
arcane kembali ke dalam kesadarannya kemudian ia masuk ke kamar mandi dan menjernihkan pikirannya.
"hah.... mungkin cuma ilusi"
arcane kemudian keluar dan menyuruh pelayanan untuk memberi tahu gray, brown, dan selena untuk bersiap karena hari ini ia akan pergi keluar.
di siang hari arcane menunggu di pintu belakang seperti biasanya dengan memakai jubah yang seperti biasanya.
beberapa saat kemudian 3 orang muncul dan tentunya mereka adalah brown, gray dan selena.
ketika mereka berkumpul arcane tersenyum dan berkata.
"baik ayo berangkat "
__________________________________________________________
mereka bertiga berjalan santai di antara para penduduk dan tentu saja tidak ada yang mengetahui identitas asli mereka.
dari keempat orang itu selena adalah yang paling gembira, pasalnya ia berlarian ke sana kemari tanpa henti, ia juga sesekali berinteraksi dengan anak sebayanya.
arcane baru sadar kalau adiknya itu di kekang untuk dewasa, mungkin karena dirinya yang tidak bisa diandalkan hingga membuat seorang anak sekitar 10 tahun harus di paksa dewasa.
'ngomong-ngomong pada umur berapa ya seseorang di anggap dewasa pada jaman ini?'
kata arcane dalam hati.
arcane melihat adiknya senang tanpa sadar ia tersenyum tipis, arcane kemudian menghampiri selena dan mengatakan sesuatu.
"selena aku memiliki beberapa hal yang harus di urus, jadi kau ikut aku atau kau ingin bermain dengan brown dan gray lebih lama di sini"
selena berfikir sesaat kemudian berkata dengan riang.
"aku akan ikut kakak"
ekspresi kekanak-kanakan membuat arcane terasa nyaman, ia refleks memegang tangan adiknya seperti seorang kakak yang selalu ada melindungi dan menjaga adiknya.
arcane berjalan ke tempat pemukiman kumuh.
ya, arcane kini menuju ke tempat Gavin meski masih ada jangka waktu 3-4 hari namun arcane memerlukan beberapa bahan untuk projek berikutnya.
ketika sampai ia mendapati kalau tempat itu sedang di bersihkan dan di tata oleh 15 orang dengan tampang preman.
selena melihat itu menjadi waspada, namun pundaknya di tepuk arcane ketika selena menatapnya arcane memberi isyarat kalau ia mengenal mereka.
ketika ada seseorang yang melihat arcane ia berteriak.
"hei bos besar datang!!! "
seketika itu juga mereka menghentikan pekerjaannya dan mendatangi arcane dan memberi hormat kepada arcane denagn menundukkan badan mereka hingga membentuk sudut 90 derajat.
arcane melihat itu tersenyum dan berkata.
"apakah Gavin ada? "
salah satu dari mereka langsung menjawab tanpa merubah posisinya.
"ada bos ia ada di dalam"
arcane mengangguk dan menjawab.
"baik trimakasih, lanjutkan pekerjaan kalian"
keempat orang itu melewati mereka dan masuk kedalam toko, kemudian tanpa di ketahui keempat orang itu mereka langsung Bergerumul membentuk lingkaran.
salah satu orang memulai percakapan.
"apakah aku salah dengar? "
"mungkin ia atau mungkin tidak, apakah ini mimpi? "
setelah berkata seseorang langsung mencubit pipinya hingga memerah.
"au.... sakit tau"
"berarti ini bukan mimpi, dan apa kalian mendengar perkataan bis barusan? "
"ia"
"benar"
"aku rasa begitu"
mereka semua mengacu pada inti yang sama yaitu perkataan terakhir arcane yaitu "terimakasih", sepanjang hidup mereka tidak pernah sekalipun mereka mendengar perkataan seperti itu karena pekerjaan remeh.
beberapa bahkan tidak pernah mengalami seseorang mengatakan kata-kata seperti itu apalagi dari kaum kelas tinggi seperti arcane.
mereka mengetahui kekuatan arcane dari kesaksian thin, dan cerita dari one eye dan Jack.
mendengar saja mereka tau kalau arcane pasti dari keluarga yang tidak bisa di remehkan dan ia mengucapkan kata-kata seperti itu pada orang rendahan seperti mereka.
kejadian ini membuat perasaan tersendiri di tiap hati mereka, namun pikiran mereka satu.
'bangsawan yang biasanya arogan menganggap semua orang setara'