
Tania tertegun. Matanya terpaku, saat melihat noda lipstick yang menempel di bahu jas yang di kenakan Joe.
“Joe, kau!”
Tania mendelik. Keningnya mengerut, bersamaan dengan genggaman tangan yang perlahan menguat. Lapisan kertas buket bunga yang ada di tangan kini telah remuk, akibat genggaman tangan yang kuat.
“Dasar, payboy sialan!” seru Tania seraya melempar buket bunga yang ada di tangannya kearah Joe, dan mendarat tepat di permukaan wajah Joe.
Bunga itu jatuh di kasur, berserakan karena kertas pembungkus yang telah rusak bersamaan dengan pita pengikat yang telah tanggal.
Joe, menatap kearah bunga-bunga yang berserakan itu. Dengan wajah yang terlihat bingung, ia lantas kembali menatap Tania. “Sayang, kena—“ belum sempat Joe menghabiskan kalimat pertanyaannya. Tania, dengan cepat
menimpal.
“Habis bermain dengan siapa kau tadi?!” tanya Tania dengan suara tegas. Tak lupa, kedua tangan terlipat yang kemudian ia sandangkan di dada.
“Bermain, apa maksudmu?” Joe, masih tak mengerti.
“Jangan berlagak polos. Bekas bibir itu, menandakan jika kau barusaja menghabiskan waktumu bersama seorang wanita-kan!?” menyiratkan dengan tatapan mata, kearah bahu jas yang di kenakan Joe.
“Bekas bibir?” Joe masih tak mengerti. Lalu, melihat tatapan mata Tania yang mengarah ke bahunya. Joe,pun lantas memeriksa apa yang ada di sana.
Astaga…
Joe, menemukan bekas lipstick yang berbentuk sebuah bibir menempel di sana.
Pantas saja dia semarah itu. Ternyata, ini penyebabnya.
“Huufffttt!” Joe, membuang nafas dengan kasar. Lalu kini, ia mencoba menjelaskan tentang asal-usul warna lipstick itu. “Sayang… ini tidak seperti yang kau bayangkan.” Joe, meraih tangan Tania, tapi sayang, wanita itu menepisnya dengan kasar.
“Jangan menyentuhku.” Tania mendelikkan mata, menatap tak senang kearah Joe. “Singkirkan tangan kotormu itu dariku!” tekannya dengan sorot mata tajam.
“Sayang… jangan terlalu cepat menyimpulkan. Ini memang tidak sesuai dengan apa yang kau bayangkan.” kembali, Joe berusaha menjelaskan kepada Tania.
“Anak kecil juga dapat mengambil kesimpulan itu apa. Jadi, jangan coba-coba membodohiku dengan cara rendah yang kau ingin aku dengarkan!” dengan tatapan sinis, Tania kemudian memalingkan muka.
“Ternyata, baru di tinggal semalam saja sifat liarmu kembali membuntang. Dasar playboy sialan!” geram Tania. “Jika kau masih ingin terus bermain dengan wanita di-luaran sana, maka sekarang juga tinggalkan aku!” pekiknya dengan sorot mata yang semakin beringas.
Hati siapa yang takkan panas jika melihat ada cap bibir wanita lain yang menempel di pakaian yang di kenakan suaminya. Tak terkecuali dengan Tania. Hatinya gusar, terasa panas, dengan batin yang bergejolak. Amukan yang terasa di hati, seolah meronta ingin segera keluar.
“Sayang, bisakah kau dengar sedikit penjelasanku? Hal ini sama sekali tak sama dengan apa yang kau bayangkan.” Joe, kembali berusaha, meredakan sebuah hati yang sedang panas. Menjelaskan, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun, sayangnya Tania tak ingin mendengar.
“Aku tidak ingin dengar omong kosongmu! Simpan semua bualanmu itu untuk wanita diluaran sana!” tegas Tania.
Tania lantas bangkit dari duduknya. Rasa kecewa, serta sakit yang tengah di rasa. Seolah telah penuh sesak di dalam dada. Duduk di sana, dengan Joe yang terus berkilah, membuatnya tak tahan dan sesegera mungkin ingin
pergi darisana.
“Tania, kau mau kemana?” tanya Joe, sesaat setelah melihat kaki Tania yang mulai merenggang. Hendak melangkah, kedepan meninggalkannya. “Kau tidak boleh pergi! Hal ini, harus selesai hari ini juga.” tegas Joe, yang
menarik paksa tangan Tania, hingga membuatnya jatuh ke belakang.
“Joe, kau!”
“Aku tak akan membiarkanmu pergi, sebelum kau mendengar penjelasanku.” tangan Joe sudah mendekap kuat tubuh Tania yang jatuh di atasnya.
“Kau, pria berengsek! aku sama sekali tak ingin mendengar penjelasanmu!” hardik Tania.
“Maki aku sesukamu. Hujat aku sepuas hatimu. Asalkan, setelah itu kau mau mendengar sedikit penjelasanku.” kesah Joe.
“Kau, pria sialan yang sudah tidur dengan banyak wanita. Aku, Tania, sudah tak ingin lagi mendengar apapun penjelasanmu. Lepaskan aku Joe!!” pekik Tania.
Wanita it uterus meronta, agar bisa segera lepas dari pelukan suaminya. Umpatan demi umpatan terus di layangkan, berharap Joe segera marah dan mau melepaskannya. Namun, sayang. hal itu tak terjadi, apapun yang di katakan Tania, tak membuat Joe gusar.
Joe, semakin mempererat dekapannya. Sehingga membuat Tania tak berdaya. Tenaganya hampir habis, melawan Joe, serta ingin segera keluar darisana.
Sedih, amarah, kesakitan, semua telah bercampur menjadi satu. Buliran kristal yang terlihat di pelupuk mata, perlahan tumpah membanjiri permukaan halus yang ada di sana. Tania menangis. Saat ini, air mata adalah cara terampuh untuk meluapkan segalanya. Berharap, aka nada kedamaian setelahnya.
Joe, menyaksikan itu. Ada kesakitan, yang tak dapat di ungkapkan saat melihat wanita yang di cintainya itu menangis. Kesedihan, bersamaan dengan perasaan gagal menyelimuti hatinya. Bagaimana tidak, Joe, merasa gagal dalam membahagiakan Tania. Selain kesedihan, serta rasa tertekan, terus apalagi yang bisa ia berikan. Ya,
Joe menyadari akan hal itu. perlahan, ia menyapukan air mata yang membanjiri pipi halus Tania.
“Joe, kenapa kau melakukan itu… hiks.. hiks.. hiks..” Tania menangis tersedu-sedu. “Kau begitu marah saat melihatku dengan pria lain. Tapi, sekarang, kau sendiri yang bersama wanita lain. Hiks.. hiks.. hiks..” tangisan itu kian menjadi.
“Aku tidak melakukannya sayang.” Joe, menatap wajah Tania dengan penuh sesal. Rasa bersalah, juga kian merajai hatinya. “Tadi itu di toko bunga, aku nggak sengaja ketemu dengan Katty. Entah mengapa, tiba-tiba saja dia jatuh di pangkuan ku saat aku sedang duduk menikmati begitu banyak ragam bunga yang ada di sana.” jelas Joe.
Tania masih menangis. Penjelasan Joe, tidak semerta membuatnya percaya.
“Begini saja, jika kau masih tidak percaya. Langsung, tanyakan saja sama Pak Min.” jelas Joe.
Tania, hanya diam tak menjawab.
“Tania, sebelum aku menikahimu. Aku, Joenathan Alexandre, telah berjanji kepada diriku sendiri, jika aku hanya akan mencintaimu.” Jelas Joe. “Masa lalu, telah ku kubur dalam-dalam. Sekarang, aku hanya ingin menatap masa depanku bersamamu, bersama anak kita. Jadi, mana mungkin aku melakukan hal itu kepadamu.” tambah Joe lagi. “Sayang, tidakkah kau bisa sedikit percaya kepadaku? Bukankah tadi, kau juga bilang, jika rumah tangga itu harus di landasi dengan kepercayaan yang kuat? Playboy, itu label ku sebelum bertemu denganmu. Saat ini, setelah bersamamu. Aku telah menanggalkan label itu, dan menggantinya dengan label ‘setia’.” kembali, Joe berusaha terus meyakinkan Tania.
Tania masih terdiam. Melihat hal itu, Joe pun lantas bangkit dari tempat ternyamannya. Menggendong tubuh Tania bersamanya, lalu melangkah hendak menuju kearah pintu kamar. Namun, belum lagi sampai di depan pintu kamar. Tania memanggilnya.
“Joe,” suara Tania terdengar sedikit parau.
Ucapan Joe barusan, ternyata mampu membuat emosi Tania kembali mereda.
Joe, menunduk, menatap Tania yang ada dalam rangkulannya. “Hmm, ya.” mengerutkan dahinya.
“Kau ingin membawaku kemana?” tanya Tania. Tapi kali ini, nada suaranya sudah terdengar sangat rendah.
“Menghadap ke ruang Pak Min.” kata Joe. “Di sana, nanti, kau bisa bertanya dengan sepuas mungkin tentang apa yang ku lakukan hari ini.” jelas Joe.
“Turunkan aku,” pinta Tania.
“Turun?” Joe, kembali mengerutkan dahinya.
“Ya, aku ingin segera turun.” jelas Tania kini.
Joe, lantas mengikuti perintah Tania. Menurunkannya di sana.
“Aku tidak ingin kesana, aku percaya padamu.” Tania, menatap wajah Joe, nanar.
“Apa kau yakin?” tanya Joee.
“Ya,” Tania mengangguk.
“Sudah tidak lagi marah padaku?”
“Hmm,” Tania mengangguk pelan.
Joe, tersenyum. Tanagannya lalu meraba pundak Tania. “Apa kau yakin?” tanya Joe memastikan.
“Jika apa yang kau katakan tadi itu benar adanya. Maka aku yakin untu tidak lagi marah padamu.” tutur Tania.
Joe menarik garis senyumnya. Wajahnya kini berubah bahagia, saat melihat Tania yang sudah tidak mengamuk lagi padanya.
“Ya sudah, kalau begitu sekarang kita harus merayakannya.”
Joe, mengangkat kembali tubuh Tania. Membuat Tania tersentak kaget karenanya.
“Joe, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” jerit Tania.
“Aku, akan melakukan apa yang seharusnya ku lakukan.” Joe mengedipkan mata. Lalu kini ia membalikkan badannya dan kembali membawa Tania kearah ranjang dan membaringkannya di sana.
TBC.