
Arcane diam 1000 bahasa entah kenapa ia tidak bisa berkata apapun, sesaat kemudian Jones datang.
"halo.... eh... ada apa ini? "
Elisabeth disana langsung menoleh dan menggelengkan kepala.
"tidak apapa, hanya 2 anak kecil yang sepertinya tersesat"
"kami tidak tersesat!! kami masuk dengan uang kami sendiri"
timpal Ghor.
Arcane di sana langsung ingin meninju Ghor yang asal bicara, ia juga sebenarnya tidak ingin bertemu dengan mereka secepat ini.
Jones kini menatap Arcane dan Ghor meskipun terlihat biasa saja namun jika di perhatikan tatapan matanya sangat tajam seperti elang, dan bisa di lihat kalau ia sedang menilai mereka berdua.
setelah itu ia akhirnya menepuk pundak Arcane dan berkata.
"yah kalau begitu bagaimana kalian ikut kami, kami memiliki kursi VIP yang luas dan 2 kursi tambahan.
jika hanya kami bertiga itu pasti membosankan"
Arcane diam sesaat dan bingung menjawab namun Ghor langsung membalas.
"haha.... jika anda memaksa maka kami bisa apa?..... "
Ghor mendekati Arcane dan memukul tangannya.
"apa yang kita tunggu, sudah ada undangan untuk duduk di kursi VIP apa harus kita tolak? "
"cih...dasar kau! "
decak kesal Arcane.
mereka akhirnya menuju kursi VIP berbeda dengan kursi biasa dimana seperti kursi yang di tata rapi dan di beri bantalan, kursi VIP berada di ruangan terpisah dan berada di lantai 2 dimana pemilik bisa melihat dengan bebas disana juga di lengkapi meja dengan sebuah tombol yang berfungi sebagai menawar harga.
ketika mereka berada di sana pelelangan belum di mulai dan arcane langsung melihat sekelilingnya, tidak seperti Ghor yang langsung menyambar buah yang tersedia di meja.
Elisabeth mendekati Arcane dan bertanya.
"darimana asalmu? "
Arcane tanpa menoleh langsung menjawab.
"dari rahim seorang wanita"
Elisabeth stagnan dan baru kali ini mendengar jawaban seperti itu.
"maksud ku darimana asalmu? "
"maaf jika menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
tapi jika kau lahir dari sebuah tempat namun kamu di besarkan di tempat yang berbeda maka aku berasal dari mana? "
Elisabeth tersenyum dan menggelengkan kepala.
"kau mirip anakku yang di culik"
Arcane menoleh dan kemudian berkata.
"di culik? bagaimana bisa? "
Elisabeth hanya mendesah pelan ia pun bercerita tentang apa yang terjadi di ibukota dari pandangannya awalnya ia berfikir kalau Arcane berkomplot namun fakta menunjukkan kalau ia di culik.
dari awal pangeran ke 3 memang sedikit misterius dan tersembunyi, bahkan dari informan yang di sebar oleh orang-orang Elisabeth para rakyat hanya mendapat berita dari mulut ke mulut tanpa ada satupun bukti.
menepis hal itu Selena tiba-tiba langsung menimpali.
"ibunda sudah aku bilang kakak tidak selemah itu untuk di culik!! "
Elisabeth hanya tersenyum keada selena dan mengelus kepalanya entah mengapa pandangan Selena juga ikut berubah dan semakin riang.
Arcane tidak memperdulikan hal itu dan menunggu dengan berdiri, dan setelah beberapa saat pelelangan pun di mulai.
"hadirin sekalian acara yang kalian tunggu-tunggu akan di mulai, mohon dengan tertib mengikuti peraturan yang ada"
sorang pembawa acara wanita muda dengan pakaian seksi memasuki panggung.
suara wanita itu sangat keras karena di lehernya terdapat sebuah pita yang bisa membuat suaranya menjadi lebih keras, sementara itu beberapa tamu juga mulai merapat dan duduk di kursi mereka masing-masing.
setelah semuanya terisi sang wanita pembawa acara langsung memberi peraturan lelang yang dimana lelang akan di lakukan dalam 3 babak yaitu:
pembuka
pertengahan
penutup
dalam 3 tahap itu juga setiap barang di jual dengan kwalitas dan kondisi yang berbeda, dimana tahap 1 adalah barang umum dengan kualitas tinggi atau barang lelang yang lama tidak terjual.
tahap 1 adalah barang-barang superior dalam kelasnya, sementara itu barang kelas 3 adalah barang langka dalam pelaksanaannya kebanyakan barang yang di jual di tahap ini adalah barang Jadi ataupun budak.
"baik tanpa basa-basi mari kita mulai! "