
Di luar, terlihat angin mulai berhembus kencang. Daun-daun kering
mulai berjatuhan dari atas ranting sebuah pohon yang sudah terbilang tua.
Terlihat, di sebuah kamar. Kain gorden tersilak, karena
hembusan angin yang menerpa dari luar. Pintu balkon yang sengaja dibiarkan
terbula. Seolah dengan sengaja membebaskan terpaan angin memasuki kamar.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22:32 malam. Sudah cukup
larut, dan seharusnya sudah waktunya untuk
tidur. Namun, hal itu tak terjadi karena si pemilik kamar yang masih belum
memejamkan mata.
Fikirannya terkuras, karena sebuah kilasan cerita yang hari
ini telah terjadi. Sosok yang selama ini dianggap sebagai ancaman besar dalam
hidupnya. Hari ini, tertangkap mata malah sedang menjalin kasih dengan yang
lain.
Sedari tadi, Tania, terus memikirkannya. Memikirkan, akan
apa yang tadi ia saksikan saat berada dalam gedung layar lebar. Pria muda yang
tertangkap menggandeng tangan, Katty, dengan sangat mesra. Bahkan juga terlihat
tak sungkan mendaratkan kecupan panasnya dipermukaan lembut berwarna merahmuda.
“Jika apa yang kulihat itu memang benar. Maka, selama ini,
Joe, tidak berbohong kepadaku. Katty lah
yang selama ini terus berusaha merusak hubungan kami,” Tania, terlihat duduk
diatas pembaringan empuknya sembari menyandarkan tubuhnya. “Ya, Tuhan… kasihan
sekali, Joe. Selama ini aku terus menuduhnya melakukan apa yang tida ia
lakukan. Bahkan aku—“ Tania, tak meneruskan lagi kalimatnya. Matanya, kini
tertuju kearah pintu kamar, saat mendengar suara ketukan darisana.
“Mungkinkah itu, Joe?” lirihnya.
Diulurkannya kakinya, menapaki lantai keramik yang terlihat
bersih mengkilap. Tania, melangkah dengan pelan menyusuri ruangan, hingga
akhirnya tiba di depan pintu kamar.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, dan di sana terlihat, Joe, sedang
berdiri dengan sebuah nampan yang berisikan seporsi nasi goreng di atasnya.
“Joe, kau,“ Tania, mengerutkan dahinya. Menatap kearah, Joe,
yang kemudian beralih kearah nasi goreng yang ada di tangannya. “Ini—“ belum
lagi sempat, Tania, menghabiskan kalimatnya. Malah kini, Joe, dengan cepat
memotongnya.
“Ini nasi goreng yang aku masakkan khusus untukmu, cobalah.”
Seulas senyuman tampak tersungging di bibir, Joe, sembari
menyodorkan nampan yang dibawanya.
“Hmm, baiklah,” Tania, sedikit menggelengkan kepalanya,
dengan seulas senyum yang ikut disunggingkan. “Masuklah!” memberikan jalan,
agar, Joe, bisa masuk kedalam.
Joe, mengangguk. Segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Bisa masuk kedalam kamar itu saja, sudah membuat hatinya merasa sangat senang. Berharap, setelah ini bisa mendapatkan hal yang
lebih lagi nantinya.
Nampan sudah, Joe, letakkan di meja yang ada di depan sofa. Sementara,
Joe, kini juga sudah menduduki sofa yang
ada di sana. matanya, kini menatap kearah Tania yang bersiri di depannya.
“Sayangku, kenapa masih berdiri? Tidakkah kau berminat untuk
mencicipi hasil karyaku?
“Tapi, Joe, bukankah aku tidak memintanya. Terus, mengapa
kau—“
Lagi-lagi, Tania, tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Karena,
Joe, yang dengan cepat menimpalinya. “Jadi, sayangku, tidak akan mencicipi hasi
karyaku ini karena, sayangku, tidak memintanya?” tanya, Joe, yang dengan segera
mengganti ekpsresi memelas di wajahnya.
Seketika, Tania, terpaku dibuatnya. Wajah, Joe, yang seperti
ini sungguh membuat, Tania, tak tega. Segera, ia menghampiri, Joe, dan duduk
disampingnya. “Joe, bukan maksudku—“ lagi, Tania, tak dapat menyelesaikan
kalimatnya.
“Makanlah sekarang, jika tidak aku akan benar-benar tidak
akan pernah mengerti dengan yang kau maksudkan itu.”
“Hmm, baiklah,” Tania, akhirnya menyetujui keinginan, Joe.
Tak ingin, jika kekasihn hatinya itu merasa sedih. Atapun,
merasa tak dihargai dari jerih payah yang telah ia beri. Tanpa menunggu lagi,
Tania, pun sekarang menyantap makanannya.
“Emmm, enak!” seruan pujian lantas terlontar dari mulutnya. “Lebih
enak dari yang kemarin malam, malah.” lanjut, Tania, lagi.
“Benarkah?”
“Ya!”
“Kalau begitu, segera habiskan,” wajah bersemangat, Joe, kini
Tania, menurut. Entah mengapa, begitu memasukkan satu sendok
ke dalam mulutnya. Perasaan ingin lagi dan lagi terus mempengaruhi pikirannya. Hingga
akhirnya, seporsi jerih payah, Joe, telah dihabiskan olehnya. Tak bersisa.
“Joe… kau sungguh membuatku sangat-sangat kenyang sekarang.”
Sepasang sendok, kini telah ia letakkan kembali di piring. Segelas
air putih yang juga, Joe, bawakan kini sudah habis di minum. Tania, lantas
menyandarkan tubuhnya disandaran sofa yang tengah didudukinya, dengan sebelah
tangan yang sengaja dibiarkan membentang.
Nasi goreng yang, Joe, buatkan sungguh sangat menggugah
seleranya. Entah mengapa, rasanya juga sangat cocok di lidahnya.
“Joe, kau sungguh berbakat dalam memasak,” puji, Tania,
disela-sela rasa nyaman yang merajai perutnya. “Kenapa kau tidak membuka
restoran saja, dan memasak di sana.” usulnya kemudian.
“Membuka restoran, tidak aku tidak mau.”
“Kenapa?”
“Pekerjaanku sangat banyak sayang.” Joe, mulai memegang
jemari tangan, Tania, yang sedang ia bentangkan disandaran sofa. “Lagipula, aku
hanya akan memasak untukmu, tidak untuk orang lain,” sebelah tangan yang
lainnya, kini sudah menempel di pipi, Tania. Membelai lembut permukaan halus
yang ada di sana.
Deg!
Jantung, Tania, lantas berdegup kencang. Tak tahan dengan
ucapan manis yang barusaja didengar. Bahkan belakangan, sikap, Joe, juga lebih
lembut terhadapnya.
Aaa… Joe, semakin hari kau semakin membuatku melayang.
Debaran jantung, Tania, hampir tak bisa dikendalikan.
Tania, kenapa ia senyum-senyum sendiri seperti itu? Mungkinkah, kalimatku tadi telah berhasil meluluhkan hatinya? Kelihatannya suasana hatinya terlihat sangat baik sekarang. Sudah bisakah aku mengatakannya sekarang? menagih janji yang tadi ia ucapkan di bioskop?
Batin Joe dengan segenap tanda tanya dibenaknya.
“Sayang,” lirih, Joe.
“Hmm… ya.”
“Bolehkah aku menagih janjiku sekarang?” tanya, Joe, dengan
segenap kekhawatirannya. Takut, jika tiba-tiba, Tania, menolaknya.
“Janji, janji apa?” tanya, Tania, dengan segenap rasa
ketidaktahuannya. Sepertinya, ia sudah melupakan akan janji yang telah ia
ucapkan tadi, saat masih berada di dalam gedung bioskop.
“Kau sudah melupakannya. Jadi, yasudahlah!” wajah, Joe,
terlihat kecewa. Kecewa, akan janji yang telah, Tania, lupakan.
Sadar akan ekspresi, Joe, yang seketika berubah. Tania,
lantas dengan segera mengingat kembali akan janji yang pernah ia ucapkan.
Janji, janji apa ya?
Tania, terlihat berfikir keras dengan itu. Kata, bioskop,
menjadikannya sebagai sebuah petunjuk akan janji yang telah terucap.
Seketika keheningan tercipta karena, Tania, yang tak kunjung
bersuara. Sepertinya, ia sudah benar-benar lupa akan janji yang telah
diucapkannya. Joe, pun tak ingin menaruh banyak harapan. Jika dia sudah tidak
ingat, yasudahlah. Tak usah dipaksa. Lagipula, saat ini sifatnya yang suka
memaksa perlahan-lahan telah hilang. Sehingga kini membuat, Joe, tak berminat
lagi untuk memaksa. Mungkin, belum rezekinya malam ini. Mendapatkan, apa yang
seharusnya di dapat. Harus kembali bersabar, menunggu kapan waktunya tiba. Waktu,
dimana ia dapat kembali merasakan, manisnya bibir, Tania.
Ya, sudah dua minggu ini, Joe, sama sekali tak mendapatkan
hak nya. Jangankan menginginkan lebih, menyentuh bibir, Tania, saja, Joe, sudah
tak pernah. Selama dua minggu ini, Joe, benar-benar berpuasa. Puasa, menahan
segalanya. Berlatih melawan nafsu, dan juga egonya. Semua itu demi, Tania. Berusaha,
agar wanitanya itu benar-benar merasa nyaman dengannya. Tak lagi ragu, dan juga
bisa kembali menaruh kepercayaan yang sepenuhnya. Percaya, akan cinta sejati
serta kesetiaan yang ingin, Joe, tunjukkan. Memberikannya tulus, hanya untuk,
Tania, seorang.
Malam semakin larut, hembusan angin kian menusuk. Joe,
melihat kearah pintu balkon dan juga jendela yang sama sekali tidak tertutup. Terbuka
lebar menerbangkan kain gorden yang terpasang di sana. seolah dengan sengaja,
membiarkannya masuk hingga menusuk ke tulang.
Tania, bisa-bisanya ia tidak menutup jendela dan pintu balkon. Angin diluar sangatlah kencang sekarang, dan dia membiarkannya masuk begitu saja.
Batin, Joe.
Joe, kemudian memutuskan bangkit dari duduknya. Hendak
berjalan, menuju ke arah jendela yang terbuka. Namun, saat kakinya hendak
melangkah. Tania, menarik tangannya, membuat, Joe, kembali menoleh ke arahnya.
“Joe, jangan pergi!”
TBC.