Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 56


di sebuah ruangan gelap dan hanya ada 1 lampu penerangan yang ada, lampu itu menyoroti seseorang pria yang sedang duduk di meja baca.


sesaat kemudian ada sebuah kilatan yang terkirim langsung ke otaknya dan ia seperti merasakan sesuatu, hal itu membuatnya terkejut dan melihat sekeliling.


ketika orang itu sedang kebingungan seseorang datang memakai pakaian pelayan dan bertanya.


"tuan? ada apa? kenapa terlihat terkejut seperti itu"


pria itu menggelengkan kepalanya dan berkata dengan lembut.


"tidak ada, hanya aku merasakan kalau buku yang kita berikan sepertinya telah di salin dan salinannya menjadi sesuatu yang kini tidak bisa aku lacak"


pelayan itu memiringkan kepalanya karena bingung.


"maksudnya? tuan, bukankah buku yang kita berikan tidak bisa di gandakan karena itu adalah buku tingkat 3? lalu bagaimana selanjutnya"


pria yang itu kemudian berfikir sebentar lalu kembali berkata.


"lupakan saja, buku itu memiliki kehendak sendiri jadi pastinya tanpa di sadari orang itu menggandakan buku itu.


lebih baik kita kembali ke pekerjaan kita"


pelayan itu kemudian membungkuk lalu pergi keluar, lalu tanpa di sadari pria itu berfikir dalam hati.


'asal buku dari perpustakaan void baik-baik saja seharusnya tetap aman.


baiklah waktunya kembali mencari buku dari dimensi kekosongan'


__________________________________________________________


kembali ke dalam kerajaan mountain kingdom di sebuah kamar tamu tepatnya adalah kamar milik Luna yang sedang tertidur, ia yang tertidur terlihat tidak tenang.


terlihat di wajahnya dimana ia seperti mengalami mimpi terburuk yang pernah di alami siapapun, setelah beberapa saat ia terbangun dengan berteriak.


"tidak!!!....hah.....hah....hah"


Lunar melihat sekeliling dan mendapati dirinya sedang berada di kamarnya, ia kemudian memeluk kakinya dan berusaha menghilangkan ingatan akan hal semalam namun rasa teror masih terasa di sekelilingnya.


beberapa saat kemudian seseorang datang dengan membuka pintu dengan keras.


"tuan putri! .... ada apa!! "


ia adalah seorang pelayan wanita yang menemani Luna sebelumnya.


"putri ada apa? semalam anda kembali dengan tatapan kosong hingga anda tertidur sekarang anda terlihat ketakutan"


pelayan itu mendekat ke Luna dan mengusap kepalanya berharap kalau Luna menjadi sedikit tenang, butuh beberapa waktu hingga Luna menjadi lebih baik.


lalu dengan lirih ia mulai berkata.


"lala pernahkah kau melihat seseorang yang membunuh tanpa berkedip apalagi mayatnya tidak tersisa sedikitpun"


pelayan yang di panggil Lala sudah menemani Luna jadi mereka cukup akrab satu sama lain, Lala sedikit bingung namun ia tetap menjawab.


"putri apakah anda melihat seorang monster sihir?"


Luna menggeleng ringan karena siapapun pasti tau kalau mahluk sejenis itu tidak akan ada di istana ini kecuali mereka telah di jinakkan.


"lebih buruk dari itu, ia adalah monster berkulit manusia"


Lala bingung dengan maksud Luna dan ia pun tidak menjawab, lalu Luna kembali berkata.


"sepertinya pangeran itu memiliki rahasia, atau kerajaan ini yang memiliki maksud tersembunyi"


Luna kini memasang tatapan tajam sementara Lala hanya bisa diam karena tidak tau harus berkata apa.


__________________________________________________________


disisi lain di sebuah gazebo taman bunga.


"hachu"


"apakah tuan sakit?"


Arcane menerima sapu tangan itu dan mengusap hidungnya.


"ah.... tidak apa.


mungkin hanya efek kehabisan mana atau ada yang membicarakan aku"


sebelumnya Arcane memang kehabisan mana karena ternyata portal pengganda itu membutuhkan mana, meski hanya sedikit namun sepertinya menyalin buku ajaib itu membutuhkan banyak mana.


hal itu menjelaskan bagaimana ia yang tiba-tiba merasa ngantuk dan tertidur hingga pagi, dan pada saat bangun pun ia merasakan kekurangan mana hingga ia merasa sangat lemas.


lalu ketika mereka berbincang Gray datang bersama seorang pelayan dari kejauhan dan menyampaikan sesuatu.


"tuan ada pelayan yang mencari anda"


Arcane mengangguk dan mempersilahkan pelayan itu datang.


"biakan ia lewat"


gray memberi hormat dan mempersilahkan pelayan yang datang, gray datang terlambat dikarenakan ia datang saat subuh tadi setelah memeriksa keadaan pabrik baik-baik saja.


gray datang ke pabrik dan melihat kalau keadaan sama seperti sebelumnya namun baik ketika ia datang maupun pergi ia mendengar beberapa ledakan.


ketika di hampiri keadaan sudah lumayan parah, dimana bangunan hampir roboh seluruhnya dan banyak orang yang terluka.


Gray hendak membantu namun mengingat rasnya dan ia adalah orang yang merdeka ia takut kalau membuat masalah jadi ia meninggal lokasi itu dan mengecek lokasi lain.


ia terkejut karena memiliki kondisi yang sama, gray akhirnya kembali dan melaporkan ketika Arcane bangun lalu ia beristirahat karena telah bergadang.


sebelumnya Gray merasakan kalau beberapa hari sedang tidak beres karena indra nya merasakan beberapa getaran di bawah tanah lalu beberapa hari kemudian ia merasakan kalau beberapa ledakan terjadi di daerah pemukiman ketika ia pergi bersama Arcane.


indra Gray memang sangat tajam dan mungkin bisa melebihi indra ras beast yang notabennya memiliki indra yang sangat kuat.


kembali ke keadaan saat ini ketika pelayan itu datang ia tidak memberi hormat melainkan menatap Arcane dengan tatapan meremehkan.


"ada pesan dari raja, anda disuruh untuk menghadap di ruang rapat segera"


Arcane mengangguk dan langsung membalas.


"baik aku nanti akan kesana"


tanpa jeda pelayan itu membalas begitu Arcane selesai bicara.


"sekarang, anda harus menghadap sekarang"


Arcane mengangguk kemudian berdiri.


"baiklah kaku begitu, tunjukkan jalannya kepada kami"


pelayan itu tidak langsung menunjukkan jalannya malah ia langsung berkata dengan nada sedikit menghina.


"anda harus pergi sendiri, saya tidak mengijinkan 2 mahluk kotor itu menodai keagungan istana"


Gray dan Brown tau kalau kehadiran mereka tidak di terima mereka kini langsung berinisiatif untuk pergi ke ruangan Arcane.


tapi sebelum itu Arcane kini malah mengeluarkan aura sihir merah dan langsung mengeksekusi mantra penekan ke pelayan itu.


pelayan itu tentu saja kaget dan tidak siap hingga ia harus bertekuk lutut, ia berusaha berdiri apalagi ia mengeluarkan aura jingga.


tapi naas sekeras apapun ia berusaha itu hanya bisa membuat dirinya terangkat sedikit, lalu tanpa di duga Arcane maju dan menginjak kepala pelayan itu hingga membuatnya dalam posisi bersujut.


pelayan itu merasa tidak terima dengan perlakuan Arcane namun di sisi lain di hatinya ada ketakutan yang muncul kepada Arcane.


lalu dengan dingin Arcane berkata dengan tegas kepada pelayan itu.


"kau hanya pelayan rendahan, jikalau aku bukan pangeran disini lidah dan matamu akan aku cabut dari tempatnya.


tapi sekarang suasana hatiku sedang baik jadi sujud padaku seperti ini sudah cukup.


sebagai saran jangan kau hina lagi orang-orang ku"


setelah itu Arcane pergi bersama Gray dan Brown meninggalkan pelayan itu di gazebo, tidak lupa juga Arcane menghilangkan sihirnya seketika pula pelayan itu bisa bergerak bebas ia melihat Arcane dengan pandangan yang berbeda.