
(Pov: Joenathan)
Malam itu.
Setelah menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Memberi nafkah batin kepada Tania. Joe, kini terlihat duduk di kursi balkon yang ada di kamarnya. Secangkir kopi buatan pelayan, menemaninya di sana.
Matanya fokus kedepan, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ya, Joe memikirkan tentang pertengkaran yang baru saja terjadi. Sepuntung rokok sudah habis terbakar ia sudutkan. Yang, kemudian ia buang di sebuah asbak yang
ada di meja.
Ya, Joe, merokok. Hal itu ia lakukan jika hanya sedang dalam masalah. Ataupun beban fikiran yang tengah melanda. Seperti saat ini. Meskipun masalah terlihat seudah terselesaikan. Tapi, itu tidak bagi Joe.
Otaknya, masih memikirkan tentang hal itu. bagaimana, menjauhkan orang-orang asing yang menjadi pertengkaran dalam rumah tangga mereka. Bukan hanya tentang Sam yang mendekati Tania. Tapi, juga tentang Katty, yang seolah-olah selalu hadir menganggu hidupnya.
Katty, kejadian hari ini mungkinkah itu sebuah ketersengajaan, atau memang sebuah hal yang kebetulan. Ingin sekali Joe menduga, menjadikan Katty sebagai tersangka. Tapi, apa buktinya? Lagipula, belakangan ini Joe merasa Katty sudah mulai sedikit menjaga jarak dengannya.
Hal itu, jelas terlihat dari bagaimana cara Katty bersikap meskipun sedang tak ada Tania bersamanya. Katty tak pernah lagi menggodanya. Setiap kali bertemu, ia hanya tersenyum seadanya, berbicara seperlunya, layaknya orang lain pada umumnya.
Tapi, sore itu, kenapa dia juga tiba-tiba ada di toko bunga itu? Mungkinkah Katty sengaja membuntutinya, lantas mendatanginya dan seolah-olah jatuh kedalam pelukannya, dan dengan sengaja meninggalkan bekas lipsticknya agar memicu kesalahpahaman di antara Joe dan Tania? Heh, kurang kerjaan sekali dia.
Joe, menggelengkan kepalanya seraya tersenyum sinis kemudian.
Katty, aku harus bisa menyingkirkannya agar kelak Tania tak merasa terganggu dengan kehadirannya.
Batin Joe.
Setelah meneguk cairan yang berwarna hitam pekat yang terdapat di gelasnya. Joe, kini kembali memasuki kamarnya. Dilihatnya, kearah ranjang, Tania masih terlelap di sana. Joe, lantas ingin bergegas menuju kearah
kamar mandi. Namun, baru dua langkah kakinya berpijak, di ubin lantainya. Ponselnya berdering, membuat Joe mengalihkan pandangannya.
“Siapa yang menelfon di jam segini?” lirih Joe sambil membelokkan badan. Mendekati ponsel yang ia letakkan di meja samping tempat tidur.
Setibanya di sana.
“Katty?” Joe memicingkan mata. Dahinya seketika mengerut, saat mendapati nomor panggilan yang masuk adalah Katty, si mantan kekasih.
“Ada apa dia menghubungiku tengah malam begini?” tanya Joe lagi, sambil menghadap layar ponselnya.
Awalnya, Joe membiarkan panggilan itu. Tak ingin menggubris. Tapi, Katty terus menelfon. Sehingga membuat Joe berfikiran untuk menjawabnya.
“Hallo,” sapa Joe saat menerima telefonnya.
“Joe, tolong aku!” terdengar, seruan suara yang begitu depresi darisana.
“Tolong, tolong apa?” tanya Joe.
“Mobilku menabrak pohon yang ada di jalan X. Dan sekarang, mogok. Aku, sudah berusaha menghubungi orang bengkel langgananku. Tapi, tak ada yang menjawab. Beberapa rekanku yang lainnya, juga sudah ku hubungi. Tapi,
mereka semua juga tidak mengangkat telefonku.” ujar Katty.
“Terus, apa urusannya denganku?” suara Joe terdengar dingin.
“Joe, kau dan aku sudah saling kenal sejak dulu. Dan bahkan, aku sudah menganggapmu sebagai orang terdekatku.” ujar Katty.
“Orang terdekat? Ingat Katty, kita sudah tak lagi bersama.” tukas Joe.
“Aku tau, aku tau itu. Kita sudah tak lagi bersama. Tapi, bukankah sekarang kita berteman?” tanya Katty. “Please Joe, tolong aku, kali ini saja. Aku takut disini sendirian, aku-aku sudah tidak tau lagi mau menghubungi siapa.” Katty memohon.
Joe, terdiam. Terlihat memikirkan perminta tolong Katty padanya. Haruskah ia menolongnya? Dilihatnya kearah jam yang menempel kokoh di sana. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 00:47 WIB.
Ini sudah tengah malam, haruskah aku keluar menolongnya?
Tanya Joe dalam hati.
“Joe, please. Tolong aku kali ini saja. Aku janji, setelah ini aku tidak akan pernah lagi meminta bantuan apapun padamu.” lagi, Katty memohon. “Joe, aku sangat takut disini sendirian. Kau tau kan, disini sangat sunyi. Jarang sekali ada orang yang lewat. Meskipun ada, biasanya itu para begal yang berkeliaran mencari mangsa.” tambah Katty lagi.
Joe menarik nafas panjang. Lalu kini dengan berat hati, akhirnya dia mengiyakan. Ya, bagaimanapun ia seorang pria yang juga mempunyai hati nurani. Terlebih masalah apa yang pernah terjadi diantara keduanya. Saat ini, Katty terdengar amat-sangat sedang membutuhkannya, memohon bantuan padanya.
Lagipula, bukankah tadi Katty telah berjanji untuk tidak akan pernah lagi menganggunya. Ya, Joe juga harus menegaskan hal itu. Kedepannya, selain urusan kantor. Katty dilarang bertemu dengannya. Meskipun terbilang kasar, bahkan terkesan kejam. Tapi, Joe sudah memutuskan.
“Sayang, malam ini aku akan menuntaskan segalanya. Kelak, hubungan kita tidak akan ada lagi gangguan. Semua yang mencoba membuatmu tak nyaman, akan aku singkirkan.” Bisik Joe lembut di telinga Tania, setelah itu tak lupa ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningnya.
Kini, Joe pun benar-benar pergi ke alamat jalan yang di kirim Katty melalui pesan di ponselnya.
***
Di pinggir jalan yang teramat sunyi dan gelap. Terdapat sebuah mobil Alphard berwarna putih menabrak pohon besar yang terdapat di pinggir jalan. Terlihat, bagian depan mobil tergores dan sedikit penyok. Tak terlihat Katty di sana, laly Joe mendekati pintu mobil menerawang kedalam dari luar.
Katty, terlihat duduk di dalam, dengan ponsel yang di genggam kuat olehnya. Tubuhnya tampak gemetar ketakutan. Mungkin, itu karena Katty yang fobia akan kegelapan. Terlebih lagi suasana jalan yang gelap dan
sunyi. Dan juga mobilnya yang barusaja menghantam sebuah pohon besar, sehingga membuatnya mogok di sana.
Joe, pun kini mengetuk-ngetuk kaca mobil, agar Katty membuka pintunya.
“Joe!” seru Katty setelah membuka pintunya. Tubuhnya langsung ia hamburkan kearah Joe seraya memeluknya erat. “Joe, aku takut sekali.” Lirihnya.
Melihat kondisi Katty yang terlihat sangat ketakutan seperti itu. Membuat hati, Joe, merasa iba. Tapi, walau bagaimanapun pelukan ini salah, sehingga kini ia melepaskan pelukan Katty darinya.
“Sudahlah, jangan takut lagi. Bukankah aku sudah datang sekarang. Ayo masuk kedalam mobilku, dan aku akan mengantarmu pulang.” tukas Joe.
Katty mengunci mobilnya. Sementara Joe, sudah terlebih dahulu masuk kedalam mobil miliknya. Setelah Katty duduk di kursi yang ada di sampingnya. Joe, pun lantas menghidupkan mesin mobilnya dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Tak ada banyak kata. Joe, tak menanyakan apapun pada Katty. Karena yang terpenting saat ini baginya adalah, mengantarkan Katty pulang kerumahnya, lalu menegaskan tentang bagaimana sikap Katty padanya.
Katty, pun tak banyak bicara. Ketakutannya masih terasa, membuatnya memilih diam tanpa suara.
Mobil kian melaju, membelah jalanan Ibukota. Beberapa saat kemudian, mobil itu memasuki salah satu apartemen elit yang ada di Ibukota.
“Sudah sampai.” ucap Joe setibanya di depan gedung apartemen.
“Terimakasih, Joe. Tapi, bisakah kau mengantarku hingga masuk kedalam?” tanya Katty penuh harap.
“Hmm, ya.” Joe mengangguk. Ia menuruti permintaan Katty.
Bukan tanpa alasan, Joe, melakukan hal itu. Semua itu bertujuan karena dia ingin menegaskan tentang janji yang diucapkan Katty, dan juga tentang kegelisahan yang melanda diri. Mengingat kondisi Katty yang sekarang ini. Akan lebih leluasa untuknya berbicara dengan Katty setelah tiba di kamar apartemennya.
Setibanya di depan kamar apartemen Katty.
“Apa kau mau masuk kedalam?” tanya Katty.
“Ya, kebetulan ada yang ingin aku bicarakan.” Sahut Joe.
“Hmm, baiklah. Silahkan masuk, maaf jika apartemenku berantakan.” tukas Katty sembari mempersilahkan Joe masuk kedalam.
Katty, melangkah masuk menuju kearah dapur. Untuk membuatkan sedikit minuman kepada Joe. Sementara Joe, ia kini terlihat duduk di salah satu sofa yang terdapat di ruang tamu yang ada di sana.
Setelah selesai membuatkan secangkir teh untuk Joe. Katty pun lantas bergegas menghampiri Joe yang tengah duduk di sandaran sofa. Melihat kedatangan Katty, Joe yang saat itu ingin sekali pergi ke toilet, lantas berdiri dari tempatnya.
“Loh, Joe, kau mau kemana? Ini, aku barusaja membuatkan teh untukmu.” ujar Katty tatkala melihat Joe yang berdiri setelah kedatangannya.
“Aku, ingin pergi ke kamar mandi sebentar.” sambut Joe.
“Oh, yasudah kau pergi saja kearah sana. Sebelum sampai dapur, kau akan menemui toiletnya.”
“Hmm, terimakasih.”
Setelah kepergian Joe. Katty kemudian hendak membalikkan badan berniat pergi beralih kedalam kamarnya. Namun, sekelebat cahaya dari atas meja, membuat pandangannya kembali teralihkan. Sebuah ponsel yang menyala, ternyata berhasil mencuri perhatian Katty saat itu juga.
Katty, lantas mendekati meja itu dan melirik kearah ponsel. Ada panggilan tak terjawab darisana. Awalnya, Katty tak ingin menggubris panggilan itu. Namun, pada saat ia hendak membalikkan kembali badannya. Cahaya lampu
kembali menyala, membuat Katty mengurungkan niatnya.
‘Istriku’ sebuah panggilan kembali masuk. Katty pun kembali menatap layar ponsel milik Joe. Saat melihat nama istimewa yang tertera di sana. Seketika, pikiran jahat merasuki otaknya. Katty dengan lancang menjawab panggilan tersebut.
TBC