CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 139


Pagi itu setelah menyantap sarapan pagi, dan juga berbincang-bincang bersama. Kini Joe dan Tania pun bergegas pergi ke kantor. Joe, Tania, Kalisna dan juga Angeline. Kini melangkah bersama menuju kearah teras depan.


“Mama pulang dengan siapa? Joe antar ya.”


“Nggak usah Joe, kamu dan Tania segera pergi ke kantor saja. Biar Mama pulang dengan Angeline.” Kata Kalisna lembut.


“Iya Joe, biar Tante bareng aku. Lagian ini udah kewajiban ku yang melarang Tante untuk membawa mobil kesini.” Angeline menyunggingkan senyumnya.


“Hmm, baiklah.” Ucap Joe datar. “Mama hati-hati ya.” Joe kini mendaratkan ciumannya di pipi kanan dan juga pipi kiri Kalisna.


Lalu saat Angeline juga mendapatkan sentuhan bibir Joe di pipinya. Joe mengalihkan muka dan berbalik kearah Tania.


“Yuk sayang.” Di rangkulnya pinggang Tania lalu kini mengajaknya masuk kedalam mobil.


Sementara Tania, sebelum benar-benar masuk kedalam mobil bersama Joe. di edarkan nya tatapan sinis kearah Angeline, seolah mencemoh gadis tersebut.


Hahaha! Rasain, emang enak di anggurin.


Sambil terkekeh kecil, Tania bergegas masuk kedalam


Cih! Tania… berani-beraninya kau menertawakan ku. Dan kau Joe, berani sekali mengacuhkanku. Lihat saja nanti bagaimana aku akan membuatmu menyesal karena telah melakukan hal ini kepadaku.


Angeline mengepalkan tangannya.


“Ngel, yuk jalan.”


Kalisna menepuk pelan bahu Angeline. Membuat gadis itu sadar dalam lamunannya.


“Eh, iya Tante.” Bergegas Angeline masuk kedalam mobilnya. Begitupula dengan Kalisna, yang saat ini telah ikut masuk dan duduk berdampingan dengan Angeline.


Kini Angeline pun menghidupkan mesin mobilnya, menginjak pedal gas nya, lalu perlahan pergi meninggalkan kediaman Jeonathan.


Sementara itu didalam mobil Joe dan Tania.


“Jahat banget!” Tania mengelengkan kepalanya.


“Jahat? Jahat kenapa?” Joe terlihat bingung sekarang.


“Iya jahat.” Ucap Tania lagi. “Tadi itu, saat Angeline mau cipika-cipiki denganmu. Kau malah memalingkan muka dan langsung merangkul ku untuk ikut denganmu.” Jelas Tania.


“Sengaja.” Jawab Joe santai.


“Sengaja?”


“Ya, aku sengaja. Karena jika tidak, jatah malam ku akan hilang hanya karena cipipak-cipiki.” Joe terkekeh kecil. Sementara Tania, reflek memukuli punggungnya dari samping.


“Joe, dasar suami cabul!”


Pak Min yang menyetir, hanya bisa mengelengkan kepalanya. Tertawa geli melihat tingkah dari Tuan nya itu.


***


Di perusahaan.


Wulan masuk kedalam ruangan Bayu dengan membawakan segelas teh untuknya. Berkas-berkas untuk pertemuan kerjasama dengan perusahaan Vidryck semuanya juga sudah di persiapkan Wulan.


“Tua, ini teh nya.” Menyugugkan teh buatannya di meja kerja Bayu.


“Hmm, ya.” angguk Bayu. “Oya, perkerjaanmu yang aku tugaskan itu bagaiman? Apakah sudah siap?” tanya Bayu tentang berkas-berkas yang di berikannya kemarin.


“Sudah Tuan, ini.” Menyerahkan berkas yang tadi juga tak lupa di bawanya.


“Hmm, bagus-bagus.” Bayu menganggukkan kepalanya, merasa puas dengan hasil kinerja Wulan. “Nanti berkas-berkas ini akan aku tunjukkan kepada Joe. Aku yakin, jika kerjasama ini berhasil. Maka kau akan mendapatkan


bonus nantinya.” Kata Bayu yakin.


Wulan mengangguk, tersenyum tipis. Tidak ingin mengharapkan bonus, bisa memebuat hati Joe senang saja rasanya itu sudah cukup untuknya. Pasalnya, dengan seperti itu pekerjaannya di perusahaan Alexandre akan bertahan lama.


“Jika sudah tidak ada lagi hal yang perlu saya kerjakan, sekarang juga saya permisi keluar Tuan.” Wulan membungkukkan badannya, ingin segera pamit dari sana.


Namun, sayang nya Bayu tidak membiarkanna pergi dari sana. Entah mengapa, pagi ini pria itu ingin sekali berdua lebih lama dengan Wulan di ruangannya.


“Wulan, sini.” Mengulurkan tangan seraya menggerakkan jarinya, mengisyaratkan agar gadis itu segera mendekat.


“Kesana?” tanya Wulan.


“Ya, kemari cepat. Bahu pegal, dan aku ingin kau memijatnya sebentar.”


“Tapi Tuan sa—“


Tak bisa menolak, Wulan pun kini melangkah menuju kearah Bayu yang duduk di kursi putarnya.


“Pijatnya disini.” Menunjukkan posisi dimana Wulan harus memijatnya.


“Hmm,” Wulan mengangguk. Lalu kini tangannya perlahan mulai memijat bahu Bayu dengan lembut.


Entah mengapa hal itu membuat jantung Bayu berdegup kencang. Sentuhan tangan Wulan menimbulkan rasa yang teramat nyaman pada dirinya. Begitu juga dengan Wulan, gadis itu kini sudah mengeluarkan keringat di dahinya. Padahal di ruangan itu terdapat AC yang tengah menyala.


“Wulan.” tiba-tiba saja Bayu menoleh ke belakang, menatap Wulan tajam. “Sebenarnya aku—“ ponsel milik Bayu tiba-tiba saja berdering, merusak keromantisan yang hampir tercipta.  Membuat Bayu yang kini sudah hampir mengatakan sesuatu dan bahkan bersiap merengkuh bibir Wulan, kini harus menunda niatnya.


 


Di palingkannya lagi wajah nya yang kini menatap kearah ponsel. Memeriksa siapa yang saat ini tengah menelponnya.


 


“Iya, Joe ada apa?”


“Bagaimana dengan kerjasama hari ini?” tanya Joe seputar masalah pekerjaan.


“Sebentar lagi, sekitar lima menit lagi aku akan datang ke ruanganmu.” Kata Bayu.


“Hmm, baiklah. Aku tunggu.”


Joe menutup ponselnya, sementara Bayu kini merapikan kembali berkas-berkas yang dibawa Wulan kepadanya.


“Wulan, sekarang juga kita akan pergi ke ruangan Joe.” Bayu bangkit dari duduknya, lalu kini meraih tangan Wulan untuk ikut dengannya.


“Tu-tuan, tunggu!” seru Wulan dengan wajah canggung. “Ini, kalau bisa tangan saya jangan di tarik seperti ini.” Pinta Wulan menunjukkan kearah tangannya.


Bayu terkesiap, dan langsung melepaskan tangan Wulan.


“Hmm, sorry, kau jalanlah di depan.” Memberi jalan agar Wulan berjalan terlebih dahulu di banding dirinya.


Kini mereka pun pergi meninggalkan ruangan Bayu dan menuju kearah ruangan Joenathan.


Di ruangan Joenathan.


“Sayang, sini duduk.” Joe menepuk pahanya, mempersilahkan Tania duduk disana.


“Enggak ah, sebentar lagi Bayu datang.” Tania menggelengkan


kepalanya.


“Beneran nggak mau nih?” tanya Joe lagi memastikan.


“Enggak.” Tegas Tania.


Mendengar penolakan dari Tania, membuat Joe yang tadinya tengah santai duduk di kursi putarnya kini memilih bangkit dan berjalan menuju kearah Tania yang sedang duduk di sofa.


“Awalnya aku hanya ingin mencium bibirmu saja. Namun, karena kau menolakku. Maka kini aku juga menginginkan ini darimu.” Menyusapkan tangannya kedalam pakaian yang di kenakan Tania.


“Joe, kau!” Tania mendelikkan matanya.


“Apa? Berani menolak. Maka sekarang juga aku akan meminta hak ku disini.” Tegas Joe.


Gila, Joe tak pernah main-main dengan perkataanya. Bisa gawat jika Joe melakukannya disini. Bahkan sekarang, Bayu dan Wulan juga sedang menuju kesini.


Tak ada pilihan lain, Tania kini merelakan tangan Joe menari manja di dadanya. Sementara Tania, duduk diam menikmati setiap sentuhan Joe yang merajai tubuhnya. Tania berusaha mengendalikan dirinya, karena jika tidak,


satu gerakan agresif saja dari dirinya. Joe sudah pasti akan memakannya disana.


Bagaimana jika kalian ada di posisi Tania. Apa yang akan kalian lakukan? Silahkan isi di bawah kolom komentar.


Jangn lupa ramaikan juga karya Ra yang lainnya.


1.       Ternyata ini Cinta


2.       Pengantin yang tak Dirindukan


3.       Pengantin yang tak Dirindukan (2)


4.       Married Because Forced


Di tunggu kehadirannya. Terimakasih^^