Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 29


"tua bangka, jika kau ingin membunuhku lakukan sekarang.


jika kau ingin membuang ku lakukan secepatnya.


namun jika kau membiarkan aku aku pastikan kau akan mati dengan cara paling tidak nyaman"


mulut arcane keluar darah hingga beberapa kali.


mereka semua menghiraukan perkataannya dan berusaha mencapai posisi arcane, sementara blast malah tersulut emosi.


"dasar bedebah"


blast kini ingin memukul arcane sekali lagi namun.


"plak"


suara tamparan mengagetkan mereka semua dan berhenti melakukan kegiatan kecuali gray dan brown.


mereka bisa melihat kalau marina telah menampar blast dengan kekuatan penuhnya karena aura pertempurannya muncul.


blast menoleh dan berkata.


"kenapa kau menghentikan ku"


marina marah dan berteriak.


"apa kau sudah gila!?.


lihat perbuatan mu, aku menyuruhmu melatihnya bukan membunuhnya"


"huh itu pantas karena ia telah bertindak tidak hormat dan menghina diriku"


selesai berkata seperti itu marina menggeleng kepalanya dan tatapan matanya kini tampak perasaan kecewa.


"kau.... hanya karena itu kau berani membunuh cucumu sendiri!!! "


"tentu"


tanpa penyesalan blas menjawab singkat, marina tidak percaya kalau blast benar-benar berkata seperti itu.


ketika mereka berdebat Elisabeth datang dan membantu menyelamatkan arcane, Elisabeth tidak ragu untuk menggunakan kekuatannya dan mencapai tempat arcane.


ketika sampai arcane melihat Elisabeth dengan tatapan yang sama.


"maaf ibu, sepertinya rencana pembunuhan mu tidak berhasil"


Elisabeth dengan mata berkaca-kaca berkata.


"arcane ibu tidak-"


arcane memotong perkataan ibunya dan berkata dengan sedikit berteriak.


"sudahlah, jangan ada drama lagi, cukup sudah, aku muak dengan semua ini!!! "


seketika itu gelombang angin yang bersumber dari arcane menerbangkan semua puing-puing mansion itu, angin itu terasa sangat berbeda karena beberapa orang dan benda sedikit tergores dan tersayat.


_______________________________________________________


"dia benar-benar tidak tau batasan! "


blast berbicara dengan marah dan tegas di ruang pertemuan.


Elisabeth dan marina menatap blast dengan tatapan marah, saat ini mereka sedang berbicara mengenai tindakan blast yang terlalu impulsif.


"apa maksudmu! kali lah yang tidak tau batasan"


Marina membalas.


"aku? dialah yang keterlaluan karena berani menghinaku!! "


blast memberi alasan.


"namun apakah itu tidak berlebihan ayah? apakah wajar Berlatih hingga membuat seluruh tubuhnya.........hancur? "


Elisabeth dengan mata sedu karena terus teringat oleh kondisi tubuh arcane.


"huh.... anak itu tidak berbakat.


di usia 7 tahun dia di pukuli sekelompok wanita, dan memutuskan tidak mau berlatih namun terus berbuat ulah, sekarang ia ingin berlatih?.


eli kau terlalu memanjakannya"


kata blast dengan nada meremehkan.


"huh.... apakah anda juga sekuat ini ketika berumur 7 tahun dan menghadapi beberapa kelompok tingkat hijau..."


kata Elisabeth dengan marah.


blast kini menatap Elisabeth dengan serius dan ingin mengucapkan beberapa hal, namun Elisabeth memotongnya.


"aku menyelidiki saat ia 7 tahun ia di keroyok segerombolan wanita, namun mereka semua dari dunia bawah, anda pasti tau kan cara kerja mereka.


dan kita malah mengacuhkannya dan malah menyalahkannya atas beberapa tuduhan palsu."


blast terkejut pasalnya ia adalah orang yang paling tau tentang dunia bawah dan kemudian Elisabeth berkata lagi.


"arcane juga berlatih sendiri, setiap hari ketika ia sembuh dari luka saat terjatuh dari tangga.


dan asal ayah perlu tau kalau arcane belajar sendiri dan tidak pernah meminta saya untuk melatihnya"


blast terkejut namun tidak mempercayainya, atau lebih tepatnya ia tidak mau menerima kenyataan ini.


jika itu berarti ada seseorang yang menginginkan perpecahan di dalam keluarga kerajaan dan melihat arcane yang gagal mereka akan menempatkan orang lain.


namun sepertinya arcane adalah seorang jenius jika orang luar tau maka bisa di pastikan kalau rencana untuk menggulingkan keluarga kerajaan akan terlaksana.


dalam hati blast ia kini menyesali perbuatannya


'hah..... apa yang telah aku lakukan? "