CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 212


Berlari ke arah kamar, mengambil sebuah jaket lalu dikenakan. Joenathan kini kembali keluar dari sana setelah sebelumnya meraih sebuah kunci yang terletak di laci nakas. Ia bergegas turun ke lantai bawah dengan sangat tergesa-gesa.


Mama yang kala itu menginap di kediamannya Joenathan, serta kebetulan sedang berjalan melewati anak tangga, lantas segera melemparkan pertanyaan kala melihat putranya itu yang melangkah dengan tergesa-gesa.


“Joe, kamu mau kemana, Nak?” tanya Mama yang berdiri di samping sebuah guci antic besar yang ada di ruangan tersebut.


“Joe mau pergi Ma,” Joenathan menjawab cepat.


“Iya, Mama tau. Tapi kamu mau kemana malam-malam begini?”


“Nanti Joe jelaskan. Sekarang, Joe ingin segera pergi karena ada suatu hal penting yang harus Joe selesaikan.”


Joenathan pun berlari meninggalkan Mama yang masih terpaku di samping guci antik yang ada di ruangan


Kemana dia akan pergi malam-malam begini? Apakah ini ada hubungannya dengan Tania?


Batin Mama dengan penuh kecemasan.


Beberapa hari yang lalu, saat baru pulang dari Negara tetangga. Mama lantas segera menuju ke kediaman Joenathan untuk membawakan oleh-oleh makanan khas dari negeri jiran tersebut, berupa cake yang bernama


Lapis Serawak.


Belakangan ini, Tania sendiri sangat menggemari aneka ragam cake beserta aneka dessert yang lainnya. Tidak cuma cake lapis serawak saja, beberapa aneka makanan ringan lainnya seperti Milo Cube, Mururu Ikan, dan juga


Checkers Mini Chunky Chocolate juga dibelikan Lisna untuk Tania. Hal itu dikarenakan Tania yang juga gemar sekali mengkonsumsi makanan ringan dan juga ragam chocolate di waktu senggangnya. Rasanya, berdiam diri tanpa mengunyah membuat hidup Tania tidak tenang semasa menjalani masa-masa kehamilan.


Tapi… begitu tibanya Mama di kediaman putra semata wayangnya itu. Dirinya malah dikejutkan dengan kabar menghilangnya Tania. Syok, terpukul, sedih, itulah yang dirasakan Mama Joe pada waktu pertama kali mengetahui kabar itu. Hingga berpikir jika putranya sendiri tidak becus dalam menjaga, melindungi keluarganya. Bagaimana bisa, seorang wanita hamil hilang tanpa sebab, tanpa meninggalkan jejak pula. Apa yang telah dilakukan putranya, hingga bisa menyebabkan kejadian seperti itu.


Rentetan pertanyaan pun berupa bagaimana bisa Joenathan kehilangan Tania dilontarkan Mama kala itu. Dengan emosi, serta amarah yang meluap-luap kepada putranya. Hatinya terasa panas, sesak di dada mengetahui hilangnya Tania. Terlebih saat ini Tania sendiri sedang mengandung, tujuh bulan pula. Ah … rasanya ingin sekali ia memukul putranya, menoyor kepalanya karena kelalaian dalam menjaga istri dan calo anaknya.


“Belum menjadi Bapak saja kau sudah lalai seperti ini, bagaimana jika sudah jadi Bapak. Kurasa setiap harinya akan ada penculik yang menelponmu untuk meminta tebusan atas nama anakmu.” Hardik Mama kala itu.


Tapi.. itu hanya sesaat, karena kemudian Mama pun tersadar jika saat ini bukan dirinya saja yang merasakan sedih atas kehilangan, melainkan putranya Joenathan pun memiliki perasaan yang sama. Bahkan bisa dikatakan, Joenathan lah yang lebih bersedih saat ini. Hal itu terlihat jelas dari bagaimana kondisi Joenathan sekarang. Berantakan, urakan, serta kurusan


akibat terus memikirkan Tania.


Ya Tuhan… tunjukkan kebesaranmu. Selamatkanlah Tania, pertemukanlah mereka kembali. Aku sangat berharap jika kelak Putraku akan bahagia bersama Tania, dan calon anak mereka.


Seorang Ibu memanjatkan do’anya.


_________


Menikmati secangkir teh hangat sambil duduk di teras rumah, itulah yang dilakukan Bayu sekarang. Sebenarnya tadi ia sendiri ingin segera pulang meninggalkan kediaman Joenathan. Namun, seorang pelayan wanita tiba-tiba


saja datang dengan dua cangkir teh beserta satu piring kue yang di bawanya di atas nampan.


Tak ingin mubazir, Bayu yang saat itu juga kebetulan sedang haus. Lantas memilih duduk untuk menikmati teh tersebut. Rasa dahaga pun seketika hilang saat seteguk air hangat manis itu masuk ke tenggorokan.


Bayu kembali meletakkan cangkir teh nya di atas nampan setelah menghabiskan setengahnya. Dilihatnya, beberapa makanan manis berwarna cokelat yang ada di piring. Terlihat sangat menarik dengan topping cream di


atasnya. Hal itupun lantas membuat selera Bayu tergugah. Di ambil nya  satu potong kue tersebut, lalu memasukkannya ke mulut. Baru dua kali gigitan, tiba-tiba saja Joenathan terlihat berjalan melewati dirinya.


“Ada apa?”


“Kau mau ke mana?” tanya Bayu penasaran.


Perasaan baru saja Joenathan masuk ke dalam rumah dengan sangat terburu-buru begitu mendapat telepon tadi. Kini, ia pun melangkah dengan sangat tergesa-gesa menuju ke arah mobilnya.


“Nanti aku jelaskan. Sekarang, aku harus pergi dulu.” masuk ke dalam mobil meninggalkan Bayu sendirian.


Joenathan pun kemudian menghidupkan mesin mobilnya, lalu pergi meninggalkan Bayu yang masih duduk di sana.


_______


Di depan salah satu Rumah Sakit swasta terbesar di Ibukota. Terlihat seorang pria sedang berdiri di depan pintu gerbang Rumah Sakit tersebut. Bukan satpam ataupun penjaga yang bekerja di Rumah Sakit tersebut, melainkan Malik orang kepercayaannya Samuel Vydrick.


Malik melambaikan tangannya saat melihat mobil Joenathan. Pria itu hapal betul setiap mobil orang-orang penting yang memiliki hubungan kerjasama dengan atasannya itu. Ya, kerjasama di antara kedua perusahaan itu masih


berlangsung hingga sekarang, belum terselesaikan.


Setelah Joenathan memarkirkan mobilnya di lapangan parkir yang tersedia di Rumah Sakit tersebut. Ia pun lantas segera keluar dari mobilnya, yang kemudian langsung dihampiri oleh Malik.


“Tuan Aleandre, senang bisa bertemu dengan anda.” Malik membungkukkan badan, setelah itu menjulurkan tangannya.


Juluran tangan itu disambut baik oleh Joenathan. “Hmm,” balas Joe tersenyum ringkas.


“Mari kita masuk ke dalam.” mempersilakan Joenathan dengan sebelah tangannya.


Joenathan mengangguk, mengikuti kemana Malik pergi.


_______


Tidak lama kemudian, sampailah mereka di depan sebuah ruangan. Di sana terlihat seorang pria yang memakai kaos oblong bewarna biru muda yang melekat pas di tubuhnya. Cocok sekali dipadukan dengan celana jenas yang saat ini dikenakannya.


Pria itu lantas menoleh  saat merasai jika ada pergesekan langkah seseorang yang sedang berjalan menghampirinya. Dan ternyata benar saja, itu adalah Joenathan dan orang kepercayaannya Malik.


“Sam.” Joenathan bergegas menghampiri kala melihat Sam yang tengah duduk di sana.


“Ada apa kau memanggilku ke sini? Apa ini ada hubungannya dengan Tania?” tanya Joe langsung ketika sudah berdiri tepat di depan Sam.


Melihat Joenathan yang langsung menanyai Tuannya seperti itu, membuat Malik turun tangan. Ia lantas menyuruh Joe untuk duduk terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka membicarakan tentang itu.


Namun, sepertinya Sam tidak ingin terlalu banyak berbasa-basi kali ini. Ia lantas berdiri, bangkit dari duduknya dan mengajak Joenathan untuk ikut bersamanya.


“Ikuti aku, karena sebelumnya ada hal yang ingin aku tunjukkan padamu,” kata Sam sembari melangkahkan kakinya.


Joenathan tidak menyahut, karena kini Sam yang telah berjalan meninggalkan dirinya. Penasaran dengan apa yang terjadi, yakin jika hal itu berhubungan dengannya dan juga Tania. Joe pun lantas segera menyusul Sam yang telah berjalan terlebih dahulu di depannya.


Sementara itu Malik, pria itu memilih duduk di tempat itu. Menggantikan Sam untuk menjaga Tania yang masih terbaring di dalan sana.


TBC.