
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi melesat diujung jalan. Tania yang tengah sibuk merogoh tasnya, hendak mengambil selembar tissue yang ada di sana tak terlalu memperhatikan laju mobil itu. hingga, pada saat
Tania sudah mengambil tissunya, gadis itu tersentak kaget karena mobil yang hampir mendekat kearahnya.
“Aaaaaa!”
Buuk!
Untung saja, belum sempat mobil itu menyentuh kulit Tania. Sebuah tangan kekar, berhasil menariknya dengan keras hingga jatuh tepat diatas tubuhnya.
Mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Sang mangsa yang di incar tak berhasil di gapai. Terlihat, betapa marahnya si pengemudi karena aksi dadakannya itu tak bisa menuai hasil.
“Sial! Sial! Sial!”
Berulang kali tangan itu di hentakkannya, di putaran setir kemudi. Wajahnya memerah, menahan kesal karena tak bisa melukai Tania.
“Jika saja tadi tidak ada orang itu. Pasti wanita ****** berserta ******** kecil yang ada di rahimnya itu sudah mati di sana.”
Gerutu wanita si pengemudi mobil.
Sementara itu di pinggir jalan.
“Aduh! Kakiku,” Tania meringis, karena nyeri di kakinya. Hentakkan keras tangan kekar yang menariknya itu, membuat kaki Tania tergelincir saat jatuh ambruk di sana.
“Apa kau tidak apa-apa?” terdengar suara yang khas dari si pemilik tubuh. Terasa tak asing, dan sangat mirip dengan suara seseorang.
Tania lantas mendongak keatas, berusaha melihat siapa pemilik suara. Ternyata benar. Si pemilik suara, benar benar sangat ia kenal.
“Kak Sam.” Lirih Tania.
“Ya, Nia, kau tidak apa-apa kan?” tanya Sam menatap kebawah.
“Nia, ngngak apa-apa kak.” ujarnya yang kini sudah duduk di pinggir jalan.
“Syukurlah kalu begitu,” sambut Sam, yang kini sudah berdiri di depan Tania sambil menepuk-nepuk debu yang menempel di jas nya.
“Makasih ya Kak Sam. Kalau tadi nggak ada kakak, entah bagaimana nasih Nia dan calon bayi Nia ini.” Tania terlihat mengelus perut ratanya itu.
“Hmm, sama-sama.” Sam mengangguk.
Sore itu, Sam menghentikan mobil mewah miliknya di depan sebuah kios kecil yang ada di pinggir jalan. Tenggorokannya terasa sangat kering, hingga pada saat ia melihat ada sebuah kios yang menjual air mineral. Sam lantas berhenti di sana.
Setelah membayarkan harga dari air yang di beli. Sam lantas segera membalikkan badan hendak kembali kedalam mobil. Namun, saat hampir tiba di mobilnya, Sam melihat Tania yang tengah berdiri di pinggir jalan sendirian.
Sam lantas mengalihkan badan menuju kearah Tania. Berniat menyapanya, serta menawarkan tumpangan untuknya. Namun, saat Sam hampir tiba di sana. Ia melihat, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi kearah Tania.
Hal itu, lantas membuat Sam bergerak dengan cepat. Saat mobil itu hampir menyentuh tubuh Tania, Sam berhasil menarik Tania dan membuatnya jatuh menimpa tubuhnya.
“Lain kali, hati-hati ya. Jangan berdiri terlalu dekat dengan jalan.” nasehat Sam.
“Iya, Kak.” angguk Tania.
“Oya, kakimu kenapa?” tanya Sam seraya melihat kearah kaki Tania yang sedai tadi di elusnya.
“Ini, Kak, pergelangan kaki Nia, sakit.”
“Coba sini, aku lihat.” Sam berjongkok, Tania mengulurkan kakinya membiarkan Sam memeriksa.
Di seberang jalan, terlihat sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Si pemilik mobil, membuka kaca jendela mobilnya dan melihat Sam dan Tania yang tengah duduk di seberang sana.
Pemilik mobil itu mengerutkan dahi, memicingkan mata menatap tak senang kearah mereka. Lalu kemudian, ia menyuruh supirnya untuk memutar mobilnya ke seberang sana.
Ckiit!
Mobil berhenti tepat di depan Tania dan juga Sam yang tengah memijit kakinya. Tania mendongak keatas, melihat kearah mobil yang terlihat tak asing baginya. Pintu mobil terbuka, lalu kini keluarlah sesosok pria darisana.
“Joe.” lirih Tania.
Ternyata benar, itu adalah mobil Joe.
“Joe, kau di sini.” Tania mengulas senyum hangat. Tapi, sayangnya Joe menyambutnya dingin.
Joe, menarik tangan Tania dengan kasar. Memaksanya untuk berdiri darisana, membuat Tania kembali meringis kesakitan.
“Joe, aku tidak bisa berdiri, kaki-ku terkilir!” jelas Tania.
“Tuan Joenathan, bisakah anda bersikap lembut sedikit dengan Tania. Kasihan dia, kakinya sedang sakit sekarang.” timpal Sam.
“Siapa kau, berani-beraninya mengkhawatirkan istriku.” Tatap Joe tajam. “Jangan kira, dengan status ‘kakak’ mu itu kau bisa dengan mudah mencampuri urusanku.” Joe mendelikkan mata.
“Joe! jaga sikapmu, Kak Sam lah yang tadi menolongku.” tukas Tania.
“Menolong?” Joe, mengerutkan dahi. “Masuk kedalam mobil sekarang juga!” sentaknya, dengan nada tinggi.
Sam mengepalkan tangan. Sikap Joe yang kasar kepada Tania membuatnya geram. Perasaan yang di simpannya selama bertahun-tahun ini untuk Tania, membuatnya tak terima melihat wanita yang ia suka di perlakukan semena-mena di depannya.
Ingin sekali rasanya ia menghajar pria di depannya. Namun, saat melihat kearah Tania, niat itu urung di lakukan. Ya, Tania sedang hamil sekarang. Bagaimanapun, ayah dari bayi itu adalah pria brengsek yang ada di depannya. Jika Sam benar-benar merealisasikan niatnya, pasti itu akan membuat Tania sedih, dan berpengaruh buruk kepada janinnya.
Perlahan, Sam melonggarkan kepalan tangannya, lalu membiarkan Joe membawa Tania dengan paksa.
Buuk!
Dengan keras, Joe melempar Tania di kursi belakang. Lalu kini setelah ia masuk, pintu mobil pun di hentakkannya dengan keras.
Baamm!
“Joe, kau gila ya! Melemparku dengan sembarangan, apa kau sudah tak ingat lagi jika saat ini aku sedang hamil!” seru Tania.
Jelas saja, ia tak terima di perlakukan kasar oleh Joe karena merasa tak berbuat kesalahan.
“Hah, ternyata kau masih ingat jika saat ini kau sedang hamil.” Ucap Joe dingin.
“Apa maksudmu, jelas saja aku tau jika saat ini aku sedang hamil.” Sungut Tania.
“Kalau kau sadar jika saat ini kau sedang hamil. Lalu mengapa, kau berkeliaran di luar dengan ‘kakak’ mu itu tanpa memberi kabar apapun padaku?” tanya Joe.
“Joe, aku sudah menelfon. Berniat ingin memberitahukanmu, tapi kau sama sekali tak menjawab. Sebuah pesan juga sudah ku kirimkan, tapi kau juga sama sekali tak membalas.” Jelas Tania.
“Menelfon, haha, jangan berkilah. Jika kau memang menelfonku, mana mungkin aku tidak menjawab.” ujar Joe.
“Kau fikir, aku bohong? Apa kau sudah mengecek ponselmu? Lihat dulu sana sebelum mengambil kesimpulan.” sentak Tania.
Joe meraih ponsel, yang ia letakkan di saku jas nya. Di hidupkannya layar ponsel, dan benar saja. Sepuluh panggilan tak terjawab, serta dua pesan dari Tania ada di sana.
Sial, ternyata aku lupa mengubah mode ‘mute’ yang ada di ponselku.
Batin Joe.
“Benar kan, ada panggilanku dan juga pesanku di sana?” Tania tampak melirik kearah ponsel Joe, dan memang menemukan jika panggilan dan pesan itu memang ada, dan ternyata belum di buka.
“Hal ini tetap tak bisa membenarkan jika kau menghabiskan waktu seharian dengan si Sam itu.” tatap Joe dingin.
“Joe, pertemuan ini tidak di sengaja. Tadi sebuah mobil melaju kencang kearahku, dan aku hampir saja di tabrak. Untung saja ada Kak Sam, dia menarik tanganku, dan aku selamat dari tabrakan mobil itu. Hanya, pergelangan
kakiku saja yang terkilir, dan seharusnya kau berterimakasih kepadanya.” jelas Tania.
“Hah, jadi sekarang kau mengatakan jika Sam adalah dewa penolongmu, dan aku harus beterimakasih kepadanya? Jangan harap!” Joe melipat kedua tangan di dadanya.
“Mengingat bagaimana sikapmu tadi kepadanya, hal itu harus kau lakukan. Ingat Joe, jika bukan karena Kak Sam, entah bagaimana nasib ku kini. Mungkin, aku dan Anakku akan mati dengan mengenaskan di jalan itu.”
“Itu, urusanmu. Salahmu sendiri kenapa kau tak keluar tanpa se-izinku.” tekan Joe, yang tetap bersikukuh pada pendiriannya.
Nyuuutt!
Kalimat Joe barusan menusuk sangat dalam ke dalam sanubari Tania. Bagaimana bisa Joe mengatakan hal seperti itu. Apakah ia sama sekali tak ada arti baginya? Dirinya, serta anak yang saat ini tengah di kandungnya. Mungkinkah sama sekali tak punya arti apapun dalam hidupnya? Tania meradang, sedih, serta kecewa, hingga akhirnya wanita itu memilih mengakhiri percakapannya, dengan menatap kearah luar.
TBC.