
Entah mengapa hati Bayu terasa panas. Sikap Wulan yang selalu keras, ketus, serta hampir tak pernah memandang tatkala sedang bertatap muka, membuat Bayu merasa kecewa. Apalagi, saat tadi sayup-sayup Bayu
mendengar, jika ada sosok pria di masa lalu yang telah membuat Wulan kecewa. Seketika rasa panas yang ada di hati kian menggelegak seakan ingin tumpah. Bayu lantas mengecup bibir Wulan tanpa sadar, api kecemburuan telah menutupi matanya dan juga hatinya. Sehingga kini, tanpa sadar ia memperlakukan Wulan dengan sangat kasar.
“Umm… umm….”
Wulan hampir tak bisa bernafas, kala Bayu dengan kasarnya mencium bibir Wulan, ********** tanpa memberi jeda sedikitpun untuk Wulan bisa bernafas. Tangannya berusaha berontak, namun Bayu menahannya dengan cara
menyatukan kedua tangannya dan mencengkeramnya dengan kuat.
Semakin gencar Bayu melakukan aksinya. Tidak hanya mencium, lidahnya kini bahkan sudah mulai menjelajahi setiap permukaan bibir dan juga rongga mulut Wulan. Ciumannya sangatlah bringas, membuat wajah Wulan terlihat sangat merah karena menahan nafasnya.
Ya Tuhan… selamatkanlah aku. Bisa-bisa aku mati di sini karena kehabisan nafas.
Batin Wulan.
Ciuman semakin menjadi, karena Bayu yang sudah tak sadarkan diri. Disepkannya sebelah tangannya masuk ke dalam kaos yang dikenakan Wulan, meraba kulitnya merasai setiap permukaan lembut yang ada di sana.
Sial! bisa-bisanya dia melakukan hal ini kepadaku. Bukan hanya menciumku dengan paksa, bahkan sekarang ia dengan berani merabaiku hingga seperti ini.
Sejenak Wulan terdiam mencari ide untuk bisa segera terlepas dari sana. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun sekarang.
Ya, kaki. Aku harus menginjak kakinya.
Segera Wulan melakukannya.
Puk!
“Arrrggghhhh!!”
Bayu terperanjat. Ciumannya sontak terlepas kala Wulan menhentakkan kakinya dengan sangat kuat ke atas permukaan kulit yang sedang mengenakan sandal jepit itu.
“Huufffttt… huufffttt….”
Wulan mengembuskan napasnya dengan kasar. Perlahan, mulai mengatur kembali pernapasannya.
“Rasakan, itu akibatnya jika kau berani menindasku, Tuan!” berbicara dengan napas tersengal-sengal.
“Kau!”
Bayu tampak memegang kakinya, tatapan matanya terlihat sangat tidak senang menatap ke arah Wulan yang sudah menjauhkan diri darinya, menjaga jarak mewanti-wanti dirinya sendiri jikalau saja Bayu kembali bertindak nekat, maka ia akan dengan mudah untuk melarikan diri dari sana.
“Itu balasannya, karena kau telah berani menindasku,” cibirnya dengan tatapan sinis.
“Lihat saja, setelah ini aku pasti akan membalasmu,” ancam Bayu.
“Itu jika kau bisa. Aku, Wulan, tidak akan pernah takut dengan ancaman siapapun!” tantangnya dengan memasang wajah sombong.
Gadis itu, lantas segera melarikan diri sesaat setelah mengucapkan kalimatnya.
“Hahahahahah… kejar aku kalau kau bisa!” pekiknya dari kejauhan dengan lidah yang sengaja dijulurkan keluar, sengaja memprovokasi Bayu yang masih berdiri di sana dengan sebelah tangan yang memegang pangkal pahanya.
***
Malam semakin larut dan sekarang sudah waktunya untuk tidur. Malam ini adalah malam kedua bagi Joenathan dan Tania bersama. Setelah berlari-lari seharian di pantai indah yang Bayu perkenalkan tanpa ada rasa lelah. Barulah sekarang, Tania merasakan pegal di kakinya saat sudah hendak mengistirahatkan tubuhnya.
“Ya, Tuhan… betisku terasa sakit sekali,” tangan Tania terlihat memijit-mijit betisnya yang sedang terasa kaku, mengeras.
Tania melakukannya, hingga rasa kaku yang tadinya menghinggapi betisnya perlahan menghilang.
Sementara itu di dalam kamar mandi. Setelah membersihkan tubuhnya, Joenathan kini masuk ke dalam kamar dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Tubuhnya bertelanjang dada, dengan otot-otot putih kekar yang terpampang di sana.
Ceklek!
di depannya.
Joenathan berjalan menuju ke arah almari yang ada di sudut sana, meraih sebuah kaos dengan bahan yang sangat lembut serta sebuah celana boxer miliknya. setelah menutup kembali lemari itu, Joe perlahan melangkahkan kakinya berjalan menuju ke arah pembaringan, melemparkan kaos serta celana boxer yang di ambilnya tadi begitu saja di atas kasur yang ada di depannya.
Deg!
Jantung Tania berdegup kencang, darahnya seketika berdesir mengalir hangat keseluruh penjuru tubuhnya. Matanya membelalak lebar, menyaksikan apa yang saat ini terpampang di depannya.
Astaga… Joe!
Batin Tania.
Mulutnya mengatup, tak ingin kelepasan mengeluarkan suara. Namun matanya masih terbuka lebar, menyaksikan pemandangan yang ada di depannya.
“Roti sobek,” lirihnya dengan suara pelan, di balik tangan yang masih mengatup mulutnya.
Tania, dia belum tidur?
Sayup-sayup ternyata Joe dapat mendengar lirih suara Tania yang terdengar pelan di balik selimut tebal yang membaluti tubuhnya.
Roti sobek, apa maksudnya? Mungkinkah Tania sedang menginginkan roti sobek sekarang?
Pikir Joe.
Joe, lantas mempercepat memakai pakaiannya. Setelah itu, ia lantas segera meraih telepon genggamnya yang tadi ia letakkan di meja samping tempat tidurnya.
Didudukinya kasur itu, lalu Joe menyandarkan tubuhnya di sana dengan kaki yang di selonjorkan sembari mengotak-atik ponselnya. Lalu, sesaat kemudian Joe terlihat mengarahkan ponsel itu kedaun telinganya. Seperti hendak berbicara dengan seseorang.
Joe ingin berbicara dengan siapa di jama segini?
Batin Tania.
Wanita itu, ternyata terus memperhatikan gerak-gerik suaminya sedari tadi.
Mungkinkah, itu selingkuhannya? Tidak-tidak, Joe sudah berjanji padaku, dia akan selalu setia dan tidak akan pernah berpaling dariku.
Batin Tania.
“Hallo,” Joe mulai berbicara.
Sementara jantung Tania semakin berdegup kencang sekarang. Penasaran dengan sosok yang saat ini Joe hubungi, takut kecewa jika ternyata pikirannya memang benar Joe kembali berkhianat. Tania berusaha memantapkan pendengarannya, berusaha mendapatkan sinyal kuat dari sosok yang berada di balik panggilan tersebut. Hingga sesaat kemudian—
“Bayu, carikan aku beberapa roti sobek. Beli, dan antarkan ke rumahku sekarang juga.”
“Apa! roti sobek?!” tanpa sadar, Tania menyerukan suaranya tatkala Joe yang meminta Bayu membelikan roti sobek untuknya, di tengah malam pula.
Seruan itu ternyata terdengar oleh Joe. Setelah memutuskan sambungan teleponnya, kini Joe mengalihkan pandangannya ke arah Tania yang masih membaluti tubuhnya dengan selimut tebal.
“Sayang,” lirihnya dengan tangan yang diulurkan, menyentuh permukaan selimut yang sedari tadi senantiasa membaluti tubuh Tania.
Joe, apa yang akan dilakukannya, mungkinkah tadi dia mendengar suaraku?
Tania segera menutup mata, tatkala Joe yang saat ini mulai menarik selimutnya, hingga menampakkan seluruh wajahnya.
Matanya terpejam, tidak mungkin dia tidur kan? Jelas-jelas tadi aku mendengar suaranya.
Joe, mengerutkan dahinya. Diarahkannya jari telunjuknya ke arah pinggang Tania, menusuk-nusukkannya pelan, berusaha memastikan apa yang ada di pikirannya. Sontak saja, hal itu mengejutkan Tania, tubuhnya menggeliat
geli.
“Joe! hentikan!” seru Tania yang kemudian bangkit dari tidurnya.