CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 30


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit. Kini mereka tiba di istana milik Joe. Dari luar saja kemegahan nya sudah terlihat. Apalagi didalam, pasti Tania akan tersesat jika mengelilingi rumah nya.


Pak Min kemudian membuka pintu mobilnya. Joe turun dari sana, setelah itu ia membantu Tania turun dari mobilnya. Sedangkan Pak Min terlihat memegangi kursi roda. Setelah duduk di kursi roda, ada seorang pelayan wanita datang menghampiri mereka dan mengambil alih kursi roda dari Pak Min. Ia kemudian mendorong nya tanpa disuruh. Sedangkan Joe tampak berjalan didepan.


Sesampainya didalam rumah. Kini mereka sudah ada diruang tengah dan berdiri disana. Joe lalu mengambil alih kendali kursi roda Tania.


"Lanjutkan pekerjaan mu. Katakan kepada Bik Asni untuk memasak sesuatu untuk makan siang." Ucap nya. Pelayan tersebut pun kemudian mengundurkan diri dari sana. Ia lalu bergegas kearah dapur untuk menyampaikan pesan kepada Bik Asni.


"Bik, tadi Tuan pesan katanya disuruh masak untuk makan siang." Yanti menyampaikan pesan dari Tuan nya.


"Tuan muda sudah pulang?" Tanya Bik Asni.


"Sudah Bik, tadi saya juga lihat Tuan membawa seorang wanita bersamanya. Sepertinya itu kekasihnya karena saya melihat Tuan begitu perhatian kepadanya." Ucap pelayan Yanti.


"Hmm, ya sudah. Sekarang kamu bantuin Bibik masak ya. Biarkan yang lain mengerjakan tugas nya." Ucap Bik Asni.


Pelayan Yanti pun mengangguk setuju dan mulai membantu Bik Asni memasak di dapur.


Sementara itu.


Tania telah tiba didalam sebuah kamar yang sangat mewah baginya. Jika dibandingkan dengan kamar kontrakan nya. Kamar ini tiga kali lipat besar nya.


"Wah!! besar sekali, ini kamar apa lapangan bola ya.


Tania berdecak kagum didalam hati. Matanya tak henti mengitari sekeliling sudut kamar. Sedangkan Joe tersenyum di tempat nya.


"Tania, ini kamar mu sekarang." Ucap nya lembut.


"Kamar ku?" Tania menatap heran. Apa maksud kata dari kamar ku, apa aku akan tinggal disini, begitu pikirnya.


"Ya, karena kau telah menjadi kekasih ku. Mulai hari ini kau akan tinggal disini dan menghuni kamar ini." Ujar Joe, "Jika kau membutuhkan sesuatu tinggal tekan tombol ini, maka akan ada pelayan yang datang kesini untuk membantu mu." Imbuh nya lagi.


"Apa! seenaknya saja dia memutuskan untuk ku tinggal disini. Dia pikir dia siapa!


"Tuan saya.."


"Sssttt!" Joe menempelkan jarinya di bibir Tania.


"Aku tak ingin mendengar apapun dari mu. Jika kau ingin menolak, percuma saja. Karena ini sudah keputusan ku, mengerti!" Ucap Joe tegas.


"Tapi saya.."


Belum sempat Tania menghabiskan kalimat nya. Kini Joe sudah menempelkan bibirnya di bibir Tania dan langsung ******* nya. Joe menyapu bersih setiap rongga-rongga mulut Tania. Tak ada yang terlewatkan, entah mengapa ia sangat menyukai bibir gadis tersebut sehingga setiap kali dekat dengan nya ia sama sekali tak bisa menahan diri untuk tidak mencium nya. Tania berusaha melepaskan, namun tenaga nya tak cukup kuat untuk lepas dari Joe. Hingga akhirnya ia memilih menikmati ciuman tersebut. Kini terlihat keringat mengucur deras di dahinya. Jantung nya juga berpacu cepat sekarang begitu juga dengan Joe. Karena jarak mereka yang begitu dekat, Tania juga dapat merasakan detak jantung Joe yang berpacu beriringan dengan nya.


Setelah merasa cukup Joe pun melepas ciuman nya. Ia melihat dahi Tania yang mengeluarkan keringat. Lalu ia mengambil sapu tangan dari dalam jas nya dan menyapu keringat Tania dengan lembut.


Tania terpaku menatap Joe.


"Ada apa dengan mu? Kenapa setiap kali aku mencium mu, kau selalu mengeluarkan keringat seperti ini?" Tanya Joe, " Apa kau takut kepadaku?" tambahnya lagi "Jika dugaan ku benar, apa alasan nya?" Joe kembali menambahkan pertanyaan.


Tania menunduk malu tak berani lagi menatap Joe yang saat ini ada dihadapan nya.


"Tania, jawab aku." Joe menatap serius.


"Bagaimana ini, apa aku harus mengatakan nya jika dia pria pertama yang mencium ku. Bukankah jika aku mengakui nya maka akan sangat memalukan untukku.


"Tania, jawab!" Joe meninggikan intonasi suaranya. Ia terlihat kesal karena sedari tadi Tania tidak menjawab pertanyaan nya. Sehingga kini dengan terpaksa akhirnya Tania menjawab rasa penasaran nya.


"Sebenarnya anda pria pertama yang menciumku," Lirih nya dengan nada pelan.


"Apa!" Pura-pura tidak mendengar. Padahal tadi Joe jelas sekali mendengar nya. Namun entah mengapa ia merasa sangat senang dan ingin kembali mendengarkan nya dari mulut Tania.


"Bukankah dia tadi mendengarnya. Terus kenapa ia harus kembali menanyakan nya kepadaku. Joe, kau memang licik.


"Anda pria pertama yang menciumku!" Seru Tania. Kali ini ia membesarkan suaranya agar Joe dapat mendengar nya.


"Kali ini ia tidak mungkin jika tidak mendengar nya kan.


Joe tergelak saat kembali mendengar ucapan Tania. Ia tertawa luas sehingga kini gemanya memenuhi isi kamar. Sedangkan Tania menunduk malu karena nya.


"Haha, aku memang pantas mendapatkan itu.


Percaya diri dengan dirinya sendiri.


"Kau tahu Tania, kau terlalu beruntung karena bisa mendapatkan ciuman pertama dari pria tampan seperti ku." Ucap Joe penuh percaya diri.


"Apa! beruntung! yang ada aku sial karena mendapat ciuman darimu.


Rutuk Tania kesal.


"Pantas ya ciuman payah. Tapi kamu tenang saja, aku akan mengajarkan mu hingga mahir." Ucap Joe tersenyum licik.


"Apa! sudah mengatai ciuman ku payah, sekarang malah ingin mengajarkan ku. Dasar Joe mesum!


Tania kembali menggerutu didalam hati.


"Hmm, karena aku sangat tersanjung dengan pernyataan mu. Sekarang aku mau berjanji padamu jika aku hanya akan mencium mu seorang. Begitu juga dengan mu, kau hanya boleh dicium oleh ku saja mulai saat ini." Suara Joe terdengar melemah. "Sekarang kau milik ku dan aku milik mu," Tambahnya lagi.


Jantung Tania berdebar kencang. Ia seperti tersihir saat mendengar kalimat terakhir dari Joe. Ditambah lagi kini Joe menge-cup kening nya dengan lembut sehingga membuat nya semakin terlena dalam pelukan Joe.