CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 211


“Bagaimana keadaan Tania sekarang Dok?” tanya Sam kepada Dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Tania.


“Alhamdulillah kondisinya mulai membaik,” kata Dokter menjelaskan seraya melangkah keluar.


Dokter muda yang bernama Felisya itu lantas menerangkan kepada Sam secara detail tentang bagaimana kondisi Tania saat ini. Sam terlihat mendengar, menyimak setiap apa yang Dokter Felisya katakan, hingga akhirnya…


“Joe itu suaminya Dok,” terang Sam yang membuat Dokter Felisya berhenti sejenak karena keterkejutannya.


“Jadi Anda…”


“Saya adalah teman baiknya,” jelas Sam kini.


“Apa Tuan Sam mengenal suami Nona Tania?” Dokter Felisya bertanya, yang kemudian disambut cepat oleh Sam disertai anggukannya.


“Saya kenal.”


“Terus … kenapa Anda….”


“Ceritanya panjang Dok dan sangat sulit untuk dijelaskan,” sambut Sam cepat seakan tau apa yang akan ditanyakan Dokter Felisya padanya.


Dokter Felisya mengangguk mengerti atas apa yang Sam jelaskan. Pastinya saat ini hubungan yang terjalin di antara mereka sangatlah rumit, sehingga membuat Sam mengambil keputusan seperti itu. Ingin sekali Dokter Felisya menanyakan akan kondisi rumah tangga Tania dan Joenathan, apakah mereka bertengkar, atau Joe yang tidak mau mempertanggungjawabkan kondisi Tania dan juga Bayi yang saat itu tengah ada di dalam rahim Tania. Pertanyaan itu sekilas menari-nari di benak Dokter Felisya. Tapi, tidak diutarakan. Setiap orang mempunyai privasi masing-masing tentang kehidupannya, dan tidak mesti harus menceritakan hal itu bukan? Menyimpan sendiri mungkin itu lebih baik daripada harus berbagi kepada orang lain.


Sore berganti malam, menampakkan cahaya bulan di awan. Terlihat indah dengan sinar yang mengukir bulat, di atas langit. Cahaya yang terang benderang menerangi bumi, membuat manusia pun bisa melihat di dalam gelapnya malam. Meski remang-remang.


Di dalam ruang Rumah Sakit tempat di mana Tania dirawat. suasananya masih tetaplah sama. Tidak ada yang berubah di sana, karena Tania masih menumpukan hidupnya di antara selang-selang yang sengaja dipasangkan di


tubuhnya.


“Joe…” nama itu kembali terdengar saat Tania membuka suara. Dengan gerakan bibir yang bergetar, sedikit terangkat, ia berulang kali menyebutkannya.


Sepekan terakhir Tania terus tidur tanpa terjaga. Tapi hari ini Tania mulai menggerakkan bibir, mengeluarkan suara meski nama itu bukan nama yang diharapkan oleh Sam. Perlahan akhirnya Tania membuka maya, tatapannya


yang sayu, sendu lantas segera mengerling ke sakitar.


Sam yang sedari tadi duduk di samping ranjang Tania pun seketika menyapa.


“Nia… kau sudah sadar.” tatap Sam pasti.


“K… kak Sam…” masih terdengar lemah dengan gerakan bibir yang bergetar. Tania lantas berusaha bangkit dari tidurnya, tapi tidak bisa. Kondisinya yang baru sadar, tubuh yang masih sangat lemah serta kepala yang masih terasa berat membuat Tania tidak mempunyai tenaga.


“Nia… apa yang kau lakukan, tidurlah  karena kau masih perlu banyak beristirahat,” ujar Sam dengan nada lembut.


“K..kak…” mata Tania terlihat mengerling ke sekitar, berusaha mencari sosok Joenathan di sana, tapi… “J..joe… di ma..mana… kak?” Tania tidak menemukan sosok pria itu di sana, sehingga membuatnya bertanya kepada Sam kini.


“Dia tidak ada di sini Nia, akulah yang selama sepekan ini terus menjaga di sini.” menjelaskan tentang keberadaannya.


Tania diam sejenak, tidak membalas apa yang Sam katakan. Kepala yang masih agak berat membuatnya berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan. Hingga akhirnya sesaat kemudian saat Tania mulai meraba perutnya yang mulai rata, wanita itu lantas seketika panik.


“Kak Sam, bayiku…” lirihnya dengan kalimat yang tertahan.


“Bayimu lahir dengan selamat Nia,” kata Sam mengabarkan.


“Kak… bayiku se…sekarang ada… ada di mana?”


“Di ruang Nicu, ditempatkan khusus di inkubator karena bayimu terlahir premature.” menjelaskan dengan segera.


“Apa! bayiku…” mata Tania terpejam setelah kalimat itu terucap. Seperti sedang merasakan sakit atau nyeri di tempat luka sayatan bekas operasi caesar yang dilakukan saat tadi ia menyerukan suara. “Ah…” ringisnya


kemudian.


“Tania… beristirahatlah, jangan banyak bicara ataupun gerak dulu. Tubumu lemah dan terluka. Tentang Bayimu perkembangannya cukup baik di sana. berjuanglah untuk segera pulih, agar kau bisa segera menggendong dan


membawanya pulang bersamamu,” kata Sam menasehati sekaligus menyemangati.


“Tapi Kak… aku..”


“Sudahlah, beristirahat dan berjuang untuk sehat itu yang terpenting sekarang. Karena bayimu membutuhkanmu sebagai Ibunya. Bukankah kau belum memberikan sedikitpun ASI padanya? Turutilah apa yang aku katakan, agar


kau bisa segera memberikan ASI mu untuknya.”


_________


“Joe, apakah kau sudah mendengar tentang kabar kebangkrutan perusahaannya orangtua Katty?” tanya Bayu.


Saat ini keduanya tengah berkumpul di teras belakang rumah. Bayu yang tadinya hendak pulang ke rumahnya setelah menyelasaikan urusan di kantor itupun lantas mengalihkan mobilnya ke arah kediaman Joenathan karena


ingin memberitahukan langsung tentang kabar yang didapatkannya itu.


“Apa hubungannya denganku?” ekpresi Joenathan terlihat masa bodo. “Toh, kerjasama perusahaan kita juga sudah selesai dengan mereka.” Tambahnya lagi.


“Ya, kau memang benar. Tapi…” Bayu tidak melanjutkan kalimatnya.


“Tapi apa?” tanya Joe menimpali. Entah mengapa, kalimat yang Bayu tidak ingin melanjutkan itu membuatnya sedikit tertarik sekarang.


“Katty juga masuk ke dalam penjara karena kasus percobaan pembunuhan.”


“Apa!” seru Joe dengan mata yang membelalak.


Di tengah rasa keterkejutan yang saat ini tengah melanda diri Joenathan. Ponselnya kini bergetar lalau perlahan menimbulkan suara. Ingin sekali ia menimpali apa yang baru saja Bayu katakan, tapi begitu mendengar suara ponselnya, Joenathan lantas memilih bergegas menjawab telepon itu karena di anggap lebih penting. Siapa tau itu panggilan dari seseorang yang akan mengabarkan tentang di mana posisi Tania sekarang.


Kriing! Kriiing!


Terjawab, dan kemudian Joenathan menyapa.


“Hallo.” mendengar dengan serius suara seseorang yang ada berada dibalik ponselnya.


Tak kurun dari satu menit Joenathan mendengar suara seseorang itu, panggilan tersebut lantas diputus. Joenathan kemudian berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Bayu yang tercengang di sana.


“Joe, ada apa dengannya?” tanya Bayu tanpa ada yang menjawab.