Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 9


siang hari yang terik arcane dan gray sedang berjalan-jalan, seperti sebelumnya ia keluar tanpa memberi tahu siapapun kecuali hanya pada brown.


arcane pergi dengan menyamar menggunakan tudung namun gray hanya menggunakan pakaian kasual biasa mereka pergi ke daerah perbelanjaan untuk membeli beberapa buku, sesekali ia berbicara ringan dengan gray.


setelah selesai ia pergi ke toko peralatan untuk membeli beberapa perlengkapan untuk gray dan brown, sebenarnya gray agak menolak namun arcane tetap memaksa.


bukan karena tidak ingin namun sebagai budak biasanya meski di jadikan pengawal mereka tidak akan di beri senjata, apalagi beda Ras namun saat ini arcane membelikannya.


setelah selesai mereka pergi ke toko penjahit untuk memodifikasi beberapa baju.


"permisi aku ingin menseting beberapa baju"


pemilik toko adalah seorang nenek-nenek dengan pakaian kas penjahit.


"oh kalau boleh tau pakaian seperti apa?"


arcane mengeluarkan satu set baju sebagai contoh dari gelang penyimpanannya.


"baju seperti ini, ini terlalu kebesaran aku ingin kau mensetingnya ke dalam ukuran ku dan orang yang di belakangku.


sebenarnya ada satu orang lagi, aku akan membawanya kemari lain kali apakah bisa?"


penjahit itu melihat pakaian perlengkapan dan memerikaanya, itu adalah pakaian yang arcane beli beberapa 4 hari lalu dan sebagian ukurannya cocok untuk arcane, gray dan brown namun ada juga yang terlalu besar.


arcane memberikan sebagian baju itu untuk mereka karena tidak berguna juga baginya dan mereka juga tidak memiliki pakaian yang layak, jadi kali ini sekalian juga.


nenek itu memperhatikan dan menyanggupi pemesanannya lalu mengukur tubuh mereka berdua, setelah selesai arcane memberikan semacam catatan kepada nenek itu.


"nenek aku ingin anda membuat baju seperti dalam catatan ini, gunakan saja beberapa baju yang saya bawa sebagai bahan"


nenek itu menganggukkan kepalanya, lalu setelah urusan keduanya di kota selesai, mereka pun pulang.


sesampainya di belakang rumah mereka.


"BOOM"


mereka mendengar suara ledakan yang cukup keras dari dalam mansion, mendengar itu mereka bertatap mata sejenak kemudian langsung menuju mansion.


sesampainya disana mereka melihat mansion hancur pada bagian luar depan, lalu di sekitarnya terdapat brown yang terkapar pingsan dengan baju yang sedikit sobek.


melihat itu gray langsung menuju ke arahnya dan memeriksanya, disampingnya arcane juga khawatir.


"bagaimana keadaannya?"


"hanya luka ringan dan pingsan tuan"


arcane tau kalau brown di serang ia marah akan hal itu dan kemudian berteriak.


"SIAPA YANG MELAKUKANNYA!!!!"


"AKU!!, kenapa? "


suara angkuh dari dalam bagian mansion yang rusak, kepulan debu menghalangi penglihatan dan hanya menampakkan bayangannya saja.


"kau.... suara ini.... "


arcane mengenali suara ini dan ia hanya menebak satu orang.


"halo kakak sampah"


seorang perempuan berumur sekitar 10 tahun keluar dari kepulan debu, dengan aura warna kuning merembes dari seluruh tubuhnya ia keluar dengan sombong.


"selena......!"


.


.


.


sebelumnya


.


.


.


suara dari brown menggema dari seluruh ruangan, dengan nada yang penuh ketegasan ia berkata dengan lantang dan yakin.


"apa katamu! "


"hamba berkata kalau sebaiknya putri lebih mengenal tuan.


karena sesungguhnya tuan tidak seperti yang selama ini mereka bilang"


perkataan itu membuat semua orang yang di sana terkejut, bahkan mark dan pelayan yang disana merasa terkejut karena meski mereka tau kalau arcane berubah namun bagi mereka itu hanya bersifat sementara atau permainan lainnya jadi mereka tidak menganggapnya dengan serius.


di sisi lain Elisabeth juga terkejut karena selain memberi arcane sihir penyembuhan ia tidak pernah meminta atau mendapatkan kabar kalau arcane memiliki sifat lain.


tapi untuk selena ia merasa terhina dan terpancing amarah.


"kau... kau berani memerintah ku!!! "


dengan tenang brown menjawab.


"tidak putri, hamba hanya menyatakan anda.


"kau!!!.


~bom angin~! "


"selena tunggu!! "


selena naik pitam dan langsung melancarkan sihir anginnya, dengan anginnya ia melakukan gelombang kejut yang bisa menghempaskan hampir semua yang di laluinya.


Elisabeth dengan cepat menggunakan sihir anginnya untuk memblokir serangan selena, tidak hanya itu ia juga melindungi para pelayan namun tidak dengan brown.


brown juga reflek membuat sebuah barier dari elemen tanah namun itu tidak berfungsi sempurna karena eksekusi mantra dari selena yang terlalu cepat dan kemudian.


"BOOM!!! "


ruangan itu meledak dan porak poranda menyebabkan kerusakan pada mansion, dan saat itulah arcane datang.


kembali ke saat ini, kini wajah arcane terukir amarah dan kekesalan itu karena ia melihat kalau ibunya tidak melindungi brown sama sekali.


awalnya ia berpikir kalau ibunya akan berperilaku bijak karena perlakuan awalnya namun sepertinya arcane berharap terlalu jauh.


hanya karena berlebel sampah ia di perlakuan seperti ini, jika kepada dirinya langsung ia tidak masalah namun jika itu menyangkut orang lain itu hal yang berbeda lagi.


"kau......


salah apa dia sampai kau lakukan seperti ini!!!."


arcane mengucapkan itu dengan tegas dan menahan amarah, ia langsung berbalik dan menggendong brown dan membawanya ke kamar pelayan.


namun saat ia akan pergi selena menghadang, meski tubuhnya lebih kecil dari arcane ia tidak takut karena kemampuan sihirnya lebih kuat.


"sekarang kau berani membentak ku, hahahah.....


ia meyebutmu ia adalah kakakku di hadapanku dan ia membela dirimu.


aku tidak sudi mengakui kau adalah kakakku"


"selagi aku masih mentolerir, minggir dari hadapanku"


selena melihat arcane dengan perasaan kemenangan, namun tidak berhenti sampai di sana ia malah memancing arcane untuk lebih marah.


"hoh....


memang apa yang akan kau lakukan hah


dan apa spesialnya budak ini"


dengan gelagat sombong ia menunjuk arcane dengan keras dan setelah itu ia menjambak rambut brown dengan kasar.


namun kali ini ia sudah melewati batasannya.


arcane kini mengeluarkan aura mananya yang berwarna putih, sementara itu selena malah tambah mengejek dan memprovokasi arcane dengan mengeluarkan aura mana berwarna kuning.


"hahahaha.....


apa yang bisa kalu lakukan di tahap inti mana warna putih hah?


lihat aku yang sudah di tahap warna kuning, bagaimanapun kau akan kalah dalam sekali serang.


~pedagang angin~"


"selena!!!! "


Elisabeth berteriak karena anaknya telah kelewatan, meski ia tau ia salah karena lalai melindungi brown, namun pertikaian ini telah melewati batas dan Elisabeth berusaha untuk melakukan sihir pelindung untuk arcane namun sepertinya terlambat.


namun ketika sihir itu telah mendekat tiba-tiba.


"psyut..... "


sihir itu menghilang dengan sendirinya dan tentu saja mereka yang ada di sana sangat terkejut, namun selena berfikir kalau itu adalah perbuatan ibunya.


namun ketika ia akan berkata kembali mereka di kejutan dengan pemandangan yang lebih mengejutkan.


"selena fortis, kau telah melewati batasanmu"


dengan mata penuh amarah angin memutar di sekitar tubuhnya dengan cepat, lalu perlahan-lahan tubuhnya terangkat oleh pusaran angin itu.


meski hanya terangkat 2 meter semua orang yang di sana terkejut bukan main, memang tidak mustahil seseorang melayang menggunakan sihir angin namun biasanya yang bisa menggunakan tehnik itu hanya orang yang berada di inti mana warna biru.


meski ada tehnik tersendiri itu pasti akan mustahil untuk dilakukan kecuali orang itu memiliki mana yang luar biasa banyak selain itu jika tidak berada di pada inti mana warna biru dipastikan kalau itu mustahil.


namun arcane yang berada pada inti warna putih berhasil melakukannya, dan terlebih lagi ia tidak mengucapkan satu mantra apapun.


"huh... kau bahkan terlihat lebih kecil dari atas sini.


namun sepertinya kesombongan mu masih lebih tinggi......"


arcane berbicara dengan penuh amarah di dalamnya.


"ka-.... "


selena ingin berkata namun arcane menyelanya.


"sekarang berlutut dan katakan kalau kau menyesal"