CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 145


Joe kini memilih keluar dari rumah sakit. Mencari Caffe yang buka di jam yang sudah terbilang cukup malam. Tak jauh dari tempatnya mengamati, Joe melihat ada kedai kopi yang masih buka di jam segitu. Tak berfikir lama, Joe pun kemudian mengalihkan kendaraannya kesana.


Setibanya di sana, Joe memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tepat di samping kedai kopi yang masih buka. Joe turun dari mobilnya, lalu melangkah masuk kedalam kedai kopi itu. Setibanya di sana, Joe pun memesan secangkir kopi untuk dirinya.


Joe kini kembali melangkah keluar, memilih duduk di kursi yang ada di luar. Menikmati pemandangan dengan duduk di pinggir jalan. Ini kali pertama Joe melakukan hal itu, mengingat sudah tidak ada lagi Caffe yang buka


di jam itu.


“Hmm, ternyata menikmati kopi dengan cara seperti ini kesannya sangat berbeda ya.” lirihnya sambil menyeruput kopi yang sudah disajikan.


Dari arah berlawanan, terlihat sebuah mobil berhenti. Joe memerhatikan itu, dan melihat mobil itu sama sekali tak asing baginya. Seulas senyuman tersungging di bibirnya, melihat mobil yang ada di depannya. Mobil itu kemudian memutar arah, menuju ke kedai kopi itu. Lalu setibanya di sana, sang pemilik mobil itu memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Joe.


“Sungguh tidak ku sangka, ternyata kau bisa duduk di sini juga.” Bayu berjalan kearah Joe, lalu duduk di kursi yang ada di depan Joe. “Nih, pesanan yang kau pinta.” Meletakkan dua kantong belanjaan yang berisikan nasi goreng, dan juga dua porsi jus.


Joe tersenyum, seraya mengangkat kedua alisnya. “Makasih ya.”


“Sama-sama.” timpal  Bayu.


Joe kini menyeruput habis kopinya. Setelah itu, ia bangkit dari duduknya, mengambil kantong belanjaan makananya, menentengnya, dan beranjak pergi dari sana.


“Joe, kau tidak mentraktirku dan menemaniku dulu di sini?” tanya Bayu, menengadah keatas, melihat Joe yang tengah berdiri sekarang.


“Tania sangat lapar, jadi aku mau langsung membawakan ini untuknya. Untuk kopi, kau pesan saja sendiri. Sekalian bayar punyaku juga, totalkan semuanya. Nanti, aku akan mentransfer bayarannya ke rekeningmu.” Joe


melanjutkan langkahnya, meninggalkan Bayu sendirian di sana.


“Dasar Joe, akhirnya bisa tunduk pada satu wanita.” Bayu menggeleng pelan.


***


Di kamar rawat Tania.


Wanita itu sudah duduk di pembaringan sambil menatap kearah pintu ruangan. Tangannya memegangi perutnya sedari tadi, mengusapnya lembut berusaha meredakan rasa perih lapar yang tengah menderu di perutnya.


Ceklek!


Pintu terbuka, semangat pun tumbuh. Melihat Joe yang melangkah masuk kedalam, dengan menenteng kantong makanan di tangannya, membuat Tania sangat bersemangat. Bukan Joe yang di sambutnya, tapi kantong makanan itu yang terlebih dahulu di raihnya saat Joe berdiri di hadapannya.


Joe mengerutkan keningnya. Sikap Tania sekarang membuatnya tercengang.Kapan Tania bisa jadi serakus ini saat melihat makanan, sebelum-sebelumnya wanita itu tidak pernah bersikap seperti itu. Begitu pikir Joe.


Tania lalu membuka bungkusnya, dan melihat ada dua porsi di sana. “Ada dua?” menoleh kearah Joe sekarang.


“Iya, satu untukku, satunya lagi untukmu.” ucap Joe.


“Hmm, baiklah. Ini ambil punyamu, duduk di sini yang dan makan bersamaku.” menyerahkan satu untuk Joe.


Joe mengambilnya, lalu duduk di sana. “Makasih ya.”


“Hmm,” Tania mengangguk pelan. Lalu kini wanita itu mulai menyeruput jus Alpokatnya, setelah itu menyendok nasinya, menyantap makanannya.


“Gimana, enak?” tanya Joe memastikan.


Tania mengangguk cepat. “Enak!” lalu kini melanjutkan kembali mengunyah makanannya.


Joe mengulas senyumnya. Melihat Tania menyantap makanannya dengan sangat lahap, membuatnya senang.


Beberapa saat kemudian.


Joe melihat Tania sudah selesai menghabiskan makanannya. Tak tersisa sediktpun, bahkan sebutir nasipun tak ia lewatkan. Semuanya habis di lahap. Entah mengapa melihat Tania yang makan begitu lahap, membuat Joe


kenyang. Makanannya masih tersisa banyak, tapi kini Joe ingin memasukkannya kedalam kantong plastik berniat membuangnya.


“Joe, mau kau apakan makananmu itu?” dengan cepat Tania bertanya.


Joe menghetikan tangannya. Lalu kini menoleh keara Tania. “Aku sudah kenyang, jadi aku berniat membuangnya.”


“Janga di buang sayang.”


“Terus untuk apa? Di biarkan seperti ini juga tidak akan bagus, basi kan.” Kata Joe.


Tania tak melanjutkan lagi kalimatnya.


“Tapia apa?”


“Jika kau sudah tidak mau, berikan saja untukku. Aku akan menghabiskannya.” Tutur Tania.


Joe mengerutkan keningnya, menatap heran kearah Tania. “Bukankah kau sudah makan?”


“Ya, tapi aku masih menginginkannya lagi. Lagipula, membuang-buang makanan itu kan mubazir.”


“Apa kau masih belum kenyang?” tanya Joe kini.


“Sudah, tapi—“


“Tapi kau masih menginginkannya lagi kan?” telisik Joe.


“Huum.” Tania mengangguk pelan.


Seulas senyuman kembali terbentang di sudut bibir Joe. “Yasudah, nih.” memberikan makanan miliknya.


Tania menyambutnya dengan gembira. Mengambilnya dengan cepat dari tangan Joe. “Makasih.” menyipitkan kedua bola matanya.


Joe terkekeh melihatnya. Sikap aneh Tania begitu terlihat nyata, tapi Joe sangat menyukainya.


***


Di kediaman Kalisna.


Pagi itu setelah menyantap sarapannya. Kalisna bersiap dengan rapi, berniat mengunjungi Tania yang tengah di rawat di rumah sakit. Malam tadi ia mendapatkan kabar dari, Joe jika Tania sedang berada di rumah sakit, dan saat ini Dokter mengatakan jika dia sedang hamil.


Perasaan gembira yang teramat dalam di rasakan oleh Kalisna. Tapi perasaan bahagia itu juga bercampur kekesalan, mengingat pingsannya Tania karena kelelahan. Pasti ini semua terjadi karena Joe tidak memperlakukan


Istrinya dengan baik, begitu pikirnya.


Kalisna kini keluar dari kamarnya, berjalan dengan cepat menuju teras depan. Lalu setibanya di sana ia melihat sebuah mobil sudah terparkir di samping mobilnya, dan seseorang yang sangat ia kenal baru saja turun dari sana.


“Angel.”


Ya, itu Angeline. Gadis itu tak berhenti mengejar Joe dengan cara mendekati Kalisna. Mendapatkan simpati darinya, dan juga terus berusaha membuat Kalisna membenci Tania. Karena ia berpikir, dengan cara seperti itulah


peluangnya untuk mendapatkan Joe akan semakin besar.


Angeline berjalan menghampiri Kalisna yang saat ini tengah berdiri mematung menatap kearahnya. Tak enak jika Kalisna pergi begitu saja, padahal ia tau jika Angeline datang berkunjung kerumahnya.


“Tante, pagi-pagi sudah rapi begini, mau kemana?” tanya Angeline setelah memperhatikan penampilan Kalisna dari bawah hingga atas.


“Ke rumah sakit.” sahut Kalisna.


“Rumah sakit?” Angeline mengerutkan keningnya


Siap yang sakit ya? Apa itu Joe, tapi kemarin dia masih baik-baik saja.


Batin Angeline.


“Ya, Tante mau ke rumah sakit. Karena Tania sedang sakit sekarang.” jelas Kalisna.


Hah, Tania sedang sakit? Kenapa nggak sekalian mati aja, jadi aku bisa dengan mudah menggantikan posisinya sekarang. hahahah!


Batin Angeline.


“Oo, gitu ya Tan. Kalau gitu, Angel ikut ya! sekalian Angel mau jenguk juga.” Pinta Angeline.


Kalisna mengangguk setuju.


TBC.