
Blast dan James terkejut sekaligus keheranan dengan tingkah Arcane, pasalnya mereka sekalipun tidak pernah melihat Arcane yang sangat liat dan gila.
ketika itu Blast berkata dengan rendah.
"kegilaan keluarga Fortis"
Blast semakin menggenggam tangannya hingga berdarah, disisi lain James mendengar perkataan Blast dan bertanya.
"maaf lancang namun apa itu kegilaan keluarga Fortis? "
Blast menoleh sebentar dan kembali memandang Arcane yang sedang bertarung.
"itu adalah kondisi dimana salah satu generasi keluarga kita diberkahi seorang jenius dalam salah satu hal, namun kejeniusan itu diiringi kegilaan yang mana jika tertarik akan sesuatu hal ia akan menjadi gila.
meskipun itu aneh namun kegilaan itu akan menuntunnya untuk mencapai puncak keahlian yang dimiliki.
sebagai contoh jika ia jenius dalam hal membuat kekacauan bisa jadi ketika ia menjadi kondisi ini bisa Jadi dimasa depan ketika ia berada di medan perang, hanya dengan 1 perintahnya ia bisa membuat kekacauan yang luar biasa"
James kaget dan ia kembali bertanya.
"lalu apakah sebelumnya ada pertanda jika ia mengalami kegilaan? "
tanpa menoleh Blast berkata.
"tidak ada yang tau pasti"
James mengangguk dan kemudian berjalan ke Arcane.
"kalau begitu ia harus di hentikan bukan? jika seperti itu terus ia akan mati"
"lebih baik jangan ikut campur atau kepalamu akan lepas"
sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakang James dan Blast, seketika mereka berbalik dan mendapati seseorang yang berpakaian sederhana namun cukup elegan dengan perawakan mirip seperti Blast hanya janggutnya lebih panjang dan tidak terawat.
"ka-kau!!.... bagaimana bisa!? " mata Blast terbuka lebar melihat perawakan orang itu, tanpa sadar ia pun bergetar.
sementara itu James semakin waspada karena ia hanya ingat kalau orang yang di depannya adalah salah satu narapidana yang ada di penjara.
"kau tau adik kecil kalau penjara itu tidak lebih seperti taman bunga bagiku"
"adik? Jangan-jangan-" James kaget dengan perkataan orang itu ia buru-buru menatap Blast.
"kakak Blark apa yang kau lakukan di sini!?"
sudah terkonfirmasi oleh Blast kalau orang di depannya adalah kakaknya, sementara itu Blark berjalan santai hingga melewati mereka.
"hanya melihat salah satu keturunan yang menjanjikan, hahahaha..... "
Blast kini semakin kesal dan ia mulai menaikkan nadanya.
"apa magsudmu!? jika di biarkan ia bisa menggulingkan kerajaan ini!? "
Blark hanya tersenyum dan menjawab.
"itu salah kalian sendiri!!!
kau tidak pernah belajar dari masa lalu Blast, jangan salahkan anak itu dan biarkan ia bebas"
James mendengar pembicaraan itu tak bisa menahan untuk mengikuti audiensi.
"apa maksud anda salah kami!?
dialah yang selalu membuat onar dan kami hanya menghukum saja, anda yang selalu mendekam di penjara karena penyakit gila tidak berhak mengkritik"
"DIAM!! " sambil menoleh ke arah James, Blark mengeluarkan aura intimidasi dan matanya kini keluar aura emas.
melihat itu James dan Blast menjadi gemetar dan waspada.
"karena mendiang ayahanda aku bersedia di kurung dalam penjara itu.
dan meskipun hanya adikku dan istrinya yang menjenguk ku bukan berarti aku tidak tau setiap kejadian yang terjadi di kerajaan ini"
Blast maju dan memegang pundak Blark untuk menenangkan nya.
"kakak jangan mengeluarkan mata emas mu, kau sudah berjanji"
Blark menutup matanya dan kini memperhatikan Arcane yang sedang bertarung, ia juga dengan fokus memperhatikan setiap gerakan Arcane.
"James, aku telah melihat kalau semua anakmu ditakdirkan menjadi seseorang yang hebat.
namun kehebatan mereka terlalu tinggi, dimasa depan jangan halangi mereka jika saling bentrok"