Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 17


Selena tidak paham dengan maksud brown karena tidak ada seorang pun yang sangat mementingkan dan memfokuskan diri kedalam sebuah mantra.


brown kini menatap arcane yang sedang berlatih dengan gray mereka menggunakan tangan kosong dan terus bertarung.


terlihat sekilas memang berlatih namun jika di perhatikan pelatihan itu bukan sekedar menangkis dan memukul, namun mereka benar-benar saling melukai.


bisa di lihat dengan mata telanjang kalau di beberapa bagian terdapat luka lebam dan sedikit darah keluar dari beberapa sisi.


selena melihat latihan itu sedikit ngerti, karena jika mereka berlatih seperti itu lalu bagaimana bisa mempertahankan penampilan seperti tidak ada apapun?.


namun pertanyaan itu terjawab ketika brown mengeksekusi mantra pemulihan kepada mereka, mantra simple namun unik dikarenakan itu adalah buff yang mengakibatkan stamina dan kondisi fisik mereka pada kondisi primanya.


waktu berlalu dan menjelang sore pelatihan itu berhenti, sebenarnya pelatihan biasanya sampai matahari benar-benar terbenam.


mereka menyelesaikan pelatihan itu lebih awal karena arcane berencana pergi ke kota untuk membeli beberapa bahan, dan menghasilkan beberapa uang tambahan.


selena tentu saja tidak mengetahui perihal ini, karena ia harus menyelesaikan beberapa tugas karena ijin cuti dari akademi.


saat ini arcane beserta gray sedang berjalan jalan di antara keramaian pasar di malam hari.


"tuan kemana kita kali ini? "


"ketempat dimana benda-benda ajaib bermunculan"


"apakah maksud tuan adalah toko penempa, dan toko peralatan sihir, atau bengkel perbaikan? "


"yah bisa di bilang seperti itu"


mereka berjalan dengan santai, dan di sana tidak ada yang mengenali mereka karena gray yang merupakan mantan budak dan arcane yang meski seorang pangeran namun dirinya yang tidak di anggap dan tidak di kenal membuat mereka leluasa.


namun meski begitu arcane masih memakai jubah untuk berjaga-jaga dan dengan memakai pakaian itu membuatnya menjadi lebih membaur.


alasan lain sebenarnya untuk membuat pandangannya lebih sempit karena ia tidak akan tahan dengan apa yang ada di sekelilingnya, di sekitarnya terdapat banyak Pemgemis yang bersembunyi di balik gang yang kondisinya memprihatinkan.


tidak hanya itu selain Pemgemis ada juga rakyat yang berdagang dan memiliki kondisi serupa, jangan tanya perihal budak mereka bahkan lebih buruk.


arcane bukan berusaha menghindar namun ia memiliki empati yang sangat besar ia tidak akan kuat untuk tidak membantu mereka, namun jika membantu mereka dengan beberapa koin maka itu hanya membantu mereka beberapa saat saja atau bahkan itu akan mendatangkan bahaya kepada mereka.


untuk kasus gray dan brown arcane membeli mereka di karena kan ia memang membutuhkan mereka kebetulan juga mereka berada di waktu dan lokasi yang sesuai.


mereka menyusuri pasar yang banyak pedagang kaki lima yang berdempetan dan beraneka ragam untuk menuju tempat yang di tujuan arcane, namun ketika mereka berjalan tiba-tiba


"DEG..... "


ketika berjalan tiba-tiba arcane merasa dadanya berdetak karena sesuatu, arcane langsung mencari sekeliling nya dan menemukan kalau di sampingnya ada seorang pria tua dengan baju compang-camping menjual dagangannya di trotoar dan tanpa alas apapun.


arcane melihat pedagang itu dan merasakan kalau pedagang itu memiliki sesuatu yang spesial, dan tanpa sadar ia menghampiri pedagang itu.


pedagang itu menjual beberapa hal aneh dan random seperti buku usang, liontin, sarung tangan, kristal hitam dll.


namun dari itu semua arcane lebih tertarik kepada 3 buku usang yang bahkan sampulnya saja tidak terlihat jelas karena banyak sobekan di sana.


lalu dengan sopan arcane bertanya.


"permisi berapa harga dari 3 buku ini?"


pedagang itu melirik dan berkata.


"1 koin emas untuk masing-masing buku"


arcane entah kenapa langsung mengeluarkan uangnya dan membayar, pedagang itu pun memberikan bukunya.


begitu arcane memegang bukunya saat itu pula ia tersadar.


"tuan sedang apa? "


gray tiba-tiba datang menepuk arcan, arcane berbalik dan berkata.


"aku sedang melihat beberapa barang"


"dimana? "


"pedagang in-...... "


perkataan arcane tertahan karena ketika ia berbalik tidak ada seorang pun di sana dan hanya tempat kosong tanpa apapun hal itu tentu saja membuatnya terkejut.


keduanya jatuh dalam pikirannya masing-masing dan akhirnya mereka melanjutkan berjalan menuju tempat yang di tuju lebih tepatnya kearah timur.


mereka terus berjalan melewati pasar dan melewati beberapa pemukiman masyarakat menengah, dan setelah beberapa saat mereka sampai di sebuah toko yang bernama.


"mecanik magic"


toko itu sepintas terlihat seperti TPA karena banyak benda rongsokan di sana sini baik itu armor sampai tongkat sihir yang usang dan berkarat.


gray tampak ragu namun sebaliknya arcane malah sangat antusias dan tanpa ragu memasuki toko itu.


"kering.... ngiieek....


pintu berderit keras lalu ketika masuk suasana nya tidak lebih baik dari pada di luar, bau pengap dan lautan debu memenuhi toko itu.


toko gelap dan hanya ada beberapa lilin yang menerangi toko tersebut lalu.


" dug.... dug.... dug.... "


terdengar suara langkah kaki dari lain ruangan belakang toko itu, langkah kaki yang begitu berat dan keras seperti sedang marah.


"BRAK......


KELUAR KAU BAJ***AN, JANGAN GANGGU AKU"


seorang lelaki dengan janggut tebal mendobrak dan mengangkat palu tinggi-tinggi untuk mengusir seseorang.


dapat di lihat kalau ia adalah pemilik toko tersebut, lalu pandangannya menangkap sosok arcane dan gray berada di tokonya.


ia menyadari kalau kedua orang itu bukan yang ia magsud namun pemilik toko tidak merubah sikapnya.


"ada apa bocah di sini!!!


keluar! di sini bukan tempat bermain!! "


gray merasa tidak senang dengan sikap pemilik toko itu namun arcane tersenyum lalu dengan sopan menjawab.


"maaf jika menganggu, namaku arcane kalau boleh tau siapa nama anda? "


pemilik toko itu mendengus lalu menjawab.


"humb.... gavin"


"baik tuan gavin, aku mencari sesuatu di sini karena aku ingin membuat beberapa hal"


arcane masih menjawab dengan senyumannya yang ramah.


"cih, paling juga main tidak berguna.


toko tutup.


kau bisa lihat di toko ini kalau tidak ada apapun yang berharga di sini, jadi kau pergilah"


gavin tampak kesal dan keras kepala.


namun arcane tidak menyerah.


"tapi bolehkah aku melihat seben-"


"toko tutup, pergi sekarang!! "


gavin yang memotong ucapan arcane ia tampak terus menolak.


arcane kini merasa telah buntu dan sebenarnya ingin membeli beberapa barang, arcane mengetahui kalau toko ini memiliki barang yang ia cari.


meski tidak terlalu penting itu bisa ia gunakan untuk memulai penelitiannya tentang teknologi di dunianya ini, ia mengetahui nya ketika ia beberapa kali berkeliling untuk mengumpulkan informasi tentang kota yang di tinggalinya.


kebetulan ketika berada ia lewat di depan toko ini ia melihat beberapa benda yang ia tahu lewat buku yang ia baca, jadi arcane mencoba mendapatkan kan nya.


lalu ketika arcane akan pergi seseorang berteriak.


"HEI GAVIN... TINGGAL KAN TOKO INI SEKARANG JUGA.


ATAU KAU AKAN MATI SEKARANG!!!!!!"