
Seorang pria bertubuh tegap, beroaras tampan dengan warna kulit sawo matang kini tampak sedang berdiri dihadapan nya. Melihat akan hal itu, membuat Tania yang awalnya terlihat santai kini perlahan mengerutkan dahi
nya. Ia memperhatikan lekat-lekat wajah pria yang sedang menyapanya saat ini.
Begitu familiar, dan tidak asing sama sekali. Sementara pria itu, tampak mengulas senyum nya menampakkan sebelah lesung pipinya.
“ Kak Sam!”
Samuel Vydrick atau yang biasa disapa Sam itu adalah kaka senior Tania semasa di kampus. Dulunya mereka begitu dekat. Namun, akhirnya Sam memutuskan untuk melanjutkan pendidikan nya keluar negri, yang bernegara di perancis.
Ya, perancis, Negara yang mereka kunjungi saat ini. Jadi, tidak heran jika ia bisa melihat Sam disana. Semenjak kepergian nya ke luar negara perancis. Sam yang waktu itu begitu dekat dengan Tania sama sekali tak memberi kabar, hingga akhirnya persahabatan mereka berakhir begitu saja karena tidak adanya komunikasi di antara keduanya.
Hingg akhirnya saat ini mereka di pertemukan kembali. Awalnya Sam tidak begitu yakin dengan apa yang di lihat nya.
Tania, mungkinkah itu dia?
Sam menelisik lebih jauh, mencoba berjalan perlahan mendekati sosok yang menurutnya ia kenal. Yaitu sahabat lama nya. Hingga akhirnya saat ia mulai melihat nya dari jarak dekat, barulah Sam yakin jika itu memang benar Tania.
“ Hai Tania, apa kabar?” diulurkan nya tangan nya berniat menjabat tangan Tania. Namun saat ini gadis tersebut masih membeku disana seolah tak percaya dengan apa yang dilihat nya. “ Hei-hei! Tania.” Lalu kini ia melambaikan tangan nya didepan mata Tania, berharap gadis itu bisa secepatnya sadar dari lamunan nya.
“ Eh,” Tania berkedip. Lalu sesaat kemudian ia kembali menatap wajah Sam.
“ Kak Sam?” masih bingung seolah tak percaya.
“ Hi Tania.” Sapa Sam lagi yang kembali menonjolkan sebelah lesung pipinya.
“ Ini benar Kak Sam!” matanya kini mendelik menatap kearah Sam.
Sehingga membuat Tania yang awalnya duduk dengan santai disana kini malah bangkit dan menjatuhkan diri kedalam pelukan nya.
“ Kas Sam, Nia kangen.” Memejamkan mata sembari mendekapnya dengan sangat erat.
Sam hanya tersenyum, namun kini ia mulai mengusap lembut rambut Tania. Merasa nyaman dan juga bahagia mendapatkan pelukan hangat dari Tania. Jujur, selama dua tahun ini Sam sangat mendambakan pelukan ini. Maka dari itu, ia membiarkan hal itu terjadi, membiarkan Tania memeluknya dengan bebas.
“ Kak Sam! Kemana saja? Kenapa nggak pernah ngabari Nia sama sekali?” Tania kini mulai meregangkan pelukan nya seraya mendongak keatas menatap nya dari jarak dekat.
Lag-lagi Sam menyimpulkan senyum nya.
“ Waktu itu tiba-tiba saja orang tua Kakak menginginkan Kaka untuk melanjutkan kuliah sesegera mungkin ke Negara ini. Semua telah di persiapkan tanpa sepengetahuan Kaka. Sehingga saat hari keberangaktan itu telah
tiba Papa baru mengatakan nya ke Kaka, sehingga Kaka tidak bisa ngabarin ke kamu.” Sam mulai menjelaskan alasan ia tak memberi kabar kepada Tania. “ Rencana nya waktu itu, Kakak ingin mengabari mu setibanya disini. Namun, sayang nya ponsel Kaka tiba-tiba saja hilang entah kemana, sehingga Kaka tak bisa mengabari mu sama sekali. Karena tak mempunyai nomor ponselmu.” Jelas nya lagi.
“ Apa benar yang Kaka katakana?” Tanya Tania.
“ Hmm,” Sam menganggukkan kepalanya pelan.
“ Nia pikir, Kak Sam sudah nggak mau berteman lagi denganku. Sehingga meninggalkan ku begitu saja.” Menunjukkan wajah kesedihan nya.
“ Mana mungkin, kamu itu gadis ter-imut yang ada di dunia. Jadi mana mungkin Kaka meninggalkan mu begitu saja.” Diusap nya lagi rambut Tania dengan kasar, sehingga kini rambut Tania terlihat berantakan.
“ Kak Sam!” wajah Tania merungut manja.
“ Hahaha, gadis kecil Kaka, masih sama seperti yang dulu.” Mata Sam terlihat menyipit karena tawanya yang melebar.