
Keesokan harinya.
Mentari bersinar lebih awal di langit Paris. Tania terlihat masih nyaman berada dibawah selimutnya. Tubuhnya seakan enggan bergerak kesana-kemari. Joe mulai terjaga dan perlahan membuka sayup matanya. Dilihatnya kearah samping, Tania masih tergeletak lemah tak berdaya.
Joe lalu mencium kening nya. Mengitari leher nya dengan tangan nya. Dilihatnya kearah leher Tania, terdapat banyak bekas cintanya disana. Joe mulai kembali bergairah, bekas merah yang ada dileher Tania kembali memacu rasa yang ada. Ditariknya selimut Tania lalu ia membuang nya ke sembarang tempat. Sehingga kini terpampanglah sudah tubuh polosnya.
Sungguh kamu terlihat begitu menggemaskan dengan posisi tidur seperti ini
Joe kembali memulai aksinya. Tangan nya mulai meraba kesana-kemari sesuka hati. Menyusup kesetiap sudut yang paling ia sukai. Gerakan tangan nya membuat Tania geli hingga akhirnya terjaga. Perlahan ia membuka mata dan melihat Joe berada tepat didepan nya.
" Joe, kau sedang apa?" Tanya nya. Suara Tania terdengar masih sangat lemah.
Joe tak menjawab. Ia hanya melempar senyuman kepada Tania sedangkan tangan nya tak henti meraba.
" Ah . . ." Desah Tania. Ia reflek mengeluarkan suara karena tak tahan dengan permainan tangan Joe.
" Sayang . . kau sendiri yang minta. Aku hanya menurutinya saja." Ujar nya.
Apa maksudnya? Apa yang ku pinta darinya?
Tania mengerutkan dahinya. Lalu saat mulutnya ingin mengeluarkan suara, bibirnya terkatup tak bisa bergerak karena saat ini Joe telah habis melumatnya. Joe mulai membuas, ciuman nya membuat Tania hampis tak bisa bernafas.
Joe lepas! Lepas!
Tangan nya mulai memukul-mukul otot-otot kekar yang ada disana. Joe melepas ciuman nya, lalu ia memegang kedua tangan Tania dan menggenggamnya.
" Sayang menurut lah." Bisik nya.
" Joe, aku . ."
Joe lalu memulai kembali aksinya. Bibir nya kembali mengunci mulut Tania hingga tak bisa melanjutkan kata. Nafsu nya kian tak terkendali, ingin segera menyalurkan hasratnya. Dengan kondisi tubuh Tania yang masih lemah membuatnya tak bisa banyak melawan. Sehingga kini ia hanya bisa pasrah menerima semuanya.
Waktu menunjukkan pukul 08:00 AM.
Setengah jam lagi Joe akan ada pertemuan dengan klien yang akan membahas tentang kerjasama mereka. Kini Joe telah rapi dengan setelan jas nya. Dilihatnya kearah ranjang Tania masih tertidur pulas. Mungkin ia terlalu lelah akibat pertempuran mereka pagi tadi sehingga membuat nya tertidur lelap. Joe kemudian mencium kening nya, lalu setelah itu ia pergi meninggalkan Tania sendirian didalam kamar.
Setelah kepergian Joe. Dua jam kemudian Tania terjaga, ia melihat kesekitar ruangan kamar tak ada orang disana. Tania lalu berusaha bangun dari tidurnya. Namun saat ia bergerak dibagian bawah perutnya Tania merasakan perih serta sakit yang luar biasa.
" Auuww!!" Ringis nya.
Meskipun merasakan sakit namun Tania tetap berusaha bangkit untuk duduk diatas ranjang. Kini ia mulai menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang.
Joe kau benar-benar gila!
Rutuk nya.
Bagaimana tidak.
Itu semua karena Joe yang tak bisa sama sekali menahan gairah nya. Setelah pertempuran mereka tadi malam yang terjadi hingga kebabak tiga ronde. Ternyata Joe sama sekali belum puas. Pagi ini Joe kembali melakukan permainan nya hingga dua ronde. Pinggang Tania serasa sangat sakit seakan mau patah, karena ini kali pertamanya ia melakukan itu. Meskipun Joe melakukan nya dengan lembut terhadap nya. Namun Joe sama sekali tak membiarkan waktu jeda untuknya sehingga membuat Tania benar-benar kewalahan dalam mengahadapi gairah Joe yang melewati batas normal.
Tania lalu berusaha berdiri dengan menopang kedua tangannya diatas sandaran ranjang. Dengan agak berat ia mengangkat langkah nya. Tania berjalan dengan agak sedikit terseok-seok. Tangan nya memegang pinggang dan juga bawah perut nya. Sakit dan perih, Tania terus berjalan dengan menyeret kakinya. Kini ia sudah berada tepat didepan kamar mandi. Ia lalu segera masuk kedalam.
Disana ada sebuah Bathup berukuran besar. Disamping nya beberapa botol aroma terapy berjejer rapi. Tania mengambil salah satunya secara acak. Tanpa mencium aroma Tania langsung mengisinya kedal Bathup yang sedang diisi air. Tania mengisi air hangat, mungkin jika berendam dengan air hangat maka kelelahan nya akan bisa sedikit terobati saat ini. Setelah merasa cukup, dengan tubuh polos Tania melangkah masuk kedalam. Kini ia telah berendam disana sembari memejamkan mata. Wangi aroma terapy serta hangat nya air yang ada membuat Tania tenang dan nyaman. Sehingga kini tanpa terasa setngah jam sudah ia menikmati waktunya disana.
Tania lalu bangkit dari sana. Lalu ia berjalan kearah shower untuk membilas tubuhnya. Membersihkan rambut nya dan juga membilas seluruh tubuhnya. Setelah selesai ia pun segera kembali masuk kedalam. Setibanya di kamar, Tania lalu berjalan kearah lemari, disana ia meletakkan koper nya. Masih terbungkus rapi, karena ia belum sempat membereskan nya. Ia lalu membuka koper nya dan mengambil bajunya. Setelah itu ia lalu meamakai nya, celana jeans pendek dan juga baju kaos dengan model bahu turun kebawah ia kenakan. Lalu ia kembali kearah ranjang.
Disana ia melihat. Ada percikan darah di kain seprei tempat nya beradu cinta. Pakaian-pakaian yang dikenakan nya dan juga Joe juga berhamburan tak beraturan. Tania memungutnya satu persatu, namun saat ia mengambil pakaian yang di kenakan nya semalam. Ia melihat kancing-kancing yang ada disana telah putus, benan-benang bajunya juga terlihat keluar tak beraturan disetiap tempat kancing-kancing yang lepas.
Dasar Joe, gairah nya merusak pakaian ku. Padahal ini adalah pakaian termahal yang aku punya hiks..
Tania menggelengkan kepala namun ia tetap memungutnya. Lalu setelah itu ia kembali kearah ranjang untuk membongkar kain seprei nya. Setelah itu ia memasukkan nya kedalam sebuah keranjang yang ada di sudut ruangan ya ia pikir memang khusus untuk meletakkan pakaian-pakaian kotor nya disana.
Gruuk . . gruuk . .
Perut Tania mengeluarkan suara.
" Ya tuhan . . aku lapar sekali." Lirihnya. " Semenjak tiba disini aku belum makan sama sekali." Tambahnya lagi. Ia lalu kembali berjalan kearah ranjang dan duduk disana. Dengan memegangi perut dengan kedua tangan nya, Tania mulai memikirkan cara bagaimana ia bisa mendapatkan makanan saat ini.
Apa aku keluar saja ya? Ah, tidak-tidak, aku kan tidak mengenal tempat ini sama sekali.
Gumam nya.
Apa aku hubungi Joe, mungkin dia bisa pulang dengan membawakan sedikit makanan untukku
pikirnya lagi.
Tapi mungkin saat ini dia sedang bekerja. Jadi mana mungkin aku mengganggunya.
Tania mulai bingung. Ia mulai berpikir seribu cara agar ia bisa makan. Hingga akhirnya ia ingat jika sahabatnya juga ada disana.
Ha! Wulan! Ya, mungkin dia bisa membantu ku sekarang!
Tania lalu meraih ponselnya. Denga segera ia berusaha menghubungi, namun tidak bisa tersambung. Kalian tau kenapa? Itu semua karena Tania tidak menyiapkan apapun di ponselnya saat keberangkatan nya menuju ke Eropa.
Ya tuhan . . bagaimana ini, aku tidak bisa menelepon Wulan saat ini
Tania kembali memegangi perutnya. Cacing-cacing yang ada disana mulai berlompatan karena ingin mendapatkan makanan. Ia mulai kehabisan akal tak tau lagi mau berbuat apa. Kini Tania hanya bisa pasrah dengan berbaring dan menunggu kepulangan Joe disana.
Semoga saja Joe segera pulang
Harap nya.
***
Di sebuah restoran di kota paris. Setelah perbincangan nya dengan sang klien selesai. Kini mereka melanjutkan nya dengan makan bersama. Joe telah memesan, namun saat sang pelayan telah pergi membuatkan pesanan mereka. Tiba-tiba saja Joe teringat dengan Tania yang ia tinggal sendirian dikamar hotel.
Apa dia sudah bangun. Bukankah dia juga belum makan apapun semenjak mendarat disini, bagaimana jika dia sudah bangun dan kelaparan saat ini
Joe memikirkan Tania. Ia mulai resah, mengingat ini adalah kali pertama bagi Tania berpergian keluar negri. Ia lalu menatap kearah Bayu dan memberikan isyarat padanya. Melihat itu,
Tak berapa lama kemudian. Kini Joe telah tiba didepan kamar hotel. Ia lalu segera menggesek kartu kamar untuk membuka pintunya. Setelah pintu kamar terbuka, Joe bergegas masuk kedalam. Disana ia melihat Tania tergeletak diatas ranjang dengan kedua tangan memegangi perutnya. Mungkin karena menahan lapar akhirnya Tania kembali terlelap disana. Joe kemudian mengambil telepon dan menghubungi seseorang.
" Hallo Bay, kirim seseorang sekarang juga untuk membawakan makanan untukku. Nanti aku akan mengirim pesan apa saja yang harus kau bawa." Ucap nya.
" Baik Joe, segera aku laksanakan." Sahut Bayu.
Joe kemudian mematikan ponselnya dan mengetik pesan. Setelah itu ia mengirimkan nya kepada Bayu.
Setelah itu, ia kembali duduk diatas ranjang dan membelai lembut rambut Tania.
Sayang, maafkan aku. Seharusnya aku memesan makanan terlebih dahulu sebelum meninggalkan mu
Gumam nya. Kini secara perlahan ia mengecup kening Tania.
Bebebrapa menit kemudian.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Joe yang tengah menikmati acara televisi kemudian bangkit dan berjalan kearah pintu untuk segera membukanya. Saat membuka pintu ia melihat seseorang sudah berdiri disana dengan membawakan makanan, minuman beserta beberapa bungkus Snack yang di pesan nya.
" Tuan, ini pesanan yang anda minta." Pria itu menunduk sopan.
" Hmm, masuklah dan letakkan semua itu diatas meja." Ujarnya.
Pria itu kemudian masuk kedalam kamar hotel. Lalu ia meletakkan makanan tersebut diatas meja yang ada disana. Setelah itu tanpa melirik kesana-kemari pria tersebut segera keluar dari sana. Joe menutup pintunya, sedangkan Tania mulai terjaga. Perlahan ia membuka matanya dan melihat Joe sedang berjalan kearahnya.
" Hooaam!!" Tania menguap. " Joe, kau sudah pulang?" Suara Tania terdengar lemah.
" Hey, sayang . . kamu sudah bangun?" Tanya Joe.
" Hmm," Tania berusaha bangkit untuk duduk.
" Mari makan, aku sudah memesan beberapa makanan untuk mu." Ujar Joe.
Mata Tania terlihat sembab khas nya seseorang yang baru saja bangun tidur. Tubuhnya masih lemah, sehingga kini Tania duduk untuk mengumpulkan tenaga nya. Melihat Tania yang masih saja duduk diatas ranjang membuat Joe lalu duduk disamping nya.
" Kenapa masih duduk disini?" Tanya nya.
" Hmm,"
" Hmm, hmm, hmm, apakah tidak ada jawaban lain selain itu!" Serunya.
Lalu Joe meraih tubuh Tania dan menggendong nya. Sontak saja Tania terkejut seketika saat Joe mulai mengangkatnya.
" Joe, kau mau membawaku kemana?" Tanya Tania, namun ia terlihat pasrah saat Joe terus membawanya.
Joe terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan Tania, hingga akhirnya ketika tiba dimeja makan Joe mendudukkan Tania disebuah kursi yang ada disana.
" Kau belum makan kan? Sekarang kita akan makan bersama." Ujarnya. Ia lalu berjalan menuju kearah belakang. Tak lama kemudian ia kembali lagi membawakan peralatan makan dan menaruhnya diatas meja.
Sejak kapan ada meja makan disini? Dan juga sejak kapan ada dapur disana.
Tania bingung. Namun ia tak ingin banyak bertanya karena saat ini semangat nya belum pulih sepenuhnya.
Di hotel, tepatnya di kamar yang sedang mereka huni fasilitas nya cukup lengkap. Mungkin karena tadi sewaktu Tania bangun kondisinya sangat lemah. Maka dia sama sekali tidak memperhatikan segala fasilitas yang tersedia. Kini matanya tampak mengerling kesekitar merasa takjub dengan segala keindahan yang ada.
" Jangan bengong! Ayo makan." Ajak Joe.
" Eh, iya."
Tania lalu mengambil makanan nya dan memakan nya.
Joe memperhatikan gerak-gerik Tania. Karena saat ini Tania menyantap makanan nya dengan sangat lahap. Piring nya terlihat bersih, karena Tania menghabiskan semuanya tanpa sisa. Sedangkan Joe baru memasukan dua sendok makanan kedalam mulutnya. Ia tersenyum melihat kearah Tania, tak habis pikir jika gadis cantik sepertinya bisa mengunyah makanan secepat itu.
Joe tertawa. Namun Tania seolah tak perduli, yang penting baginya saat ini adalah ia bisa memuaskan perutnya.
Setelah makan.
Joe berjalan menuju kearah kamar mandi. Sedangkan Tania tampak memeriksa lemari yang ada di kamar hotel tersebut. Kali aja ada seprei yang bisa ia gunakan. Mengingat kain seprei yang ada diatas ranjang telah ia copot karena kotor terkena percikan darah nya. Betapa senang nya dia saat melihat apa yang dicari nya ternyata ada disana. Tania lalu buru-buru mengambilnya dan memasang nya kembali. Setelah semuanya rapi, ia lalu duduk sembari menonton acara televisi.
Tak berapa lama Joe kemudian keluar setelah membersihkan diri dari sana. Tanpa memakai baju, Joe hanya melilitkan handuk di pinggang nya. Ia lalu berjalan hendak mengambil pakaian nya yang sudah tersimpan rai didalam lemari. Namun saat melihat Tania yang tengah tidur dengan posisi tengkurap serta memainkan kedua kaki jenjang nya, gairah Joe seketika bangkit sehingga membuat nya tak jadi mengambil pakaian nya.
Kini Joe malah beralih mendekati Tania yang tidur diatas ranjang.
Buuumm!!
Joe menjatuhkan tubuhnya disana tepat disamping Tania. Lalu dengan secepat kilat ia meraih bahu Tania dan memeluk nya.
" Joe, lepas! aku ingin menonton acara televisi sekarang. Ada drama yang sangat ku suka saat ini!" Seru Tania.
" Drama? Kau suka drama? Kalau begitu mari buat drama kita berdua sekarang!" Ujarnya.
" Drama apa maksudmu?" Tania tak mengerti.
" Drama percintaan kita berdua. Haha," Joe tergelak. Sedankan Tania berusaha meronta.
Lalu secepat kilat, Joe meraih dagu Tania dan menciumnya, ******* nya bahkan menyapu habis setiap incinya. Ia mendekap tubuh Tania dengan sebelah tangan nya dan menguncinya. Supaya gadis itu tak bisa meronta dan menerima setiap perlakuan darinya. Joe kembali mulai melancarkan aksinya, sebelah tangan nya ia gunakan untuk melepaskan setiap helai apa yang digunakan Tania. Sehingga kini gadis itu terlihat polos didepan nya. Ia juga menarik handuk yang melilit di pinggang nya lalu menjatuhkan nya di lantai.
" Kau sungguh seksi!" Serunya.
" Joe, aku tak . ." Belum lagi habis kata-kata yang ingin diucapkannya, kini mulutnya kembali terkatup di bungkam oleh Joe.
Joe kembali melancarkan aksinya, kini ia lebih leluasa menyalurkan hasrat nya untuk yang kesekian kalinya.
BERSAMBUNG