
Arcane berjalan dengan santai menuju ke ruang rapat entah apa yang terjadi namun ini pertama kalinya ia di panggil kedalam ruang rapat kerajaan.
meskipun ini pertama kalinya namun ia tau dimana letak tiap ruangan di istana ini Arcane sebenarnya cukup heran karena tubuh sebelumnya cukup pintar karena di umur yang masih terbilang beliau ia bisa mengingat denah seluruh istana yang terbilang cukup rumit ini.
Arcane berjalan dengan Brown dan Gray di belakangnya, ketika sedang berjalan Brown sedikit ragu dan gelisah dengan kejadian pagi ini dan dengan nada kecil ia berkata kepada Arcane.
"maaf tuan karena membawa masalah"
Arcane berhenti sejenak dan menoleh ke Brown dan mendapati kalau ia sedang gelisah.
"ada apa? kenapa kau terlihat murung seperti itu? "
Brown dengan berat ia berkata.
"maaf tuan, karena kejadian pagi ini....
tuan pasti akan mendapatkan masalah..... "
Brown berkata dengan beberapa jeda di setiap katanya, namun Arcane mengerti apa yang di khawatirkan oleh Brown.
"Brown, kau tidak salah.
dan aku melakukan itu karena aku anggap itu adalah hal yang benar.
kau juga bisa melakukannya namun jika itu merugikan orang banyak atau kau berbuat salah aku akan menghukum dirimu juga."
Brown terkejut dan menatap wajah Arcane yang datar.
"tapi tuan ham-"
tanpa menunggu Brown selesai berkata Arcane memotongnya.
"kau adalah orang yang telah merdeka, lakukan apa yang kau mau.
namun jangan lupa akan tugas-tugas mu"
Arcane tersenyum lalu ia melanjutkan jalannya meninggalkan gray yang masih ragu, namun Gray mendekat lalu menepuk pundak Brown.
"tenang tuan memang seperti itu, ia sangat fleksibel jadi kau tidak perlu sekaku itu. "
Gray kemudian menatap sebentar Brown dengan senyumannya sebentar lalu menyusul Arcane, sementara itu Brown kini tersenyum karena ia merasakan kalau kini selain mendapatkan tuan yang baik ia mendapatkan guru dan teman disaat yang sama.
Brown kemudian juga menyusul mereka dengan senyuman lembut dengan perasaan yang membebani hatinya telah hilang.
__________________________________________________________
mereka semua duduk di tempatnya masing-masing di dampingi pelayan mereka yang berdiri di belakang tempat yang telah di sediakan.
semua telah hadir kecuali satu orang tentu saja ia adalah Arcane, namun sepertinya mereka telah membahas beberapa hal terlebih dahulu untuk Blast dan Marina memang tidak datang karena mengurus hal lain.
"ayahanda apakah ini memang diperlukan? bukankah ia masih terlalu muda? "
Elias bersuara dengan lantang dan penuh percaya diri, dan dengan menggunakan pakaian dari gereja yang ia percaya membuat auratnya menjadi lebih pekat.
"tidak ini memang kehendakku"
kata James dengan lantang, namun di sisi lain beberapa orang telah menentang.
khususnya Jhonson, ia langsung menentang begitu James selesai bicara.
"tapi ayahanda ia masih terlalu muda dan bahkan baru melaksanakan upacara penobatan"
James tetap pada pendiriannya dan hanya menggelengkan kepala.
"aku telah melakukan perjanjian dengan Kerajaan Horn Hills, dan kami saling menyetujui"
selesai bicara raja kerajaan Horn Hills yaitu Albert Lunar menambahkan.
"itu benar kami telah sepakat"
namun Elias masih tidak terima dan ingin menyanggah.
"tap-"
"pangeran mohon tunggu, tolong ikuti prosedurnya apalagi mere-.... arch"
sebelum Elias selesai bicara ada suara keras dari luar yang mengganggu ruangan itu, lalu tak sampai menunggu lama pintu terbuka dengan kasar.
"brak... "
pintu ruangan itu memiliki 2 daun pintu yang masing-masing terbuka dan menampakkan Arcane yang telah menendang pintu itu dibelakangnya juga ada Gray dan Brown disamping itu pada lantai tempat Arcane berada sekitarnya ada beberapa prajurit dan pelayan pingsan.
semua orang memandang ke arah yang sama, mereka bertanya tanya dalam pikirannya tentang kelakuan Arcane karena saat ini ia tidak mencerminkan seorang bangsawan sama sekali.
lalu dengan wajah datar namun nada yang sangat santai ia berkata.
"apa? tidak pernah melihat pelayan yang pingsan karena melawan perintah seorang pangeran sebelumnya?.
apakah aku harus membunuhnya?"