannya bukan untuk tidur melainkan menambah kapasitas mananya.
dan setelah inti mananya memadat aliran mana Arcane kini menjadi berbeda dari kebanyakan orang, sebelumnya Albus dan Sella telah melihat seberapa banyak mana Arcane.
alasan mereka menyimpulkan kalau mana Arcane sedikit karena mereka melihat mana dalam diri seseorang melalui aura yang memancar.
baik kesatria maupun penyihir mereka memiliki kondisi yang sama dan biasanya bentuknya seperti sebuah asap yang keluar dari tubuh dengan ketebalan yang berbeda-beda, semakin tebal dan luas semakin bagus dan banyak kapasitas yang orang itu miliki.
namun untuk Arcane yang mereka lihat adalah aura kecil yang keluar dari tubuh nya, dan mereka kira kalau Arcane adalah seorang kesatria namun melihat pertarungan Arcane barusan Albus mulai berfikir sebaliknya.
dan melihat aura Arcane yang saat ini berkurang sedikit bisa di bilang juga hanya sebagian kecil dari kapasitas yang hilang ini membuat Albus tertarik dengan Arcane