CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 130


Dua buah gelas, kini sudah ada di tangan Tania. Namun hanya satu gelas saja yang di isi oleh nya. Tania, lalu kembali berjalan dengan gemulai disana, langkah nya sengaja ia perlambat ingin membuat Joe terksean tak sabar dengan nya.


Benar-benar menguji kesabaran Joe sekarang.


Kini Tania pun akhirnya tiba disana, dengan segelas air di tangan nya.


“Mau minum?” tawar nya kepada Joe. “Tapi, aku dulu ya yang minum.” Ujar nya saat Joe mulai mengulurkan tangan nya.


Glek! Glek!


Setengah gelas sudah di habiskan oleh Tania. Sementara itu, setengah gelas lagi masih tertinggal disana.


“Kau minum disini ya, di bekas bibir ku.” Mengulurka tangan memberikan gelas, seraya mengedipkan mata dengan manja.


Joe tak menjawab, di ambil nya gelas yang berisi setangah air itu dengan cepat. Lalu kini dengan segera ia juga meneguk nya.


Glek! Glek! Glek!


Rasa dahaga tenggorokan kini teratasi sudah. Tinggal dahaga hasrat nya yang belum terlampiaskan. Joe lalu meletakkan gelas itu di meja kecil di samping tempat tidur nya. Lalu setelah itu, dengan cepat tangan nya menarik lengan Tania hingga membuat nya jatuh kedalam pelukan nya.


Tania kembali tersenyum dengan mengedipkan mata. Sementara itu, nafas Joe kian memburu sekarang.


“Nia, aku sudah….”


“Sssst!” Tania menempelkan jarinya, membungkam Joe sekarang. “Bukankah kau ingin aku melayani mu sekarang?” tanya nya dengan mengangkat sebelah alis nya.


“Awalnya begitu, tapi sekarang aku lebih ingin diriku sendiri yang melayanimu.” Joe bangkit seraya menggapai kedua tangan Tania, dan menekan tubuh itu di bawah.


“Hmm, benarkah? Kalau begitu pas sekali, tubuh ku terasa sakit semua sekarang. Bolehkah aku meminta kau memijat ku sebentar?” Tanya Tania dengan raut wajah santai.


“Pijat?”


“Ya, pijat.” Tania mengangguk pelan. “Jangan bilang jika kau tak bisa melakukan-nya.” tambah Tania lagi.


“Siapa bilang, sini balikkan tubuhmu,” Joe melepas kungkungan tangan Tania sekarang. Di balikkan nya tubuh itu kini ke posisi telungkup.


Glek!


Joe terpaku seraya menelan ludah nya.


Punggung Tania yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun itu kini terpampang nyata di depan nya. Belum lagi dua bongkahan kenyal yang ada disana, seolah mengejek dirinya sekarang.


“Joe.” panggil Tania.


Sementara Joe, mulai mengatur nafas nya sekarang. Tak ada pergerakan, Tania akhirnya menoleh ke belakang.


“Kau sedang apa? Kenapa belum mulai?” tanya nya.


Padahal dalam hati Tania sudah tau jika saat ini Joe tengah menikmati pemandangan dirinya disana.


“Eh, a-apa!” Joe gugup.


Tania tertawa, terkekeh kecil di buat nya.


“Hahahah, Joe, kau kenapa? Jangan bilang kau tak ada pergerakan karena takjub melihat tubuhku sekarang.” cetus Tania.


Membuat Joe tersenyum, menyeringai. Lalu kini Joe mendekatkan wajah nya mendekat ke telinga Tania.


“Kau benar, hari ini aku baru menyadari ternyata istriku benar-benar menggoda.” Bisik Joe perlahan.


“Jika pun tubuhmu tak seindah ini nantinya, maka aku akan tetap mencitaimu, menyayangimu.” Ujar Joe. “Kau tau Tania, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, menyerahkan hatiku untukmu. Berharap, hari demi hari kita lalui bersama, hingga usia kita menua dan membawa cinta ini hingga ke surga.” Ucap Joe.


Tania tersipu, kalimat yang terakhir tadi sungguh membuat nya terbang keatas awan. Terbuai, kedalam janji indah yang Joe ucapkan. Perasaan haru, senang, semuanya tak bisa tergambarkan. Berharap, kalimat tadi bukanlah bualan semata, melainkan hal yang tulus yang Joe ucapkan.


“Hmm, sudah selesai merayu nya? Sekarang lanjutkan tugas mu, pijat aku.” Kembali Tania membalikkan badan nya.


Semoga saja, yang kau ucapkan itu benar adanya.


Gumam Tania.


“Hmm, baiklah Nona.” Joe tersenyum tak membantah. Perlahan tangan nya kini mulai meraba punggung Tania lalu memijat nya.


“Hmm, jika kerja mu bagus, maka aku juga akan memberikan imbalan yang setimpal nanti nya.” Kata Tania.


“Tapi aku tidak ingin nanti, aku ingin imbalan nya sekarang.” tak tahan, Joe kini sudah mendekap tubuh Tania dari belakang. “Tania, jangan menunda lagi, aku menginginkan nya sekarang.” Joe menggigit kecil daun telinga Tania.


“Joe.”


Tak menggubris, Joe kini malah melancarkan aksinya. Panas nya aliran darah kini sudah melewati batas maksimal. Apa yang di inginkan, harus segera di capai. Aksinya kini sudah di luar kendali, nafas yang kian memburu, debaran jantung yang mulai tak beraturan, membuat Joe semakin tak bisa menahan diri.


Tania tersenyum, godaan nya akhirnya berhasil juga. Meskipun memakai gaya yang kotor, bagaikan rubah ****** di pinggir jalan. Namun, hal itu membuat nya tersenyum puas. Karena malam ini akan menjadi malam yang mengesankan untuknya dan juga Joe.


Lelaki yang selama ini selalu menundukkan wanita, malam ini dialah yang berhasil tunduk di depan wanita. Tania akhirnya membiarkan Joe melakukan apa yang di inginkan nya. Merasa cukup dengan trik yang di mainkan nya, toh nanti akhirnya dia akan memberikan hal itu juga kepada Joe.


Tania kini menerima, bahkan mulai menikmatinya. Sentuhan Joe, yang menjalar entah kemana, kini sudah membuat nya hampir hilang kesadaran, memasrahkan diri kedalam pelukan pria yang telah berstatus suaminya.


 Joe pun demikian, gairah nya kini mulai ia lampiaskan kepada sosok wanita yang berhasil membuat nya tunduk, tak berkutik apalagi melawan. Wanita yang berstatus istrinya itu kini telah berhasil menjerat dirinya, hatinya. Membuat nya tak bisa memalingkan wajah, sejengkal pun, bahkan sedetik pun kearah wanita lain.


Erangan demi erangan kini menggema memenuhi isi kamar. Keringat yang bercucuran kini telah membasahi pembaringan. Ac yang menyala seolah tak terasa sekarang, api asmara yang menyala di antara keduanya membuat keadaan semakin memanas.


Pada akhirnya dua insan yang berbeda jenis itu, kini telah menjadi satu, merajut asa di malam yang panjang. Kamar itu menjadi saksinya, bagaimana cinta mereka beradu, hingga akhirnya berpadu menjadi satu.


Joe kini terlihat membelai pucuk kepala Tania, lalu mengecup nya dengan mesra. Sementara itu Tania yang sudah lelah kini hanya bisa tersenyum, menerima kecupan mesra di kening nya.


“Sayang, sekali lagi aku berjanji padamu. Cintaku akan selalu untukmu, hingga akhirnya kita menua dan mati bersama, membawa cinta kita hingga ke surga” lirih Joe.


“Aku pegang janjimu Joe.” Tania tersenyum, mengangguk pelan.


“Pasti.” Joe semakin mempererat dekapan nya.


Hingga kini akhirnya kini merekapun terlelap bersama.


Dilarang baper! Bagi yang jomblo, silahkan merapat, Ra akan peluk kalian semua^^


Nb. Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar nya ya. Serta mampir juga ke karya Ra yang lainnya.


1.       Ternyata ini Cinta


2.       Pengantin yang tak Dirindukan


3.       Pengantin yang tak Dirindukan (2)


Happy reading! terimakasih^^


TBC.