
"jadi bagaimana dengan anak itu ayahanda"
"apa yang bagaimana? abaikan saja dia, aku tidak percaya kalau dia bisa berubah"
"tapi suamiku aku yakin kalau ia memiliki alasan tersendiri melakukan itu.
bagaimanapun ia adalah seorang anak kecil, kita telah terlalu lama memalingkan wajah terhadapnya"
saat ini 3 orang berada di sebuah ruangan kerja raja tak lain adalah jhon, blast dan marina mereka sedang membahas tentang arcane.
arcane memang tetap di abaikan pada malam itu, namun neneknya tidak ia terus berdebat dengan suaminya karena ia adalah seorang penyihir dan arcane bisa mengendalikan sihirnya dengan bebas di usia semuda ini bisa jadi masa depan arcane akan lebih menjanjikan.
namun blast adalah seorang kesatria yang lebih mengutamakan kekuatan tubuh, meski menggunakan sihir dalam pertempuran namun mereka biasanya menggunakan mana untuk melatih sihir pertempuran yang berfokus pada tehnik jadi ia tidak mengerti tentang pentingnya kontrol sihir begitu juga dengan jhon.
awalnya hanya perdebatan marina dan blast namun karena ini menyangkut dengan arcane mereka tidak melibatkan jhon yang dimana ia adalah ayahnya.
jhon menghela nafas karena ia bingung.
"awalnya aku ingin mengasingkan dia..... "
mendengar itu marina tentu saja marah besar kepada jhon.
"jhon!! apa kau sudah gila!!!....
salah apa dirinya sampai harus di asingkan, meski ia membuat masalah namun itu tidak sampai berujung dengan pengasingan"
blast juga sebenarnya juga tidak setuju, bagaimanapun hukuman dan perbuatan sama sekali tidak sepadan namun ia masih tetap diam dan mendengarkan penjelasan jhon.
"yah aku hanya perlu membuat fitnah atau ali-.. "
"crack"
setelah kata-kata "fitnah" keluar dari mulut jhon aura pertempuran keluar dari tubuh marina, aura berwarna biru pekat merembes ke seluruh ruangan.
"jadi seperti itu ya"
marina berkata dengan dingin dan mendominasi.
"tenang sayang, tenang dulu"
"tenang katamu!! kira sepertinya telah gagal mendidik anak, kau mengajarinya menjadi tangguh aku mengajarinya menjadi bijak.
namun aku tidak pernah mengajarinya menjadi seorang licik seperti ini sampai memikirkan cara seperti ini untuk menyingkirkan anaknya sendiri terlepas dari dia jenius atau tidak.
meski aku tau kau memiliki pikiran seperti ini aku namun aku tidak menyangka kau memilih cara ini!, aku kecewa kepada mu jhon"
marina berdiri dari kursinya dan langsung berjalan keluar.
"ibunda a-"
mendengar jhon akan berbicara marina memotong perkataannya tanpa berbalik dan dengan aura yang belum hilang ia berbicara dengan nada yang tegas.
"aku akan menguras arcane secara langsung, aku yang akan memutuskan kedepannya untuk arcane"
marina membuka pintu dengan sihir dan menghilangkan auranya, begitu keluar ia menutup pintu dengan keras dan kencang.
melihat itu blast juga mengerti akan sifat marina dan setuju.
"kali ini kau memang salah nak"
"maaf ayahanda"
_______________________________________________________
"baik kita mulai pelatihan kita saat ini"
kini di siang hari setelah arcane puas dengan percobaan kekuatan barunya di dalam ruangan ia memilih praktek di luar ruangan.
meski bentuk pelatihannya sama saja namun arcane menyadari satu hal lagi dimana para kesatria menggunakan mana di dalam tubuh mereka, itu bisa membuat tubuh mereka menjadi sangat kuat dan tangkas tergantung apa yang di latih, itu juga menjelaskan kenapa para kesatria bisa membalut seluruh tubuh dan senjatanya dengan elemen.
sementara itu untuk para penyihir mereka menggunakan mana di luar tubuh seperti mantra fire ball atau lainnya, dan menurut arcane sebenarnya keduanya sama saja hanya pengeksekusian dan jenis senjatanya yang berbeda.
ini ia temukan ketika naik ke tingkat merah dan ia merasa kalau mananya lebih mudah di kendalikan, dan ia juga menyadari kalau gray selalu mengalah padanya ketika berlatih.
karena bagaimana pun kekuatan fisik tiap tingkat tidak bisa di remehkan dan hanya aspek inilah arcane setuju dengan hal itu.
sementara itu ketika mereka berlatih seseorang sedang mengintip dari dalam mansion, arcane tentu saja menyadari nya dan itu adalah adiknya selena.
arcane yang berlatih dengan gray kemudian berteriak.
"kemarilah jika kau ingin bergabung"
selena yang menyadari kalau ia ketahuan sangat malu ia pun mengeluarkan tongkat sihirnya dan menuju lapangan pelatihan.
arcane menghentikan pelatihannya sejenak menatap selena, selena yang sudah di tempat latihan sedikit malu-malu dan berkata.
"maaf, karena sikapku kakak menjadi marah dan pelayanan kakak menjadi terluka"
arcane sedikit mengangguk dan membalas.
"jangan di ulangi lagi, tingkatkan kekuatan bukanlah segalanya untuk meraih segalanya.
lalu kau ingin bergabung? "
"benar kakak"
"baik pertama-tama kau berlatih bersama brown sampai manamu habis, tanyakan alasannya kepada nya
jika kau merasa belum cukup kau bisa berlatih bersamaku besok."
selena mengangguk dengan senyuman manis, ia langsung menuju brown dan berlatih.
"Hai, maaf soal sebelumnya"
"ti-tidak apa putri, hamba lah yang lancang,lagipula hamba tidak marah kepada putri dan hamba telah memafkan putri"
selena tersenyum dan berkata dengan lembut.
"trimakasih sudah memaafkan aku.
sudahlah tidak perlu kaku, ayo kita berlatih bersama"
"um.. "
mereka berdua langsung berlatih, selena mengikuti cara berlatih brown yang mana ia juga baru tau kalau cara ini di arahkan oleh arcane.
selena sebenarnya ragu akan cara berlatih ini karena brown berlatih melemparkan berbagai jenis mantra dalam berbagai ucapan bahkan ia juga berlatih mengeluarkan sihir tanpa mantra sampai mana di dalam tubuhnya habis.
namun brown yang kini mendapatkan seorang partner ia bisa membuat farian bentuk, keefektifan, gabungan atau sebagian efek dari semua mantra yang di kuasai nya , selena tentu saja kagum karena jarang ada orang yang melakukan hal itu karena memerlukan banyak waktu dan mana yang banyak apalagi arcane lah yang memerintahkan hal itu.
selena tidak bisa tidak terkejut dan memilih untuk mengikuti cara berlatih brown, namun baru 5 mantra yang ia modifikasi ia dapat menyadari beben pikiran yang ia tanggung.
kepalanya terasa pusing dan ia hampir akan pingsan, namun ketika ia akan pingsan brown melancarkan sihir penenang dan membuatnya segar kembali.
"trimakasih"
"Sama-sama"
selena kagum dengan pelatihan yang di lakukan brown karena itu sangat berbeda dengan pelatihan kebanyakan.
"brown bisa bertanya sesuatu? "
brown pun menghentikan latihannya sementara untuk menjawab pertanyaan itu.
"silahkan"
selena tersenyum dan berkata.
"apakah kau dari dulu berlatih seperti ini"
brown memiringkan kepalanya seperti heran dengan pertanyaan itu.
"bukannya ini pelatihan kerajaan ini"
selena tentu terkejut dengan perkataan brown.
"tentu tidak, aku saja baru tau kalau ada pelatihan seperti ini"
brown kini mulai berfikir.
"namun pelatihan ini hamba bisa berkembang dengan pesat, meski bukan dari segi kekuatan namun kualitas sihir yang hamba keluarkan meningkat pesat"
"heh?......"