Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 65


pada sebuah ruangan istana yang terdapat banyak senjata dan samsak berlatih suara seseorang terdengar dengan keras meninju samsak yang di gantung.


ketika ia sedang fokus pintu masuk ruangan itu terbuka dan ada suara yang menyusul.


"kakak John kau selalu memiliki kebiasaan seperti ini, apakah kau tidak terlalu mengedepankan ototmu daripada otakmu?"


orang yang sedang berlatih adalah Johnson, selesai bertarung ia selalu melakukan latihan asal bagian tubuhnya bisa bergerak ia akan selalu melakukannya.


Johnson melirik dan menemukan ibunya ratu Maria, dan kedua adiknya Eliana dan Adam, setelah itu ia membalas.


"bukannya itu urusanmu dan Eliana...


aku hanya harus menghancurkan penghalang dan maju kedepan dan kalian adalah bagian di balik layar"


Maria kemudian maju dan berdiri di samping Johnson.


"itu memang rencananya namun jika kau tidak bisa bersikap licik atau tenang maka pangeran mahkota akan di turunkan kepada adikmu... atau yang lebih buruk Elias"


ketika mendengar perkataan ibunya Johnson langsung memukul samsak itu sekuat tenaga hingga samsak itu terlepas dari gantungan nya.


Johnson kemudian menatap ibunya kemudian dengan santai ia berkata sambil melirik kedua adiknya sesaat.


"apakah mereka berani?.....


santai saja jika Elias berhasil menjadi pangeran mahkota tinggal kita rebut saja"


Maria terasa tidak Terima dengan perkataan Johnson ketika ia ingin berbicara kembali Johnson berbalik dan berjalan menuju Eliana


"Eli sebaiknya kau cari kembali beberapa assasin atau pencuri karena orang yang kau berikan tidak bisa melakukan tugasnya dengan benar"


setelah mengatakan itu Johnson pergi meninggalkan ruangan itu, Eliana disana hanya bisa termenung karena perkataan kakaknya.


disisi lain samsak yang terjatuh tersebut perlahan-lahan merembes dengan cairan kental berwarna merah, beberapa waktu kemudian aroma darah tercium di ruangan itu.


tanpa di buka semuanya tau apa yang ada di dalam kantung samsak itu, kemudian Maria mendekat ke Eliana dan bertanya.


"apa yang sedang kalian rencanakan? "


Eliana disana menggenggam tangannya dengan kesal dan menjawab.


"kakak yang merencanakannya ia ingin melakukan hal seperti dahulu....


namun sepertinya gagal apalagi kita kehilangan barang bukti"


Maria tau apa yang mereka ingin lakukan lalu kemudian ia memegang pundak Eliana.


"sudahlah yang penting tidak ada petunjuk yang mengarah kepada kita.


namun kali ini kumpulkan orang yang lebih kompeten dan naikkan tingkat kesulitan yang ingin bergabung.


sementara Adam tetap pantau mereka yang menghalangi"


Adam dan Eliana disana hanya mengangguk kemudian mengikuti Maria pergi dari ruangan tersebut.


__________________________________________________________


disisi lain istana Elias sedang melakukan semacam ritual ibadah dengan Pendeta yang bersamanya, dibelakangnya juga ada Frost dan ratu Lina menghadap ke sebuah patung.


beberapa saat kemudian mereka selesai dan langsung berdiri dan meminta berkat dari pendeta itu.


"semoga dewa melindungi kalian"


setelah serangkaian upacara selesai mereka kemudian membahas tentang hilangnya salah satu pendeta.


"pendeta apa masih belum ada kabar? "


pendeta itu menoleh dan mendapati kalau Frost yang berbicara, ia pun menjawab dengan santai.


"masih belum, dan entah kenapa perasaan ku tidak enak"


mengetahui hal itu Elias langsung menimpali.


"kurasa kita harus kembali ke gereja untuk mencari informasi lebih lanjut"


pendeta itu menoleh ke Elias dan mengusap Kepala nya.


"ide bagus, memang kita akan segera pergi meninggalkan istana ini.


dan pangeran Frost kau juga bersiaplah karena kau juga akan menjadi bagian dari gereja"


Frost tersenyum kemudian membungkuk.


"baik pendeta"


ratu Lina bahagia mendengar hal itu juga tersenyum dan ikut membungkuk, namun tanpa di sadari pendeta itu tersenyum misterius kepada mereka.


__________________________________________________________


Elisabeth menampar pipi raja James disana juga ada Selena yang tengah marah pada ayahnya.


raja James disana hanya diam dan menatap tajam Elisabeth dan berkata dengan tegas.


"itu keinginannya sendiri"


setelah berkata seperti itu James langsung melewati mereka berdua dan ingin meninggalkan ruangan itu namun ia ditahan oleh Selena.


"ayah sebaiknya ayah merubah hukuman kakak Arcane, dan jangan mengeksekusinya Gray dan Brown"


James berhenti namun dengan membelakangi Selena ia berkata dengan sedikit bingung.


"kakak? sepertinya kau telah menganggap sampah itu sebagai kakak.


dan sejak kapan kau bergaul dengan mahluk kotor itu"


Selena dengan marah ia berteriak keras.


"kakak bukan seorang sampah!!! nyatanya ia adalah berlian yang diabaikan.


Satu-satunya kakak Arcane bisa mengendalikan emosinya adalah karena Gray dan Brown, jika tidak karena mereka kakak bahkan akan melawan ayah hingga titik darah penghabisan!! "


raja James semakin bingung dengan perkataan Selena dan juga Elisabeth termasuk di dalamnya, raja James kemudian berbalik dan bertanya kepada Selena.


"darimana kau bisa menyimpulkan itu, si sampah pengecut yg hanya bisa bersembunyi di antara kedua kaki orangtuanya"


Selena kemudian berkata dengan tegas.


"karena hanya dengan mereka kakak bisa menjadi dirinya sendiri, meski dibatasi oleh tuan dan hamba namun kakak masih bisa melakukan sesuatu dengan bebas tanpa di kekang oleh kalian!!!.... "


mendengar perkataan Selena yang tidak sopan Elisabeth mulai menegur.


"Selena jangan bertindak tidak sopan!! "


Selena yang di tegur ia marah kemudian meninggalkan mereka berdua, namun ketika ia akan keluar Selena berteriak.


"Ibu sebenarnya membela siapa!? jika kau berpihak kepada kakak kenapa kau tidak membelanya saat di hadapan semua orang?! apakah karena menjaga reputasi seorang ratu!?.


dan ayah apa salahnya seorang anak meminta perlindungan kepada orangtuanya!"


setelah Selena pergi dengan menutup pintu dengan keras Elisabeth merasakan dadanya terasa sakit, karena mendengar perkataan Selena yang terakhir ia merasa kalau Arcane hanya butuh seseorang yang bisa di andalkan namun kondisi memaksanya untuk membangun benteng untuk dirinya sendiri.


Elisabeth kemudian berdiri tegak dan berjalan ke pintu keluar, ketika menyalip raja James ia berkata beberapa hal.


"kau selalu memperlakukan para pangeran dan putri mu sebagai seorang raja sekaligus ayah.


namun kenapa kepada Arcane kau bersikap seperti seorang raja?"


Elisabeth pergi meninggalkan raja James yang sediri, beberapa saat kemudian ia keluar dari ruangan itu.


__________________________________________________________


di bagian lain istana kerajaan dua orang laki-laki paruh baya dan seorang anak perempuan sedang berhadapan dan berbicara serius.


"Jadi bagaimana dengan pangeran itu? "


ia tak lain adalah raja Albert, dimana ia mulai meragukan keputusannya dan ingin menikahkan anaknya dangan pangeran lain, dan yang di depannya tak lain adalah putri Luna.


"siapa? pangeran Arcane? "


tanya Luna memastikan.


"siapa lagi? setidaknya ia adalah boneka yang cukup penurut"


kata raja Albert santai.


Luna yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya dan berkata dengan keraguan.


"entah ayah, karena semakin aku berusaha mengenalnya semakin misterius dirinya.


aku merasa kalau ia bukan hanaya boneka biasa melainkan boneka pembunuh terkutuk"


James bingung dengan perkataan anaknya pasalnya meskipun kedengarannya meragukan namun jika di cerna lebih dalam Luna lebih ragu akan penilaiannya sendiri.


kemudian tak ambil pusing raja James berkata dengan santai.


"kalau begitu aku serahkan kepadamu, yang pasti aku ingin kedua kerajaan harus bekerjasama.


aku tidak peduli bagaimana caranya"


setelah berkata seperti itu James berdiri dan meninggalkan Luna sendirian disana.