
Pujian Bayu membuat Wulan sangat terkejut. Hal itu karena selama ini pria itu selalu memusuhinya, menindas, menghakimi, hingga membuat Wulan tak sanggup lagi dengan pekerjaannya dan memilih keluar dari sana.
“Wulan, aku sangat merindukanmu.”
Kalimat lain kini terdengar, disertai tatapan sayu yang kini menatapnya.
“Maafkan aku.”
Lagi-lagi, telinga Wulan dikejutkan dengan pernyataan pria angkuh yang saat ini ada didepannya.
“Kau,” kening Wulan mengerut.
“Maaf, maafkan atas semua kesalahan ku. Aku sangat menyesal karena dulu pernah menindas mu, menghakimi mu dengan sesuka hatiku,” wajah Bayu penuh sesal.
“Sudahlah, aku pun sudah tidak memikirkannya lagi,” kata Wulan. “Lagipula, dengan kejadian itu aku bisa terlepas dari sana,” tambahnya.
“Belakangan, aku bahkan menyadari jika pekerjaan itu sangat tidak cocok denganku. Menjadi salah satu pelayan Caffe, mungkin itu adalah pekerjaan yang pas buatku, karena dengan seperti itu aku tidak perlu lagi repot-repot
berpikir. Hanya mengeluarkan sedikit tenaga saja, maka aku bisa menyelesaikan tugasku.”
“Kau, kembali menjadi pelayan Caffe sekarang?”
“Ya,” angguk Wulan.
“Maaf, aku sungguh minta maaf Wulan.”
“Sudahlah, bukankah sudah ku bilang jika aku mensyukurinya. Menjadi seorang pelayan Caffe, itu adalah hal yang lebih menyenangkan dari pada harus menggeluti pekerjaan sebagai sekretaris pribadi, aku merasa sangat tidak
cocok dengan posisi itu,” kata Wulan.
“Tapi Wulan, aku tetap merasa …”
“Sudahlah,” sela Wulan.
Sejenak mereka berdua terdiam, saling memandang satu sama lain tanpa ada yang membuka suara, hingga akhirnya …
“Ekhm!” sengaja Bayu membuat suara. “Jadi Wulan, apakah sekarang kau sudah memaafkan ku?” tanya nya kini.
“Tentu, tentu saja,” sambut Wulan cepat.
Gadis itu kini mulai menghabiskan sisa-sisa terakhir yang ada di gelas nya.
“Syukurlah,” embus napas Bayu lega.
Lagi-lagi keheningan kembali tercipta. Beberapa bulan tak bertemu membuat keduanya tak banyak bicara, keduanya bahkan terlihat sangat canggung sekali terlebih lagi Wulan. gadis itu bahkan hampir tak membuka mulutnya jika Bayu tidak mengajaknya bicara.
“Wulan,” kembali Bayu memanggil.
“Hmm, ya,” lagi-lagi hanya sebuah jawaban singkat.
“Bolehkah aku jujur?”
“Jujur? Silakan,” sambut Wulan ragu.
Sebenarnya apa yang ingin dikatakannya, kenapa wajah nya Bayu terlihat semakin gusar sekarang?
Batin Wulan.
“Apa!”
Sontak, Wulan terkejut.
“Aku mencintaimu Wulan, aku mencintaimu,” berulang kali kalimat itu keluar dari mulut Bayu.
“Apa kau waras? Kau sedang mabuk sekarang ya?” tanya Wulan tak percaya.
Bayu yang sebelum-sebelumnya suka sekali memarahinya, menindasnya, berbuat sesuka hatinya hari ini malah mengatak cinta padanya.
Apa pria ini sudah gila?
“Aku waras Wulan, aku tidak mabuk. Apa yang aku katakan barusan, semuanya benar. Aku mengatakannya dengan penuh kesadaran.”
Bayu mencoba menyakinkan.
“Wulan.”
Tangan Bayu kini mulai merengkuh sebelah tangan gadis itu, lalu mengenggamnya lembut.
“Bisakah kau terima cintaku? Bolehkan aku menjadi kekasihmu?”
Deg!
Jantung Wulan berdegup kencang, darahnya berdesir mengalir hangat keseluruh penjuru tubuhnya.
Bagaimana ini, apa yang harus ku katakan, aku …
“Tania.”
Di tengah kegalauan yang tengah melanda hati nya, karena lontaran cinta mendadak. Tak sengaja Wulan mengerlingkan mata dan melihat ada Tania di sana.
“Ups, sorry,” ekspresi Tania terlihat tak enak.
Astaga … apa aku saat ini sedang menganggu mereka. Kenapa, momen nya pas sekali. Bayu mengucapkannya saat aku sudah tiba di sini.
“Nia, syukurlah kau datang. Tiba-tiba saja tubuh ku merasa tidak enak, sepertinya aku akan segera sakit. Aku pamit pulang terlebih dulu ya.”
“Sakit, tapi kenapa …”
Kalimat Tania terputus, karena Wulan yang saat ini sudah pergi dari sana.
“Aaa … Bayu, maafkan aku. Aku tadi tidak sengaja,” sesal Tania. “Tapi saran ku jika kau memang benar-benar mencintainya, maka kejarlah dan antarlah dia pulang. Aku tau pasti saat ini Wulan pulang bukan karena sakit, melainkan malu karena kau yang baru saja menyatakan cinta padanya.
“Tania benar,” sambut Joe yang baru saja datang.
“Jika kau memang mencintainya, kejarlah, jangan biarkan dia lepas. Karena sesuatu yang telah pergi akan sangat sulit untuk kembali,” tutur Joenathan.
Mendengar hal itu, membuat Bayu mengambil keputusan. Benar apa kata Joenathan, jika sesuatu yang telah pergi akan sulit untuk kembali. Setelah sekian lamanya, hari ini mereka kembali bertemu. Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini.
Segera Bayu pun berlari menuju ke arah Wulan.
TBC.