
dengan marah arcane kembali ke kamarnya dan begitu sampai ia langsung menutup dan membekukan pintu hingga bagian luar pintu kamarnya tertutup sempurna.
arcane kini langsung duduk di tepi ranjangnya dan sedikit merenung.
"hah..... kehidupan ini..... apakah benar-benar kehidupan yang aku inginkan? "
_______________________________________________________
Elisabeth dan marina berjalan menuju kamar arcane, dengan raut lesu dan sedih mereka berjalan melewati lorong dengan beberapa percakapan ringan.
namun ketika mereka di dekat kamar arcane keduanya merasakan suhu ruangan terasa dingin, padahal ini adalah musim panas, jadi mustahil mereka merasakan dingin.
mereka saling menatap sebentar lalu langsung menuju kamar arcane.
"astaga"
mereka terkejut dan marina tanpa sadar berkata tersebut, begitu mengetahui kalau pintu kamar arcane telah terisolasi membeku, apalagi es itu sangat dingin.
Elisabeth langsung maju dan memunculkan api di telapak tangannya dan mencoba melelehkan lapisan es itu, namun ia tidak bisa bahkan tidak ada tetesan air di sana.
ia pun langsung mengeluarkan auranya yang berwarna hijau dan kini api yang berwarna merah menjadi lebih panas dengan berubah warna menjadi biru.
namun itu tidak berdampak banyak, butuh waktu lama untuk mencairkan es itu, meski es leleh dan air langsung menguap namun tetap saja es itu sangat kokoh.
akhirnya marina turun tangan, ia menyalurkan kekuatan nya yang berwarna nila kedalam Elisabeth, tidak butuh waktu lama es mencair dan pintu telah terbuka.
ketika mereka masuk keduanya melihat arcane berada di meja belajarnya dan sedang mengotak atik sebuah benda.
arcane melirik dan memulai pembicaraan.
"kenapa kalian ke sini?"
Elisabeth membalas dengan sedikit sedih.
"arcane, nak?
apa kau marah? "
arcane menjawab dengan melakukan pekerjaannya.
"sedikit"
Elisabeth menunduk dan menghampiri arcane.
"maafkan ibu, sepertinya ib-"
belum selesai berkata arcane langsung memotong perkataan Elisabeth dengan datar.
"jangan di pikiran ibu, jika ada pihak ke 3 atau dari beberapa sudut pandang akulah yang salah.
jadi apa yang sebenarnya kalian inginkan"
Elisabeth menatap anaknya sedu sementara marina menggelengkan kepalanya dan mulai berkata.
"nenek akan mendatangkan guru untuk mu"
"kalau boleh tau apa alasannya? "
"karena nenek rasa kau berbakat, dan sepertinya kau bukanlah sampah melainkan berlian yang tertutup batu"
arcane menghentikan pekerjaannya dan menatap neneknya dengan aneh.
'apakah semua orang tua akan berkata seperti itu'
arcane menggelengkan Kepalanya dan menyadarkan diri, ia pun memegang dagunya dan berfikir sejenak.
setelah beberapa saat ia mengangguk dan menjawab.
Elisabeth tersenyum dan langsung berkata.
"apa itu"
arcane juga tersenyum dan menjawab.
"aku ingin guru yang mengajari aku ketrampilan senjata dan sihir jika seorang guru yang di pilih bisa keduanya itu lebih baik.
aku juga ingin gray dan brown belajar bersamaku.
lalu jika aku merasa guru itu tidak cocok maka aku berhak untuk mengusirnya, dan jika aku menemukan guruku sendiri aku berharap kalian bisa menyetujuinya."
marina berfikir dan mulai menatap arcane dengan tatapan yang berbeda, ia kini merasa kalau persyaratannya adalah persetujuan sekaligus penolakan.
masalahnya bukan soal mencari guru yang mau mengajar, melainkan menemukan guru yang bisa mengeluarkan seluruh potensi muridnya yang sulit.
menurut pengalaman marina bukan hanya guru yang memilih murid, tapi murid juga berhak memilih gurunya meski terkadang ada juga peran orang tua yang memutuskan.
namun melihat arcane yang cukup dewasa meski ia baru menyadarinya dalam beberapa kali bertemu namun instingnya mengatakan kalau arcane termasuk orang yang lumayan bijak.
"baik nenek menyetujuinya"
arcane senang dan mengganguk.
"trimakasih nen-grand qwen"
marina tersenyum dan berkata.
"jika tidak ada orang lain selain keluarga panggil saja aku nenek"
Elisabeth sedikit kaget disana ketika marina berbicara seperti itu, namun marina tidak menanggapi dan berkata.
"baik kurasa hanya itu, eli? "
"oh.... aku juga tidak ada"
setelah percakapan singkat mereka pergi sementara arcane masih sibuk dalam benda itu, Elisabeth dan marina langsung keluar dari kamar arcane dan meninggalkan nya dalam kesibukannya sendiri.
setelah keluar Elisabeth langsung bertanya kepada marina.
"maaf jika lancang, namun kenapa anda sangat memanjakannya grand qwen?
yang berhak memanggilnya anda seperti itu bukankah hanya pangeran mahkota? "
marina langsung menjawab.
"karena instingku merasakan kalau dirinya memiliki sesuatu yang di sembunyikan.
namun firasat ku mengatakan kalau dirinya ada sebuah jenius yang terkurung"
_______________________________________________________
matahari meninggi arcane masih berada di dalam kamarnya, namun kini ia mempelajari bagaimana mekanisme peralatan sihir.
semakin mempelajari arcane kini semakin kecewa pada dunianya ini pasalnya tidak ada satupun tulisan di bukunya yang menjelaskan perbedaan mana yang berada di alam, mana yang di dalam tubuh baik itu manusia maupun hewan.
juga karakteristik dari mana itu sendiri bagaimana bisa mana menjadi sesuatu seperti api, air, tanah, angin dan sebagainya.
arcane awalnya menganggap kalau mana ini adalah semacam energi namun ketika di dalami lebih lanjut mana adalah suatu yang lebih kompleks dan fleksibel.
karena ada catatan kalau seseorang pernah mengubah dataran dan cuaca menjadi es, maka dari itu arcane masih sedikit bingung dengan konsep mana.
namun arcane menetapkan kalau mana memang masuk kedalam energi namun sifatnya seperti angin dan ia kini mencoba bagaimana menghasilkan energi itu, atau bagaimana sirkulasi energi itu.
beberapa saat berlalu dan melihat pembelajarannya tidak membuahkan hasil ia keluar untuk berlatih beberapa kerakan, meski begitu pikirannya masih di kerumuni soal mana