Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 79


Sebastian menatap Arcane dengan sinis ia kemudian menekan dinding dan membuka sebuah pintu rahasia, dengan nada meremehkan ia berkata.


"baru sampai di sini kau ingin memiliki tempat ini? sungguh arogan"


Sebastian masuk kedalam pintu rahasia itu namun Arcane menjawab dengan yakin.


"untuk mewujudkan rencana ku aku harus melakukan apapun, selamban apapun prosesnya jika hasilnya memuaskan aku akan menjalaninya dengan senang hati.


namun jika ada sesuatu yang bisa mempercepat prosesnya dan merubah prosesnya kearah yang lebih baik atau tidak berubah maka aku akan mengambilnya tanpa ragu"


Sebastian berbalik dan kini melihat tatapan tajam Arcane, ia kemudian membalas.


"mata itu kau bukan undead, dan kata itu...


baik, kau bisa mencobanya, ikuti aku"


"kau baru menyadarinya? " tanya Arcane.


Arcane memasuki pintu rahasia itu dan ternyata masih ada lorong lain yang serupa namun bedanya ada beberapa percabangan di lorong itu.


setelah beberapa saat melewati potongan lorong sampailah mereka pada sebuah lorong yang mulia membesar dan di ujungnya terdapat sebuah pintu yang sangat besar.


Arcane tau kalau pintu dari sudut seni dan ke estetika dapat di bilang sangat mewah dan Arcane baru menyadari kalau seluruh lorong dan pintu ini sangat bersih.


"seluruh tempat ini aku yang merawatnya mulai membersihkan sampai memperbaikinya" kata Sebastian yang berjalan menuju pintu itu.


kemudian ia mengeluarkan sebuah pedang entah darimana, karena ia mengeluarkannya dari kekosongan di udara dan menghunus pedang itu kearah Arcane.


"ada ujian di tempat ini yang harus kau lewati jika ingin memiliki tempat ini... " kata Sebastian yang bersamaan dengan itu muncul siluet kesatria dari belakang Sebastian.


semua kesatria itu memiliki senjata yang beragam, mereka berbaris dan bersiap menyerang, sementara Arcane menancapkan pedangnya dan kedua tangannya bertumpu di atas pedangnya.


Sebastian dan Arcane saling menatap tajam setelah beberapa saat Sebastian mengayunkan pedangnya, bersamaan dengan itu seluruh kesatria langsung berlari kearah Arcane.


semua kesatria berlari dan mengepung Arcane, setelah terkepung mereka maju bersamaan dan menyerang Arcane secara bersama-sama.


melihat itu Arcane hanya diam di posisi awal dan tidak bergeming, disisi lain Blue takut dan berteriak.


"tuan! menghindar..... tuan lari..... TUAN!!! "


namun Arcane masih tetap pada posisinya, ketika semua senjata semakin mendekat Arcane berkata.


"kapan ujiannya dimulai? "


"deg.... slingg..... "


begitu senjata pertama yang berupa sebuah tombak mengenai jantung Arcane, tombak itu menjadi debu emas yang bersinar begitupun kepada kesatria yang menggunakannya.


semua senjata yang mengenai Arcane menjadi debu emas yang terbang dan membentuk pusaran di atas kepala Arcane, Sebastian terkejut sesaat dan kemudian tertawa melihat fenomena itu.


ia kemudian berkata.


"sudah selesai kau lulus dari ujianku"


Arcane memiringkan Kepalanya, namun seketika itu juga cahaya emas itu menuju Sebastian dan berputar di sekelilingnya, semakin lama semakin menebal dan setelah beberapa saat debu itu menyebar dan menunjukkan Sebastian yang memakai pakaian pelayan berlutut di hadapan Arcane.


"sebelum hamba berkata bagaimana anda mengetahui kalau mereka palsu? " kata Sebastian.


Arcane menjawab singkat.


"mereka kesatria, jika mereka asli seorang kesatria akan maju dan menungguku untuk bersiap melakukan duel secara jujur dan adil"


Sebastian tersenyum dan memberikan penghormatan kepada Arcane.


"Arcane Fortis pangeran ketiga dari Kerajaan Mountain Kingdom.


hamba memberikan kesetiaan mutlak kepada anda"


Arcane hanya menghela nafas kemudian debu emas itu perlahan menuju kearah Arcane dan masuk kedalam tubuhnya, meskipun Arcane tidak merasakan apapun selama prosesnya tapi seluruh tata letak bangunan itu bisa ia ketahui.


Arcane kaget namun Sebastian menjelaskan terlebih dahulu.


"jika anda ingin menguasai bangunan ini maka anda harus melewati berbagai ujian dari penghuninya, termasuk hamba dan anda telah lolos dan mendapatkan pengetahuan tentang seluruh bangunan ini.


.


.


"baik berdirilah... " Arcane mengangguk dan melihat Sebastian.


"tuan... anda selamat.... " kata Blue yang tiba-tiba berteriak di samping Arcane.


Arcane melihat Blue meskipun suaranya datar namun Arcane bisa tau kalau ia khawatir, Arcane mengelus Blue dan berkata.


"maaf membuat mu khawatir"


kemudian Arcane melihat Sebastian dan setelah diperhatikan lebih dekat ternyata Sebastian memiliki perubahan dalam bentuk fisiknya yang dimana kulitnya meskipun masih pucat namun sudah sama seperti manusia pada umumnya.


Arcane mengangguk dan melewati Sebastian, ia kemudian membuka ruangan didepannya yang dimana ruangan itu adalah ruangan tahta kerajaan.


di ruangan itu terdapat bendera kerajaan yang telah robek dan hancur ruangan yang sangat berantakan seperti kapal pecah, kemudian di depan ruangan itu ada sebuah singgasana yang sudah usang.


singgasana yang sebenarnya sangat megah di singgasana itu juga terdapat patung batu yang sedang mendudukinya, ketika Arcane mendekat dan menyentuh patung batu itu seketika langsung runtuh menjadi bongkahan batu biasa.


Arcane bingung kemudian singgasana itu bercahaya redup dan dari kekosongan muncul perkamen kerajaan dan tertulis.


[siapapun bisa duduk di singgasana namun, hanya sedikit orang yang mampu menanggung beban yang diberikan singgasana.


siapapun bisa menjadi raja namun, sedikit orang yang bisa memimpikan secara baik.


siapapun bisa menguasai namun, hanya sedikit yang berani melewati jalan yang terjal


jika kau bersedia tumpahkan darah pengorbanan dan jiwa yang dipercaya sebagai bentuk persembahan.


jika ingin memiliki kekuasaan seorang raja kau harus mendapatkan jiwa raja sebelumnya kedalam genggamanmu]


"pengorbanan, persembahan, sumpah, dan Pembunuhan Ya? " kata Arcane yang sedang mencerna setiap kata yang ada.


Sebastian yang dari tadi ikut mendampingi Arcane ia kemudian membungkuk dan berkata.


"tuan jika kau memerlukan darah dan jiwa hamba siap memberikan jiwa hamba supaya anda bisa mengambil kepemilikan tempat ini"


Arcane melihat Sebastian dan tertawa kecil ia kemudian menjawab.


"yah itu bisa di lakukan ketika kita berada dalam kondisi yang berbeda.... "


Arcane mengeluarkan pedang dari sarungnya ia kemudian mendekat kearah singgasana itu dan melihat Blue.


"Blue apakah kau keberatan? "


Blue diam sebentar lalu menjawab.


"sesuai yang tuan inginkan"


Arcane tanpa ragu langsung menyayat tangannya dan membiarkan darah merembes dan menetes keadaan perkamen itu.


"tuan anda-" kata Sebastian yang khawatir.


namun sebelum Sebastian menyelesaikan perkataannya Arcane langsung dengan tangan yang terluka itu ia meraih Blue menggenggam dan berkata.


"sekarang aku ingin mendengar sumpah darimu yang menyatakan kalau kau bersedia menganggap aku sebagai tuan bersumpah lah atas nama jiwamu"


Blue tanpa ragu langsung bersumpah, dari awal Arcane lah yang menciptakan Blue Jadi sekalipun di gunakan untuk tumbal ia tidak akan ragu sedikitpun.


"hamba bersumpah dengan jiwaku sendiri, aku Blue Bird bersumpah untuk memilih Arcane Fortis sebagai tuan hamba"


Arcane tersenyum dan kemudian berkata.


"apakah kau yakin bersumpah dengan jiwa mu sendiri? "


"yakin sepenuhnya" jawab blue.


seketika seluruh ruangan menjadi bercahaya menyilaukan, lalu beberapa saat kemudian ruangan yang sebelumnya seperti kapal pecah kini menjadi ruangan mewah dan elegan.


Sebastian menatap sekeliling kagum, ia kemudian menatap Arcane dengan senyumannya yang lebar, Arcane berbalik ia kemudian menganggukkan kepalanya.


lalu didalam diri Arcane ia bisa merasakan kalau ia kini sudah menguasai tempat ini dan menjadi pemiliknya.