CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 183


Di luar, terlihat angin mulai berhembus kencang. Daun-daun kering


mulai berjatuhan dari atas ranting sebuah pohon yang sudah terbilang tua.


Terlihat, di sebuah kamar. Kain gorden tersilak, karena


hembusan angin yang menerpa dari luar. Pintu balkon yang sengaja dibiarkan


terbula. Seolah dengan sengaja membebaskan terpaan angin memasuki kamar.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22:32 malam. Sudah cukup


larut, dan seharusnya  sudah waktunya untuk


tidur. Namun, hal itu tak terjadi karena si pemilik kamar yang masih belum


memejamkan mata.


Fikirannya terkuras, karena sebuah kilasan cerita yang hari


ini telah terjadi. Sosok yang selama ini dianggap sebagai ancaman besar dalam


hidupnya. Hari ini, tertangkap mata malah sedang menjalin kasih dengan yang


lain.


Sedari tadi, Tania, terus memikirkannya. Memikirkan, akan


apa yang tadi ia saksikan saat berada dalam gedung layar lebar. Pria muda yang


tertangkap menggandeng tangan, Katty, dengan sangat mesra. Bahkan juga terlihat


tak sungkan mendaratkan kecupan panasnya dipermukaan lembut berwarna merahmuda.


“Jika apa yang kulihat itu memang benar. Maka, selama ini,


Joe, tidak berbohong kepadaku.  Katty lah


yang selama ini terus berusaha merusak hubungan kami,” Tania, terlihat duduk


diatas pembaringan empuknya sembari menyandarkan tubuhnya. “Ya, Tuhan… kasihan


sekali, Joe. Selama ini aku terus menuduhnya melakukan apa yang tida ia


lakukan. Bahkan aku—“ Tania, tak meneruskan lagi kalimatnya. Matanya, kini


tertuju kearah pintu kamar, saat mendengar suara ketukan darisana.


“Mungkinkah itu, Joe?” lirihnya.


Diulurkannya kakinya, menapaki lantai keramik yang terlihat


bersih mengkilap. Tania, melangkah dengan pelan menyusuri ruangan, hingga


akhirnya tiba di depan pintu kamar.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, dan di sana terlihat, Joe, sedang


berdiri dengan sebuah nampan yang berisikan seporsi nasi goreng di atasnya.


“Joe, kau,“ Tania, mengerutkan dahinya. Menatap kearah, Joe,


yang kemudian beralih kearah nasi goreng yang ada di tangannya. “Ini—“ belum


lagi sempat, Tania, menghabiskan kalimatnya. Malah kini, Joe, dengan cepat


memotongnya.


“Ini nasi goreng yang aku masakkan khusus untukmu, cobalah.”


Seulas senyuman tampak tersungging di bibir, Joe, sembari


menyodorkan nampan yang dibawanya.


“Hmm, baiklah,” Tania, sedikit menggelengkan kepalanya,


dengan seulas senyum yang ikut disunggingkan. “Masuklah!” memberikan jalan,


agar, Joe, bisa masuk kedalam.


Joe, mengangguk. Segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Bisa masuk kedalam kamar itu saja, sudah membuat hatinya merasa sangat senang. Berharap,  setelah ini bisa mendapatkan hal yang


lebih lagi nantinya.


Nampan sudah, Joe, letakkan di meja yang ada di depan sofa. Sementara,


Joe, kini juga  sudah menduduki sofa yang


ada di sana. matanya, kini menatap kearah Tania yang bersiri di depannya.


“Sayangku, kenapa masih berdiri? Tidakkah kau berminat untuk


mencicipi hasil karyaku?


“Tapi, Joe, bukankah aku tidak memintanya. Terus, mengapa


kau—“


Lagi-lagi, Tania, tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Karena,


Joe, yang dengan cepat menimpalinya. “Jadi, sayangku, tidak akan mencicipi hasi


karyaku ini karena, sayangku, tidak memintanya?” tanya, Joe, yang dengan segera


mengganti ekpsresi memelas di wajahnya.


Seketika, Tania, terpaku dibuatnya. Wajah, Joe, yang seperti


ini sungguh membuat, Tania, tak tega. Segera, ia menghampiri, Joe, dan duduk


disampingnya. “Joe, bukan maksudku—“ lagi, Tania, tak dapat menyelesaikan


kalimatnya.


“Makanlah sekarang, jika tidak aku akan benar-benar tidak


akan pernah mengerti dengan yang kau maksudkan itu.”


“Hmm, baiklah,” Tania, akhirnya menyetujui keinginan, Joe.


Tak ingin, jika kekasihn hatinya itu merasa sedih. Atapun,


merasa tak dihargai dari jerih payah yang telah ia beri. Tanpa menunggu lagi,


Tania, pun sekarang menyantap makanannya.


“Emmm, enak!” seruan pujian lantas terlontar dari mulutnya. “Lebih


enak dari yang kemarin malam, malah.” lanjut, Tania, lagi.


“Benarkah?”


“Ya!”


“Kalau begitu, segera habiskan,” wajah bersemangat, Joe, kini


Tania, menurut. Entah mengapa, begitu memasukkan satu sendok


ke dalam mulutnya. Perasaan ingin lagi dan lagi terus mempengaruhi pikirannya. Hingga


akhirnya, seporsi jerih payah, Joe, telah dihabiskan olehnya. Tak bersisa.


“Joe… kau sungguh membuatku sangat-sangat kenyang sekarang.”


Sepasang sendok, kini telah ia letakkan kembali di piring. Segelas


air putih yang juga, Joe, bawakan kini sudah habis di minum. Tania, lantas


menyandarkan tubuhnya disandaran sofa yang tengah didudukinya, dengan sebelah


tangan yang sengaja dibiarkan membentang.


Nasi goreng yang, Joe, buatkan sungguh sangat menggugah


seleranya. Entah mengapa, rasanya juga sangat cocok di lidahnya.


“Joe, kau sungguh berbakat dalam memasak,” puji, Tania,


disela-sela rasa nyaman yang merajai perutnya. “Kenapa kau tidak membuka


restoran saja, dan memasak di sana.” usulnya kemudian.


“Membuka restoran, tidak aku tidak mau.”


“Kenapa?”


“Pekerjaanku sangat banyak sayang.” Joe, mulai memegang


jemari tangan, Tania, yang sedang ia bentangkan disandaran sofa. “Lagipula, aku


hanya akan memasak untukmu, tidak untuk orang lain,” sebelah tangan yang


lainnya, kini sudah menempel di pipi, Tania. Membelai lembut permukaan halus


yang ada di sana.


Deg!


Jantung, Tania, lantas berdegup kencang. Tak tahan dengan


ucapan manis yang barusaja didengar. Bahkan belakangan, sikap, Joe, juga lebih


lembut terhadapnya.


Aaa… Joe, semakin hari kau semakin membuatku melayang.


Debaran jantung, Tania, hampir tak bisa dikendalikan.


Tania, kenapa ia senyum-senyum sendiri seperti itu? Mungkinkah, kalimatku tadi telah berhasil meluluhkan hatinya? Kelihatannya suasana hatinya terlihat sangat baik sekarang. Sudah bisakah aku mengatakannya sekarang? menagih janji yang tadi ia ucapkan di bioskop?


Batin Joe dengan segenap tanda tanya dibenaknya.


“Sayang,” lirih, Joe.


“Hmm… ya.”


“Bolehkah aku menagih janjiku sekarang?” tanya, Joe, dengan


segenap kekhawatirannya. Takut, jika tiba-tiba, Tania, menolaknya.


“Janji, janji apa?” tanya, Tania, dengan segenap rasa


ketidaktahuannya. Sepertinya, ia sudah melupakan akan janji yang telah ia


ucapkan tadi, saat masih berada di dalam gedung bioskop.


“Kau sudah melupakannya. Jadi, yasudahlah!” wajah, Joe,


terlihat kecewa. Kecewa, akan janji yang telah, Tania, lupakan.


Sadar akan ekspresi, Joe, yang seketika berubah. Tania,


lantas dengan segera mengingat kembali akan janji yang pernah ia ucapkan.


Janji, janji apa ya?


Tania, terlihat berfikir keras dengan itu. Kata, bioskop,


menjadikannya sebagai sebuah petunjuk akan janji yang telah terucap.


Seketika keheningan tercipta karena, Tania, yang tak kunjung


bersuara. Sepertinya, ia sudah benar-benar lupa akan janji yang telah


diucapkannya. Joe, pun tak ingin menaruh banyak harapan. Jika dia sudah tidak


ingat, yasudahlah. Tak usah dipaksa. Lagipula, saat ini sifatnya yang suka


memaksa perlahan-lahan telah hilang. Sehingga kini membuat, Joe, tak berminat


lagi untuk memaksa. Mungkin, belum rezekinya malam ini. Mendapatkan, apa yang


seharusnya di dapat. Harus kembali bersabar, menunggu kapan waktunya tiba. Waktu,


dimana ia dapat kembali merasakan, manisnya bibir, Tania.


Ya, sudah dua minggu ini, Joe, sama sekali tak mendapatkan


hak nya. Jangankan menginginkan lebih, menyentuh bibir, Tania, saja, Joe, sudah


tak pernah. Selama dua minggu ini, Joe, benar-benar berpuasa. Puasa, menahan


segalanya. Berlatih melawan nafsu, dan juga egonya. Semua itu demi, Tania. Berusaha,


agar wanitanya itu benar-benar merasa nyaman dengannya. Tak lagi ragu, dan juga


bisa kembali menaruh kepercayaan yang sepenuhnya. Percaya, akan cinta sejati


serta kesetiaan yang ingin, Joe, tunjukkan. Memberikannya tulus, hanya untuk,


Tania, seorang.


Malam semakin larut, hembusan angin kian menusuk. Joe,


melihat kearah pintu balkon dan juga jendela yang sama sekali tidak tertutup. Terbuka


lebar menerbangkan kain gorden yang terpasang di sana. seolah dengan sengaja,


membiarkannya masuk hingga menusuk ke tulang.


Tania, bisa-bisanya ia tidak menutup jendela dan pintu balkon. Angin diluar sangatlah kencang sekarang, dan dia membiarkannya masuk begitu saja.


Batin, Joe.


Joe, kemudian memutuskan bangkit dari duduknya. Hendak


berjalan, menuju ke arah jendela yang terbuka. Namun, saat kakinya hendak


melangkah. Tania, menarik tangannya, membuat, Joe, kembali menoleh ke arahnya.


“Joe, jangan pergi!”


TBC.