
Dinginnya malam, begitu terasa menusuk hingga ketulang. Hembusan angin yang kian menerpa, dari balik jendela dan juga tirai yang dibiarkan terluka. Seorang anak manusia, terlihat berdiri di sana. Seolah ingin merasa, sejuknya udara tengah menerpa.
Joe, melamun meratap sepi. Mengingat akan cintanya kepada si kekasih hati. Hati, yang telah dikosongkan dan hanya satu yang terisi. Berusaha keras untuk tetap setia kepada si jantung hati. Tapi, kini jantung hati sedang memberontak. Berusaha keras untuk keluar meninggalkan dirinya. Sehingga, jika kepergiaannya, bagaimana tubuh itu akan bisa tetap bertahan.
Malam ini, Joe, kembali sendiri. Setelah, Tania, yang menolak diri untuk didekati. Membuat, rasa hati seakan sakit, tatkala harus menahan diri. Ingin sekali rasanya, Joe, mendekap. Memeluk erat, membelai Tania. Mengusap lembut perut ratanya, sambil membisikkan kalimat cinta di telinganya. Namun, sayang, hal itu tak mungkin terjadi. Garis merah kini telah membentang panjang, menghalangi jalan untuk meraih asa. Dinding pembatas sudah terbentuk,
seolah memberi jarak diantara keduanya.
Andai saja tadi, Joe, dapat menahan sedikit amarahnya. Bersabar, dengan apa yang dilihatnya. Mungkin, kejadiannya tidak akan seperti ini. Cemburu, satu kalimat sederhana yang mampu merusak segalanya. Berawal
karena rasa, lalu berakhir menjadi petaka jika tidak dapat mengontrolnya. Hal itulah yang saat ini yang Joe rasakan. Ia seakan memahami, bagaimana sakitnya Tania saat ini. Jika, Joe, saja merasa kesal, bahkan hampir kehilangan akal dengan pesan yang dibacanya. Apalagi, Tania, mendengarnya saja sudah membuat salah paham. Apalagi, saat Tania tau, jika suara itu berasal dari Katty, si mantan pacar.
“Aaarrrrgggh! Katty, ini semua gara-gara kau!” Joe, mengerang kesal. Dengan tangan yang terkepal. Dadanya seakan sesak sekarang, karena emosi yang tak tertahankan.
Disalah satu kamar yang lainnya. Terlihat, seorang wanita duduk diatas ranjang dengan ponsel rusak di tangannya. Batre yang lepas dari tempatnya, berusaha dipasang, dengan harapan agar kembali hidup setelahnya.
Namun, sayangnya asa itu harus sirna meninggalkan, Tania, yang sedang berada dikegelapan. Airmata kian menetes membasahi sprei yang terpasang di kasur yang diduduki Tania. Benda berharga satu-satunya kini sudah
rusak, tak dapat diperbaiki.
Tania, melamun menatap sepi. Kehangatan, serta keramaian kamar itu kini telah hilang. Wanita itu kini terlihat meringkuk, dalam kedinginan malam yang semakin menusuk. Tania, berusaha memejamkan mata, tapi tak bisa. Kelopaknya seakan enggan tertutup, seolah-olah tak ingin menghabiskan malam begitu saja.
Berulang kali, Tania, terus berusaha. Membalikkan badan, agar bisa terlelap. Tapi, itu tidaklah terjadi, karena hati yang terus memikirkan sang kekasih.
“Apa yang harus aku perbuat sekarang? Haruskah aku percaya padanya, setelah mendengar semuanya? Suara itu terdengar begitu nyata, dan bahkan asalnya dari Katty. Haruskah aku percaya jika di sana tidak terjadi apa-apa. Sedangkan mereka, pernah berbagi rasa sebelumnya.” lirih Tania.
Tangisnya, kembali tak terbendung tatkala sebuah gambar percintaan antara Joe, dan Katty melintas di benaknya.
“Aarrrgghh!” Tania, mencengkeram kepalanya. Menarik rambut, mengacak-acaknya hingga terlihat berantakan. Strees, akibat beban fikiran yang terus melanda. Membuatnya, frustasi serta hampir seperti orang gila sekarang.
“Ya, aku harus pergi. Aku, harus pergi!” Tania, lantas bangkit dari tidurnya.
Ia melompat turun dari ranjang, dan berlari menuju kearah pintu kamar.
Srreek! Srreekk! Srreeekk!
Tak bisa di buka. Pintunya, terkunci dari luar. Joe, sengaja mengunci pintu kamarnya. Karena takut, jika Tania, memilih nekat untuk kabur darisana.
“Aaaahhh! Siaalll!!” sepasang tangan melayang di udara, lalu kemudian terhempas jatuh ke bawah. “Pintunya di kunci. Terus, bagaimana sekarang aku bisa keluar darisini!” frustasi, Tania lalu melirik keseluruh ruangan. Mencari, tempat dimana ia bisa keluar darisana. Lalu, matanya menuju kearah pintu balkon, dan kemudian Tania lari kearah sana.
Terbesit di fikirannya kini. Ingin melompat dari atas balkon, agar bisa berada di bawah sana. namun, saat melihat ketinggian yang begitu lumayan. Tania, lantas terlihat enggan melakukannya.
“Bagaimana aku bisa melakukannya. Ini, terlalu berbahaya. Bisa-bisa, anakku nanti—“ kalimatnya tidak usai. “Astaga… apa yang aku fikirkan. Bukankah, jika aku melakukan ini, itu sama saja akan menyakiti bayiku. Anak, ini tidak bersalah. Bagaimana bisa aku melibatkannya dalam masalahku dan Joe.” Tania, lantas beringsut, terduduk di lantai.
Di tempat lainnya.
Seorang pria terlihat duduk termenung disalah satu ruangan pribadinya. Ruang kerja, yang dilingkupi dengan dokumen-dokumen dan juga beberapa buku kesukaan yang sengaja ia letakkan di sana. Jika ia merasa jenuh dengan pekerjaannya. Maka, ia akan meninggalkan pekerjaannya, dan membaca buku kesukaannya tanpa harus pergi ke ruang baca.
Sam, duduk termenung sambil menatap layar ponselnya. Pesan terakhir sudah terbaca. Tapi, Tania tak kunjung membalasnya. Berulang kali, Sam, mencoba menghubungi. Namun, nomor yang dituju tidak dapat dihubungi.
Belum lagi, rasa penasarannya terjawabkan. Saat, Tania, memintanya untuk menjemputnya malam itu. Sekarang, Tania, malah menghilang tanpa kabar setelah mengirim pesan padanya. Terakhir, pesannya itu menggambarkan jika saat ini ia sedang mengalami sesuatu masalah yang sangat sulit. Bahkan, sangat pelik untuk dijabarkan. Membuat, Sam, semakin gundah saat mengingatnya.
“Tania, semoga saja tidak terjadi apa-apa denganmu.” lirih, Sam, sembari menyandarkan tubuhnya di kursi kebanggannya. “Dan, kau Joe. Jika saja kau berani menyakiti Tania. Jangan harap, jika aku akan membiarkannya
begitu saja. Aku, Samuel Vydrick, berjanji. Akan membawa Tania pergi jauh, jika kau sampai membuat Tania’ku terluka.” imbuh, Sam, dengan tangan yang mengepal kuat.
Keesokan harinya.
Setelah membersihkan tubuhnya. Joe, lantas bergegas keluar dari kamar. Wajahnya terlihat lelah, dengan lingkaran mata yang menghitam. Ya, Joe, tidak tidur semalaman. Fikirannya, terus di hantui rasa bersalah hingga membuatnya tak bisa tidur nyenyak.
Joe, melangkah pasti. Menyusuri koridor menuju ke kamar yang satunya. Lalu kemudian, ia mengeluarkan kunci kamar, dari saku celananya.
Ceklek!
Dilihatnya, ruang kamar itu terlihat berantakan. Selimut berada di lantai, beserta bantal-bantal yang ikut berceceran tak beraturan. Membuat, Joe, mengernyitkan dahinya.
Sementara itu diatas ranjang. Terlihat, Tania, duduk dengan melipat kedua kakinya. Merangkulnya, dengan kedua tangannya, serta kepala yang ia sandarkan diatas lutut untuk menopang kepalanya. Joe, mengerlingkan padangannya kesana. Hatinya, merasa terenyuh manakala mendapati, Tania, yang terlihat murung, meratapi pilu.
“Sayang…” sapa Joe, saat sudah mendekat dan berdiri di samping Tania.
Tania, diam tak bergeming.
Joe, lantas membungkuk, lalu jongkok dengan kedua lutut yang menopang tubuhnya. “Apa, kau masih marah?” tanyanya dengan pandangan mata yang menyilak, agar bisa dengan jelas melihat wajah Tania.
Tania, masih saja diam tak menjawab.
Didapati, Joe, jika wajah Tania terlihat kurang sehat. Matanya bengkak, dengan lingkaran hitam yang terlihat begitu nyata. “Apa, kau menangis semalaman?” tanya Joe lagi yang tak kunjung mendapatkan respon dari Tania. “Maaf, maafkan aku. Tolong, maafkan aku. Jika, kau marah kepadaku, hukumlah aku. Jangan perlakukan dirimu sendiri seperti ini.” lirih, Joe.
Tania, mengangkat kepalanya, pelan. Lalu, kini ia menatap mata Joe dengan seksama.
“Joe, apakah benar kau tidak mengkhianatiku?” tanya Tania.
“Ya,” Joe, mengangguk pelan.
“Benarkah, jika malam itu kau sama sekali tidak melakukan hal itu dengan Katty?” tanya Tania lagi,. Namun, kali ini suaranya terdengar begetar.
Joe, kemudian merapatkan tubuhnya dengan Tania. Dirangkulnya tubuh wanitanya, sembari menatap matanya lekat-lekat. “Tania, malam itu… tidak terjadi apapun antara aku dan dia. Itu, semua jebakan yang sudah direncanakan. Katty, menghubungiku, meminta tolong padaku malam itu. Mobilnya, menabrak sebuah pohon di persimpangan jalan sepi. Ia menghubungi rekan-rekannya, untuk meminta tolong. Tapi, tidak ada satupun yang merespo. Maka dari itu, malam itu ia menghubungiku untuk meminta tolong kepadaku. Jujur, aku salah, aku malah
datang menolongnya ditengah malam tanpa memberitahukannya padamu, meninggalkan kamar kita, tanpa sepengetahuanmu. Aku, nekat datang malam itu karena, ia berjanji untuk tidak akan lagi menggangguku, mengganggumu, mengganggu hubungan kita.”
Sejenak, Joe, berhenti. Ia, terlihat mengatur pernafasannya, baru kemudian kembali melanjutkan lagi ceritanya. Sementara, Tania, terlihat diam seolah sangat menyimak rangkaian cerita yang diutarakan Joenathan.
“Aku, sungguh tidak menyangka. Jika, ternyata Katty, bukanlah orang yang tau berbalas budi. Aku tanpa sengaja meninggalkan ponselku diatas meja ruang tamunya. Karena perutku sakit, dan pergi ke kamar mandi yang ada di sana. Dan, aku, sungguh tak menyangka jika ternyata ia telah menjawab panggilanmu dengan suara yang di buat-buat seperti itu.” Joe, melanjutkan kembali ceritanya. “Kau, tau Tania. Malam itu, setelah aku selesai dari kamar mandi. Katty, sengaja berpakaian seksi , serta menyemprotkan parfum perangsang keseluruh tubuhnya. Dan—“
Joe, tak melanjutkan lagi kalimatnya. Karena kini, Tania menimpalinya. “Dan, kau akhirnya terpengaruh dan melakukan hal itu dengannya?” tanya Tania dengan tatapan nanar. Terbesit, rasa kekhawatiran di setiap kalimatnya. Khawatir, jika suaminya itu benar-benar jatuh kedalam perangkap Katty dan melakukan hal yang tak semestinya.
Joe, tersenyum dengan kepala yang menggeleng pelan. “Ya, aku memang terpengaruh dengan obat itu. Tapi, aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Yang, ada didalam fikiranku saat itu hanyalah kau. Maka dari itu, sebelum aku benar-benar kehilangan akal. Dengan cepat, aku meninggalkannya, untuk pulang menemui di kamar. Dan juga, tanpa fikir panjang aku langsung melakukan hal itu dengan sangat kasar sehingga membuatmu terluka.” Joe, sudah
menceritakan semua kisahnya.
Tania, diam sembari terus menatap kearah Joe. Hatinya merasa sedikit lega, setelah tau kebenaran yang Joe ucapkan. Tapi, apakah itu bisa dipercaya? Mengingat, bagaimana sebelumnya kebersamaan diantara keduanya. Benarkah, Joe, sudah tidak lagi memiliki rasa terhadapnya? Tapi, malam itu, setelah kepulangannya darisana. Joe, memang sangat bringas, sehingga membuatnya begitu kesakitan dalam melayani hasratnya. Benarkah, malam itu Joe, benar-benar di beri obat perangsang?
Rentetan pertanyaan beriringan lewat di benak Tania. Kejadian malam itu seolah menjadi cambuk berat yang menyebabkan kesakitan yang mendalam baginya. Jujurkah, Joe? Tidakkah ia sengaja berbohong padanya, untuk menutupi semua kejahatannya. Tapi, belakangan ini.. Joe, memang menunjukkan perubahannya. Ia sama sekali sudah tak pernah melirik, ataupun menoleh kearah wanita yang sengaja berpenampilan seksi, dan juga sengaja mencari perhatian darinya.
“Aarrgghh!” Tania, mengerang. Kemudian, ia terlihat mengatur nafasnya. Berusaha menstabilkan emosinya. Ya, emosi bisa membuat segalanya menjadi rusak. Yang baik, menjadi buruk. Apalagi buruk, ia pasti akaan hancur lebur karena emosi yang tak bisa terkendali.
Perlahan, Tania, melepaskan lingkaran tangan kekar yang merajai bahunya. “Joe, aku tak tau tentang kebenaran itu. Tapi, aku ingin tau.” lirih Tania. “Aku, tidak hanya ingin mendengar cerita darimu. Tapi, aku juga ingin pembuktian jika kau memang tak melakukannya.”
“Pembuktian? Apa kau ingin aku membuktikannya?” tanya Joe.
Tania, mengangguk.
Semalaman ia berfikir, bagaimana caranya agar ia dapat menuntaskan masalah ini. Perut yang terasa nyeri, akibat ia yang berlarian kesana-kemari, membuat Tania berfikir, jika seperti ini terus yang akan menjadi korban adalah anaknya.
Tania, mencoba memikirkannya semalaman. Menenangkan hati yang sedang gusar. Meskipu itu, tidaklah mudah. Namun, memberikan Joe, sedikit ruang untuk menjelaskan telah, Tania. putuskan. Ia memantapkan hatinya, untuk mendengarkan. Meskipun nanti pada akhirnya ia akan dilanda kebimbangan. Tapi, yang pasti adalah, Tania, tak ingin menyesal. Jika, pun ternyata semuanya benar. Setidaknya, hatinya sudah mantap untuk memutuskan hubungan mereka, apapun yang akan terjadi nantinya. Namun, jika yang didengarnya malam itu ternyata salah. Hanya rencana Katty yang ingin menjebaknya. Maka, Tania berharap tak akan menyesalinya, karena telah meninggalkan, Joe, yang telah berusaha untuk setia.
TBC.