Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 81


Elias dan Frost berjalan dengan cepat menuju tempat Arcane di hukum, mereka menunggang kuda dengan kecepatan penuh.


ketika sampai memasuki istana mereka langsung melompat dan berjalan menuju menara yang di gunakan mengurung Arcane.


mereka langsung menaiki dan begitu didepan ruangan kamar Frost langsung menendang pintu dan berteriak.


"Arcane sebaiknya kau mengatakan apa yang ingin kami dengar"


begitu masuk Frost langsung melihat kalau Arcane yang duduk di pinggir kasur dengan mata mengantuk dan di depannya ada Adam dan Eliana.


Frost dan Elias menjadi muram dan gelap di wajah mereka, Adam juga langsung berkata dengan nada tinggi.


"apa yang kalian inginkan di sini!? "


Elias langsung menjawab.


"pertanyaan itu juga berlaku pada kalian! "


Eliana maju beberapa langkah kemudian berkata.


"sebaiknya kalian pergi, dan apapun yg kalian inginkan kalian harus menunggu kami lebih dulu"


"atas dasar apa kau memerintah kami" ketus Adam.


Eliana semakin geram tanpa sadar ia mengeluarkan aura pertempurannya yang berwarna kuning, mengetahuinya Eliana bersiap Elias dan Frost juga mempersiapkan diri.


"kalian kenapa ribut sekali? " Tiba-tiba suara Arcane terdengar dan menghentikan mereka.


semua orang kini memandang Arcane, Arcane yang sadar kalau ia menjadi pusat perhatian memasang wajah bingung dan berkata.


"apa? "


Adam yang sedari tadi kesal kini ia langsung melemparkan sebuah balok batu yang lumayan besar dan langsung mengarah ke Arcane.


Arcane tanpa perlawanan terkena dan langsung terdorong hingga ke tembok dan membuat retakan di sana, setelah itu Adam langsung menghampiri Arcane dan menarik kerah bajunya.


"kakak sedang terluka dan kau enak tidur disini.


bagaimana kau bisa hidup sesantai itu!? " kata Adam.


Eliana juga menghampiri Arcane dan berkata dengan nada merendahkan.


"hei sampah....


sekarang Jawab bagaimana kau tau informasi itu!?"


Arcane dengan gemetar menatap mereka berdua kemudian menjawab dengan ketakutan.


"ap-apa kakak Johnson terluka? bagaimana bisa? "


mendengar kata 'kakak Johnson' Adam semakin marah dan langsung melemparkan Arcane sampai ke sisi lain ruangan.


"jangan menganggap kakak ku sebagai kakak mu juga, kau bahkan tidak di anggap oleh ayahanda sebagai anak! "


Eliana hanya memandang Arcane kemudian berkata.


"katakan apa yang ingin kami dengar dan kau tidak perlu mengatakan omong kosong! "


ketika mereka ingin melanjutkan interogasi Frost langsung membuat es dari bawah Arcane dan membuatnya berdiri secara paksa lalu membekukan nya hingga tersisa kepalanya saja.


Frost kemudian maju di depan Arcane dan berkata.


"sepertinya kalian melupakan kami? meskipun kalian datang terlebih dahulu hormati yang tertua di sini Jadi kami dulu akan memulainya. "


Adam kini menjadi jengkel tanpa masa nasi ia langsung melemparkan beberapa bongkahan batu besar ke Frost namun semuanya bisa dihindari.


namun semua batu itu mengenai Arcane dan membuatnya mengalami beberapa luka meskipun ia kini bebas.


ketika mereka bertiga akan bertarung Elias langsung mengeluarkan sejumlah angin yang lumayan kencang.


"cukup!!! kita ambil jalan tengah saja karena tujuan kita kesini sama"


Eliana melirik Elias kemudian ia pun mengangguk.


"baik kalau begitu"


"cih" kata Adam yang kesal, sementara Frost tersenyum licik.


mereka kini memandang Arcane kembali sementara itu Arcane masih meringkuk kesakitan, seperti tanpa ampun Adam langsung menendang Arcane dan berteriak.


"cepat beritahu aku yakin kau tidak cukup bodoh untuk mengingat sebuah pertanyaan"


"ugh... apa!? apa yang ingin kalian ketahui? " kata Arcane dengan lemah.


Elias menggeleng dan berkata.


"huh aku tidak tau kalau kau sebodoh ini....


kami bertanya bagaimana kau tau kalau geng dari dunia bawah akan menyerang sebuah tempat judi"


"bicara saja, lagian kau juga tidak setara dengan kami! "


Arcane mau tidak mau bicara dengan posisi meringkuk di lantai dengan kepala di injak oleh Adam.


"aku tau dari seseorang yang bergosip tetang penyerangan itu, itu saja! "


Frost memiringkan kepalanya dan berkata.


"apa? hanya itu? "


"iya, aku tau ketika kemarin aku keluar merenung dan aku ingin berguna untuk ayahanda Jadi aku menceritakannya" lanjut penjelasan Arcane.


semua orang langsung menggelengkan kepala mereka dan mereka menduga kalau kesaksian Arcane pastinya hanyalah kebetulan semata.


Adam melepaskan Arcane namun Frost menendang wajah Arcane dan menghina.


"dasar sampah, sepertinya ratu Elizabeth adalah lacur yang di temukan ayahanda hingga melahirkan dia"


semua mengangguk Setuju dengan perkataan Frost namun beberapa detik kemudian sesuatu menyerangnya.


"nging... bruak.... wish... "


Frost terkena serangan dan langsung terlempar hingga menabrak tembok hingga hancur, semua orang melihat keadaan Frost setelah itu mereka mengalihkan pandangan mereka ke Arcane.


kini Arcane bangkit dengan aura kental berwarna merah menyala, wajah ketakutan kini di gantikan dengan tatapan datar dan senyuman mengerikan.


Arcane kemudian berkata dengan nada berat.


"ah sial kalian seperti melewati batasnya.


sudah puas kan kalian melakukan pemanasan sekarang giliran ku"


melihat itu mereka semua masih memandang remeh dan menduga kalau Frost diserang saat sedang lemah, kemudian Adam pun maju untuk menyerang Arcane.


"diam kau sampah, siapa yang menyuruhmu untuk bangkit dan mengancam kami!? "


kata Adam sambil melemparkan banyak bongkahan batu besar.


namun Arcane dengan santai menepis semua serangan tersebut dan berkata.


"lemah!.....


sekarang giliran ku! "


dengan santai Arcane mengulurkan tangannya dan langsung menyerang ketiganya dan ber nasip sama dengan Frost setelah melempar mereka Arcane langsung mengendalikan angin dan menekan tubuh mereka berempat dan mengangkatnya di udara.


keempat orang itu berusaha melepaskan diri namun sebanyak apapun mereka berusaha itu percuma bahkan setelah mengeluarkan aura mereka.


semuanya juga bingung bagaimana Arcane bisa mendapatkan kekuatan yang sangat mengerikan, dan di tengah keterkejutan itu Arcane berbicara.


"yah sebenarnya ini berada di luar perhitungan ku namun kalian telah menghina ibuku, meskipun aku bukanlah anak baik namun setidaknya aku harus menjaga nama baiknya"


kata Arcane yang santai dan sambil melihat pemandangan luar.


"kau! kau ber-hmp" ketika Adam ingin bicara seolah-olah udara menghilang dari sekiranya membuat dirinya tidak bisa bernafas ketika ia sadar Arcane telah mengulurkan tangannya kearah Adam sementara satunya di ulurkan ke arah luar.


"kau terlalu banyak bicara....


ingat tong kosong nyaring bunyinya" kata Arcane.


"kau terlalu sombong!!" kini Elias yang membalas.


"hadeh....tick" Arcane menjentikkan jarinya dan udara langsung menghilang dari sekitar mereka membuat mereka tidak bisa bernafas.


Arcane memandang mereka kemudian berkata.


"mulai sekarang jangan ganggu aku, jadilah pion baik dan tetap pada jalur atau.... "


tangan kanan Arcane di angkat dan bersamaan dengan itu seseorang dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuh melayang dan bernasib sama dengan mereka.


mata Elias melebar karena tau siapa orang itu, dan dengan tanda itu Arcane tau kalau Elias memiliki hubungan dengannya.


Arcane tersenyum dan menggenggam tangannya, seketika itu pula orang asing itu seperti di tekan oleh angin sekitarnya hingga menjadi tak berbentuk.


tak hanya itu Arcane juga memutilasi tubuhnya hingga potongan terkecil menggunakan pisau angin dan menyebarkannya.


kini kengerian terasa di tengkuk mereka berempat, dan Arcane tersenyum sambil melemparkan mereka keluar ruangan dan berkata.


"ingat jadilah pion yang berada di jalurnya"


mereka langsung lari dan meninggalkan Arcane sendirian di menara itu, ia kemudian berbalik menatap keluar cendela dan berkata.


"bagaimana? kau mendapatkannya? "


"sempurna tuan" kata bola biru yang tiba-tiba muncul.