
Sebuah mobil melesat dengan sangat cepat, melewati kendaraan-kendaraan yang lainnya. Di dalam sana, seorang pria dengan darah segar yang memenuhi tuxedonya terlihat tampak menggenggam sebuah tangan yang tubuhnya saat ini sedang dipangku olehnya.
“Tania bertahanlah,” kata itu terdengar penuh harap.
Sang sopir tampak melirik dari kaca spion depan menilik ke belakang, menyaksikan sendiri bagaimana Tuannya saat ini tampak begitu cemas menatap wanita yang ada dipangkuannya.
Sebenarnya siapa wanita itu, mengapa Tuan tampak sangat cemas melihatnya terluka?
Pertanyaan itu terbesit di dalam hati si pengemudi.
Ingin sekali hati bertanya, namun saat ini momen itu dirasa sangat tidaklah pas. Mengingat bagaimana Tuannya itu terlihat panik, khawatir, serta rasa sedih yang bercampur aduk.
Sopir itu akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan mengendarai mobilnya, dengan pertanyaan yang ia simpan di dalan hatinya.
Tak lama kemudian. Mereka pun akhirnya sampai di tempat yang dituju, salah satu rumah sakit terdekat yang ada di sana. Baru saja Malik membuka pintu mobilnya, ia melihat Sam saat ini sudah berjalan dengan tergesa-gesa seraya menggendong tubuh Tania bersamanya.
“Tuan,” segera Malik berlari mengikutinya.
Para perawat berdatangan setelah Malik memanggil mereka,
kereta dorong juga sudah disiapkan untuk menampung pasien yang sakit di sana.
“Letakkan di sini Tuan, kita akan segera membawanya masuk ke
dalam,” kata salah satu perawat yang ada di sana.
Sam meletakkan tubuh Tania, di atas tempat itu. Membantu
para perawat lainnya, membawa tubuh Tania masuk ke dalam.
Seorang dokter muda terlihat berdiri di ujung sana, dokter
wanita yang bertugas malam itu. Ia menuntun, ikut serta membawa Tania masuk ke
dalam ruang IGD.
“Anda tidak boleh masuk Pak, silakan tunggu di luar,” kata
Dokter tersebut.
Sam mengangguk, menuruti apa yang dokter muda itu katakan. Ia
melepaskan tangan Tania, merelakan gadis yang selama ini dicintainya itu masuk
sendirian di sana. Berjuang untuk hidupnya.
“Tania, aku sangat berharap, kau mampu untuk melewatinya.”
_________
Pesta telah usai, semua orang telah pergi dari sana. Tapi
Joe masih belum juga menemukan dimana Tania. Di halaman luar ia berdiri,
melihat kesana-sini berusaha mendapati sosok istrinya tersebut. Namun sayang,
tak kunjung Joe menemukannya.
“Bayu, apa kau sudah mencarinya di seluruh tempat?”
Joenathan menghampiri Bayu yang saat ini juga baru keluar.
“Sudah Joe, tapi tidak ada tanda-tanda jika Tania ada di
dalam.”
“Kemana dia pergi!” menghempaskan tangan ke udara, lalu
kemudian mengepalnya kuat.
“Tapi, tadi aku sempat mendengar jika di sebuah tangga
darurat yang ada di hotel ini,ada seorang wanita hamil tergeletak bersimbah
darah di sana.” kabar itu Bayu dengar dari desas-desus OB yang ada di sana. Namun
saat Bayu hendak mengoreksi lebih detail tentang kejadian itu, para OB itu seolah kompak menutup mulut
mereka, tak ingin membeberkan kejadian yang baru saja mereka bicarakan kepada Bayu.
Ya, sebelumnya Sam sudah menyuruh Malik untuk menutup semua
informasi tentang kejadian itu. Malik melakukan tugasnya dengan cekatan. Bermodalkan
sebuah ponsel di genggaman, kabar itu berhasil ia bungkam dengan menghubungi
orang-orang penting yang bekerja di sana.
“Tania, itu pasti Tania,” wajah Joe semakin cemas sekarang.
firasatnya mengatakan jika wanita yang disebut Bayu tadi pastilah Tania.
“Belum tentu Joe, kita belum menemukan buktinya,” Bayu
mencoba menenangkan.
________
“Hahahahahah!!” suara tawa memenuhi isi ruangan di salah
satu kamar apartemen yang ada di sana.
Seorang wanita menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan
dengan gelak tawa yang menyertainya.
tau jika saat ini Tania tengah hamil anak dari mantan kekasihnya itu, yaitu
Joenathan. Namun seolah abai akan hal itu, Katty malah sengaja mendorongnya
jatuh dari anak tangga.
Pencapaiannya itu adalah sebuah pencapaian rekor dalam
hidupnya. Pasalnya, ini adalah kali pertama ia berperilaku kejam seperti itu.
Perasaan iri, dengki, marah, tak suka, kebencian, sakit hati, serta kekecewaan
yang ada pada diri membuatnya gelap mata. Apalagi dengan kemalangan yang saat
ini menimpa dirinya, hamil dengan salah satu pegawai pengantar makanan, sungguh
membuat Katty frustrasi dang berpikiran dangkal.
Ia merasa jika penderitaan yang di alaminya saat ini
semuanya karena ulah Tania. Karena Tania, Joe sampai tak menoleh kepadanya. Meskipun
sudah jelas-jelas malam itu Joe dipengaruhi obat, agar Katty bisa kembali memiliki
dirinya. Tapi sayangnya hal itu tidak terjadi. Dengan alasan kesetiaan,
cintanya yang begitu besar terhadap Tania, Joe memilih memendam hasrat nya,
menolak Katty yang memberikan seluruh diri padanya.
“Semoga saja kau mati di sana,” suara tegas penuh dendam. “Atau
paling tidak, anakmu itu yang mati sehingga nantinya kau akan disalahkan oleh
Joe akibat kelalaianmu.”
Kembali Katty tergelak, merasa puas karena telah berhasil
mencelakakan Tania. namun ketika sebelah tangannya itu menyentuh perutnya,
Katty kembali dibuat kesal dengan sosok yang saat ini tengah bersemayam di
sana.
“Kau juga harus pergi! Harus perg!” memukul-mukul keras
perutnya yang masih terlihat rata.
______
Di rumah sakit.
Operasi besar telah dilakukan. Sesosok bayi lelaki mungil
yang seharusnya masih bersemayam menikmati hangat nya rahim Ibunya itu, kini terpaksa
dikeluarkan dari sana. Benturan keras yang terjadi, serta banyak nya darah
segar yang mengalir keluar dari rahim Tania membuat tim dokter mau tak mau
harus melakukan Operasi Caesar, demi menyelamatkan Ibu dan Bayinya.
Masa-masa kritis telah terlewati, namun Tania tak kunjung
sadarkan diri. Ia masih terbaring lemah dengan mata yang menutup, dengan
beberapa selang, alat-alat medis yang membantu. Sementara itu, sesosok bayi
kecil lelaki yang masih suci, yang baru saja menghirup udara dunia saat ini
harus di masukkan ke dalam tempat khusus yang terbut dari kaca, berusaha
membuat kenyamanan, kehangatan kepada bayi mungil yang terlahir premature.
Sam duduk dengan
wajah tegang. Ketegangan itu terjadi, karena sampai saat ini Tania belum juga
sadarkan diri. Meskipun hatinya sedikit lega karena lahirnya bayi itu. Namun,
belum sadarkannya Tania seolah menjadi beban serta kesedihan tersendiri di
dalam hati Sam saat ini.
Sementara itu, di ruang NICU.
“Bayi kecil tanpa dosa, apa kau tau jika saat ini Tuanku
sangat bersedih karena Ibumu.” Malik yang saat ini berdiri di depan sebuah
kaca, menatapo ke arah bayi Tania berbicara sendiri di sana.
“Sebelumnya, aku belum pernah melihat wajah Tuanku setegang
ini, sesedih ini, seputus asa ini sebelumnya. Namun kehadiran Ibumu membuatku
kini dapat melihatnya dengan jelas,” menempelkan telapak tangannya di dinding
kaca itu. “Sebenarnya siapa Ibumu? Sehingga Tuanku rela meninggalkan acara yang
begitu penting hanya untuk menyelamatkan dirimu dan juga Ibumu,” dahi Malik
mengerut.