CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 169


Seorang wanita, terlihat tengah duduk didepan sebuah cermin kamarnya. Seorang gadis yang tengah asyik menyisir rambutnya. Dia, adalah Katty, si gadis cantik dengan seribu pemikiran licik. Pakaiannya telah rapi ia


kenakan, bernuansa formal modern. Rambutnya, ia biarkan tergerai kebawah. Baru saja, selesai di catok hingga tampak jatuh bergelombang di bawah.


Aroma harum begitu menyeruak, tatkala ia menyemprotkan parfum kesukaannya. Ia, lantas tersenyum didepan cermin setelah semuanya sempurna. “Waktunya, berangkat!”


Katty, lantas membalikkan badannya setelah mengambil dompet yang terletak diatas meja riasnya. Setelah kemudian berjalan beberapa langkah, ia lantas mengambil tas yang sudah ia sediakan diatas ranjang. Katty, menyandangnya. Kemudian, ia pun bergegas pergi dari kamarnya.


Hari ini, Katty ingin bertemu dengan beberapa petinggi di perusahaannya. Untuk membahas, beberapa proyek yang sedang di kerjakan dengan perusahaan Mitra. Sekitar empat puluh menit lagi, mereka akan mengadakan rapat. Sehingga kini langkah, Katty, terlihat begitu tergesa-gesa untuk segera keluar dari kamarnya.


Didepan pintu kamar. Katty, telah berdiri dengan tangan yang mengulur memegang handle pintunya. Ditekannya, handle itu ke bawah, sehingga membuka kuncinya. Katty, lantas membuka pintunya, dan hendak segera keluar


darisana. Namun, langkahnya terhenti, saat melihat seoran lelaki yang berdiri di depannya.


“Kau,” raut wajah, Katty, tampak merungut masam. sepertinya, sosok yang ada di depannya ini terlihat bukan sosok yang menyenangkan baginya.


“Hai, baby…” laki-laki itu menyungingkan senyumnya sambil mengedipkan sebelah mata.


“Ma-mau apa kau ke-kesini?” tanya Katty. Jujur, kehadiran sosok lelaki itu berhasil membuatnya takut.


Pria itu tak menjawab. Malah, kini ia mendorong tubuh Katty ke belakang, hingga gadis itu tersungkur, terduduk di lantai kamarnya. “Kau!” erang Katty. matanya, juga tampak menyipit tak senang.


Tak menggubris, pria itu kini malah ikut masuk kedalam kamarnya. Pintu kamar ditutup dengan segera, baru kemudian pria itu menundukkan badan.


“Hmm… aroma ini, sungguh menggairahkan baby,” bisik pria itu tepat di telinga Katty.


“Kau! Menjauhlah dariku!” bentak Katty.


“Menjauh? Hahahahah!” pria itu tertawa dengan cara khasnya. Matanya, terlihat menyipit dan bahkan hampir memejam saat menunjukkan ekspresi tawanya. “Apa kau sudah lupa, jika waktu itu kau sendiri yang menarikku kesini. Membuatku tak bisa lagi menjauh, dan sekarang kau harus bertanggung jawab dengan hal itu.”


“K-kau! Bukankah aku sudah membayarnya pagi itu. Dan, seharusnya hal itu sudah impas kan!” seru Katty.


“Hmm, Ya, memang. Tapi, sayangnya aku malah ketagihan. Sehingga, memikirkan untuk mengulangnya lagi,” ujar lelaki itu santai.


Kevin Adelard. Ya, itu dia. Pria yang beberapa hari lalu baru saja mendapatkan rezeki nomplok. Layaknya, durian yang jatuh dari pohon. Setelah kejadian itu. setiap hari, bahkan sepanjang malam, Kevin, tak henti memikirkan Katty. Memikirkan, malam panas yang mereka lewati bersama. Dan ternyata membuatnya, ketagihan. Apalagi, dia juga menyimpan foto Katty yang tanpa busana. Dan juga, pagi itu dengan sengaja ia merekam adegan percintaannya. Sehingga kini, tanpa ragu, ia nekat kembali datang ke apartemen milik Katty.


“Dasar, pria mesum!” Katty membelalak. Matanya, seolah ingin tanggal dari kelopaknya, menatap Kevin yang ada di depannya saat ini.


“Mesum, hahahahah!” Kevin, kembali tergelak. “Siapa yang lebih mesum di antara kita. Kau, atau aku?” tunjuknya kearah dada, Katty, yang kemudian naik mengitari leher jenjangnya.


“Singkirkan tangan kotormu itu!” Katty, menepis keras tangan, Kevin, yang mengitari lehernya.


Bukannya, marah. Kevin, lagi-lagi tergelak, hingga membuat bulu kudu, Katty, merinding.


“Dasar, pria gila!” sungut Katty dengan tatapan yang sangat jelas menunjukkan kebenciannya.


“Ya, aku gila, bahkan sangat gila. Kau tau kenapa? Itu semua karenamu, karena tubuhmu. Aku sangat tergila-gila dengan tubuhnmu,” Ujar Kevin. Tangannya, juga tampak kembali menyentuh kulit, Katty, mengelusnya lembut.


“K-kau! A-ap—“ Katty, ingin memaki. Mencaci, pria yang ada di depannya. Namun, kalimatnya tak tuntas, tertahan, karena kini mulutnya telah disumpal. Sebuah sentuhan lembut, dari sepasang daging tipis yang berhuni di sekitar mulut.


Cup!


Kevin mendaratkan ciumannya, tepat di bibir Katty. Hal itu, lantas membuat Katty bungkam, tak bisa berkata. Tak tinggal diam, Katty ingin melawan. Namun, ia tak bisa melakukan. Karena kini, kedua tangannya itu sudah di kunci erat, menggunakan sebelah tangan kiri Kevin. Ia menaikkan kedua tangan Katty keatas kepala, lalu menekannya di lantai.


Kevin, semakin mempergencar gerakan nakalnya. Yang awalnya, hanya sekedar mencium. Kini, sebelah tangannya mulai bereaksi bergerak sesuka hati. Disibaknya, pakaian yang, Katty, kenakan keatas. Kemudian, ia menarik pakaian dalam yang ada di tangan. Hingga tanggal dan melemparnya ke sembarang.


“Layani aku sama seperti waktu malam itu.” bisik Kevin, di telinga Katty.


Hal itu, ternyata membuat Katty, menghentak-hentakkan kakinya. Melawan dengan segenap tenaga, berusaha terlepas dari Kevin. Membuat, Kevin, merasa tak leluasa menyalurkan hasratnya. Sejenak, pria itu berhenti. Sedikit menjauh, namun tangan masih membelenggu, membuat Katty, masih tak bisa bangkit dari posisinya. Diraihnya, sebuah ponsel miliknya. Membuka, sebuah file yang tersimpan di sana, dan kemudian mempertontonkannya kepada Katty yang ada di bawahnya.


“Kau, lihat ini?” tunjuk Kevin, setelah memutar sebuah video yang tersimpan di sana. “Perhatikan baik-baik. Siapa, wanita yang ada di sana,” kata, Kevin, kemudian.


Katty melihat, menyaksikan beberapa saat video itu. Terlihat, seorang wanita yang tanpa menggunakan busana tengah beradu cinta di sana. Menikmati, setiap hentakan-hentakan kasar yang didaratkan oleh si pria. “Cih! Dasar, lelaki berengsek! berani-beraninya kau menyimpan rekaman itu!” Katty, mendaratkan salivanya, tepat di wajah, Kevin.


Sejenak, Kevin, memejamkan mata. Lalu kini, ia kembali membukanya, setelah menyapu bersih cairan bening yang mendarat di wajahnya. “Kau, ingin melakukannya denganku sukarela atau tidak? Jika jawabanmu, Ya. Maka, aku akan tetap menyimpannya sebagai koleksi pribadiku. Namun, jika jawabanmu tidak. Maka, bersiap-siaplah ganasnya percintaan kita di saksikan jutaan orang.” ancam Kevin.


Katty, terdiam sejenak. Memikirkan, tentang ancaman Kevin.


Ya, Tuhan… aku bisa apa sekarang? Haruskah, aku tetap melayani nafsu bejadnya. Tapi, jika itu aku lakukan, aku yakin ini bukan untuk yang terakhir kali. Ia, akan tetap datang kesini kapanpin dia mau. Namun, jika aku menolaknya. Reputasiku akan hancur, jika video itu menyebar. Kedua orangtuaku akan malu, berikut dengan seluruh saham perusahaannya. Semuanya, pasti akan berpengaruh dengan tersebarnya video itu.


Batin Katty.


Katty, menelan ludahnya. Memejamkan matanya, serta kemudian dengan berat hati harus memutuskan. Jika, ia menyanggupi permintaan, Kevin. Melayaninya dengan sukarela sama seperti waktu itu. Waktu, dia menarik, Kevin,


masuk kedalam apartemennya.


Senyum menyeringai, lantas terlihat menyeruak. Yang kemudian disusul dengan keinginan sedari tadi bergejolak.


Ya, siang itu. Kejadian itu kembali terjadi. Peristiwa beberapa hari yang lalu, saat Katty tak dapat mengendalikan nafsu. Kevin, telah berhasil menyalurkan niatnya. Niat jahat, yang membuat Katty merasa hina.


Ya, hina. Karena ini kali pertamanya mendapatkan perlakuan paksa dari seseorang. Dipaksa melayani nafsu bejat dari sosok lelakin yang dibenci. Terpaksa melayani, walaupun sebenarnya ingin pergi. Airmata, terlihat jatuh membasahi lantai. Tempat dimana, Kevin, memaksanya saat itu.


***


Di kantor. Joe, tampak duduk sembari memegangi dahinya, dengan sebelah tangan kiri. Wajahnya, tampak murung, seperti sedang memikirkan sesuatu hal yang begitu pelik.


Beberapa hari ini. Semenjak, kejadian saat itu. Setelah, Tania, memilih untuk tetap bertahan serta memberi kesempatan. Wanita itu terlihat murung, selalu menyindiri di kamar. Hal itu begitu terasa, serta Joe sangat dapat melihat. Perubahan drastis yang ditunjukkan.


Tak banyaknya kata yang terucap, meskipun sedang berdua, adalah perubahan yang sangat segnifikan. Tania, lebih banyak diam, saat Joe, mengajaknya berbicara. Hal, ini ternyata mampu membuat Joe begitu memeras otak. Memikirkan, bagaimana caranya dapat melihat senyum ceria dari Tania.


“Apa yang harus kulakukan sekarang?” lirih, Joe, dengan pertanyaan yang tercetus dengan sendirinya. “Mungkinkah, ia seperti itu karena belum adanya pembuktian yang ingin dia lihat?” lagi, pertanyaan itu tercetus.


“Tapi, apa yang harus ku buktikan? Haruskah aku menemui Katty, dan memaksanya untuk menemui Tania, dan mengatakan semua hal yang terjadi malam itu?”


Kening, Joe, kian mengerut. Berusaha berfikir, agar menemukan solusi yang pas untuk masalahnya.


“Aaah! Jika aku menyeret Katty ke hadapan Tania. Takutnya, wanita itu malah membeberkan hal yang tidak-tidak nanti.” pikir Joe.


Ya, setelah kejadian malam itu. Fikiran, Joe, seakan terbuka tentang bagaimana busuknya wanita yang dulu pernah menjadi ratu di hatinya. Kelicikannya, serta aktingnya, yang terlihat begitu sempurna, tanpa cela sedikitpun. Hal itu, membuatnya sedikit ragu, jika harus membawanya bertemu langsung dengan Tania. Ia, takut jika, Katty, malah akan menambah masalah untuknya.


“Ini tidak boleh terjadi. Sebisa mungkin, aku harus menjaga jarak dengan wanita itu. Dan juga, Tania, dia seharusnya juga tidak perlu bertemu dengannya.” lirih Joe.


Sore telah menjelang. Waktunya, bagi seluruh karyawan untuk pulang. Tak, terkecuali dengan Joe sang atasan. Ia malah bergerak duluan dibandingkan para karyawan lainnya. Memilih, untuk terlebih dulu meninggalkan kantor demi orang tersayang.


Didepan kantor. Terlihat, sebuah mobil mewah telah terparkir bersama seorang pria paruh baya yang berdiri di pintu mobil. Pak Min, telah dengan siaga menunggu, Joe, keluar. Pintu samping juga sudah di buka begitu melihat, Joe, yang sudah tampak melangkah keluar. Pak Min, menyambutnya dengan hangat, mempersilahkan Tuannya itu untuk segera masuk kedalam. Tak lupa, senyum hangat selalu ia lontarkan, tatkala berhadapan dengan, Tuannya.


Beberapa hari ini. Pak Min, terlihat begitu awal bersiaga di depan. Hal itu ia lakukan karena, Joe, yang terlihat begitu gelisah belakangan ini. Ia, dapat meminta kapanpun untuk Pak Min menyiapkan mobilnya. Untuk mengantarkannya pulang.


Pertengkaran malam itu yang ternyata terdengar oleh, Pak Min. Saat tak sengaja ingin mencari, Tuannya. Ternyata, membawa dampak yang buruk setelahnya. Hal itu, jelas terlihat dari raut wajah, Joe, yang terlihat lesu belakangan ini. Pria, yang biasanya sangat begairah dalam menjalani harinya. Serta ambisius dengan pekerjaannya, belakangan ini malah terlihat tak bersemangat dalam menjalani harinya.


Waktu terus berjalan. Seperti biasanya, Pak Min, dengan baik  menjalankan tugasnya. Setelah menurunkan, Joe, di depan tera rumah. Pak Min, lantas segera memarkirkan mobil pada tempatnya. Joe, bergeas masuk kedalam.


Langkahnya, terlihat pasti menapaki setiap keramik yang dipijaknya.


Di depan kamar. Joe, sudah berdiri dengan sebuah tas kantor yang ditentengnya. Ia lantas, membuka  pintu kamarnya dan masuk kedalam. Tak ada sapaan ataupun sambutan. Malah kini, setelah mengerlingkan matanya keseluruhmruangan. Joe, mendapati Tania, yang tengah berdiri di balkon kamar tanpa menghiraukannya.


Perasaan senang menyeruak saat mendapati, Tania, tak bisa terlukiskan. Membuat, Joe, dengan segera berlari kearah, Tania, lalu melingkarkan tangan di pinggangnya. “Sayang, aku sudah pulang,” bisik, Joe, dengan suara lembutnya.


“Sudah pulang, syukurlah.” ekspresi yang ditunjukkan, Tania, terlihat datar.


“Sayang, aku sangat merindukanmu,” bisik, Joe, seraya terus mempererat pelukannya.


“Hmm,” singkat, Tania.


Joe, lantas menyilak rambut, Tania, mengecup setiap inci lehernya. Membuat, Tania, merinding. Kecupan, Joe, serta hembusan nafasnya begitu terasa, menggelitik jiwa. Membuat, Tania, reflek menepisnya. “Joe, jangan sekarang.”


Joe, menghentikan aksinya. “Kenapa? Apa, kau masih marah kepadaku?” tanya, Joe, yang kini membalikkan badan, Tania, menghadap kearahnya.


“Bukan, bukan karena itu,” Tania, menundukkan wajah.


“Bukan, terus kenapa?”


“Tubuhku, masih lemah. Aku, tak bisa melakukannya,” Tania, menggeleng.


Joe, terdiam sejenak. Menatap, Tania yang menunduk didepannya.


Apakah itu benar, karena tubuhmu yang masih lemah? Atau, ini hanyala sebagai alasan untuk menghindariku?


Batin, Joe.


Tak ingin memaksa. Joe, lantas menghentikan aksinya. Ia tak melanjutkannya lagi. “Yasudah, tidak apa-apa. Aku, mengerti,” menatap hangat. Sembari, mengusap lembut bahu, Tania.


“Terimakasih, Joe,” ujar Tania.


“Hmm,” Joe, mengangguk. Kemudian, ia pun membalikkan badan seraya melangkah pergi darisana.


Joe, memilih pergi dari hadapan, Tania. hal itu ia lakukan karena tak ingin nafsu merajai otaknya. Sudah hampir seminggu ini, Tania dan Joe, tidak melakukannya. Melakukan, apa yang seharusnya dilakukan. Setiap kali, Joe, ‘meminta’ nya. Tania, selalu menolak dengan alasan yang sama.


Aaahh... Joe, sabar. Kau, harus bisa mengendalikan dirimu sekarang. Bagaimanapun, tubuhnya lemah seperti itu gara-gara kau yang tak bisa mengontrol diri waktu itu.


Batin, Joe, mengingatkan dirinya sendiri.


Joe, maaf. Untuk, sementara aku belum bisa. Aku, masih ingin melihat bagaimana kau mampu bertahan dengan situasi ini. Untuk selanjutnya, aku bahkan akan sangat merepotkanmu. Kita lihat, sejauh mana kau mampu bertahan?


Batin, Tania.


 Joe, kian melangkah jauh darisana. Menuju kearah pintu kamar mandi, lalu masuk kedalam sana. Sementara itu, dari tempatnya. Tania, tampak memandang, Joe, hingga tubuh itu menghilang di balik kamar mandi.


TBC.