
Sore menjelang. Kegiatan di kantor yang sangat padat, membuat seorang lelaki yang saat ini barusaja duduk di jok mobilnya terlihat menghela nafas panjang. Kesibukan di kantor, dengan pekerjaan yang cukup berat membuat fikirannya pusing.
Belum lagi, ditambah dengan masalahnya dirumah dengan sang istri. Membuat rasa lelah itu kian bertambah parah. Joe, menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobilnya. Sebelah tangannya, terlihat memegangi kepalanya, memikul sedikit beban yang ada di sana.
Pak Min, kian melajukan mobilnya membelah padatnya keramaian Ibukota. Terlebih lagi di sore hari, dimana saatnya orang-orang pulang kerumah, setelah melakukan berbagai rutinitas untuk mendapatkan penghasilan.
Sekelebat, saran Bayu, yang tadi diucapkannya, saat Joe mencurahkan permasalahannya, terlintas kembali di benaknya. Maaf, ya. setelah mendengarkan biduk persoalan yang membuat Joe dan Tania berselisih paham hingga
berujung perang dingin. Bayu, menyarankan Joe, agar meminta maaf kepada Tania.
Bagaimanapun, Joe, tetap salah dalam hal itu. Cemburu buta, hingga membuatnya tak dapat melihat apa-apa. Bahkan, hal terburuk sekalipun ia anggap masalah biasa. Meskipun Bayu juga merasa Tania juga salah, karena tak
mendengar persetujuan dari Joe terlebih dahulu sebelum keluar. Mengingat, ia juga pasti paham betul akan bagaimana sifat dan karakter Joe. Posesif, overproktektif, bahkan cemburu yang terlalu berlebihan. Seharusnya, Tania juga mendengar terlebih dahulu bagaimana tanggapan Joe, baru ia boleh dengan enteng melangkah keluar.
Maaf, kalimat yang harus ia sampaikan setibanya dirumah. Tapi untuk apa? Apa dia harus mengakui kesalahan yang tak pernah ia buat. Joe, mearasa dirinya benar, apapun yang di katakannya itu benar adanya. Ini, salah Tania, yang tak mengindahkan perkataannya.
Berulang kali pria itu selalu mengingatkan Istrinya untuk tak bepergian keluar rumah. Jikapun ia sangat ingin pergi, seharusnya Tania harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu darinya. Baru, setelah itu ia boleh dengan bebas
melenggang kemanapun ia suka.
Setidaknya, dengan seperti itu. Joe pun bisa menyuruh pengawalnya untuk mengantarkannya. Dan juga, mengutus beberapa ajudan untuk mengawal kemanapun Tania pergi. Jikapun aka nada kejadian seperti hari itu, setidaknya ada pengawal yang membantunya terhindar dari kecelakaan mobil yang mencelakai Tania. Bukannya di tolong oleh lelaki yang ia sangat tau menaruh rasa terhadap Istrinya.
Dan juga, lelaki mana coba, yang tak cemburu jika melihat seorang lelaki menyentuh Istrinya di tengah jalan pula.
Joe, kembali naik pitam jika mengingat akan hal itu. Rasanyatak ingin ia duluan yang meminta maaf kepada Tania. Biarkan wanita itu menyadari sendiri kesalahan dan meminta maaf padanya. Namun, mengingat Tania yang saat ini sedang hamil, seperti yang di katakan Bayu. Perlahan egonya berkurang, dan Joe lantas membuang nafasnya kasar.
“Pak Min, nanti jika melihat ada toko bunga. Tolong berhenti ya.” titah Joe.
Akhirnya, ia mengesampingkan egonya untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada Tania. Memberikan seikat bunga, berharap Tania merasa senang. Dan melupakan segala permasalahan yang ada.
“Tuan, di ujung sana, ada sebuah kios yang menjual berbagai macam bunga. Apa saya berhenti di sana saja?” tanya Pak Min yang melihat kios bunga yang ada di ujung jalan.
“Boleh Pak. Berhenti saja, kita akan membeli bunganya di sana.” Joe setuju.
Mobilpun berhenti tepat didepan sebuah kios bunga sederhana yang ada di sana. Pak Min, memegang gagang pintu mobil, hendak keluar darisana. Namun, belum lagi Pak Min membuka pintunya. Joe, memegang pundaknya, menahan geraknya untuk keluar darisana.
“Pak Min, tunggu disini saja. Biar saya saja yang turun untuk membeli bunganya.” ujar Joe.
Pak Min mengangguk. Joe pun kemudian turun darisana. Langkah kakinya terlihat mantap, melangkah masuk kedalam kios yang kemudian di sambut oleh sang pemilik.
“Selamat datang Tuan, ada banyak bunga di sini. Mari, kita bantu pilihkan.” sambut sang pemilik kios ramah.
“Aku mau buket mawar merah segar yang ada di ujung sana.” Joe, menunjuk kearah mawar merah yang ingin di belinya.
“Baik Tuan, silahkan duduk, biar saya mengambil bunganya.” Si pemilik kios lantas bergegas pergi mengambilkan bunga yang diinginkan.
Joe, duduk diatas sebuah kursi plastic yang ada di sana. Matanya, melihat-lihat kearah sekitar, mencuci mata. Dengan pemandangan bunga-bunga yang bertaburan didepannya.
mobil Joe.
Melihat si penjual bunga yang hampir selesai membungkus pesanan Joe. Gadis itu, lantas segera bergegas masuk kedalam kios. Laksana artis sinetron yang akan segera melakukan aktingnya. Dengan tergegsa-gesa ia berjalan
dengan pura-pura tak memperhatikan Joe disana, hingga akhirnya kakinya tersandung dengan salah satu pot bunga yang ada di lantai.
“Awww!” gadis itu tersungkur, hingga jatuh kedalam pelukan Joe.
Hal itu membuat Joe terkejut, dan reflek memegangi bahu gadis itu.
“Ma-maaf.” Gadis itu lantas berusaha berdiri dengan tegak dan menyibak rambutnya. Sehingga kini, terlihat jelas raut wajah yang tadi tertutup karena posisi jatuhnya yang telungkup, jatuh menempel I bahu Joe. “Joe.” pura-pura tak tau jika itu adalah Joe.
“Katty,” lirih Joe saat mengetahui jika gadis itu ternyata Katty, mantan kekasihnya.
“Oh, Joe, maafkan aku. Tadi itu, aku sungguh tidak sengaja. Aku terlalu buru-buru masuk kedalam, hingga tak memperhatikanmu yang duduk di sini.” ujar Katty dengan segala kebohongannya.
“Hmm, ya, tidak masalah.” jawab Joe datar.
Setelah selesai membungkus bunga yang di inginkan Joe. pemilik toko pun lantas datang menghampiri Joe yang sudah berdiri dari duduknya.
“Tuan, ini buket bunga yang anda inginkan.” kata si penjual begitu tiba di depan Joe.
“Oh, iya,” Joe menoleh kearah si penjual bunga yang sudah berdiri di sampingnya.
Si penjual pun, lantas menyerahkan bunga kepada Joe. Joe pun mengambilnya, lalu membayarkan harga dari barang yang telah di ambilnya.
“Joe, kau beli bunga, untuk Tania?” Katty mengerutkan dahinya.
“Hmm, ya, aku ingin membuatnya senang.” kata Joe.
“Bunga yang sangat indah. Aku yakin, Tania pasti akan sengat menyukai bunganya.” Kata Katty seraya mengulas senyuman.
“Itu pasti. Yasudah, kalau begitu kau lanjutkan tujuanmu. Aku mau pulang.” kata Joe, yang sudah tak sabar ingin segera berbaikan dengan Tania.
Katty mengangguk pelan. Sementara Joe kian melangkah jauh, mendekati mobilnya lalu kini masuk kesana. Setelah mobil Joe melaju, meninggalkan tempat itu. Senyum licik, lantas tersungging di bibir tipis milik Katty.
Hmm, Tania. Aku jadi penasaran, bagaimana reaksi Tania nanti saat mendapatkan dobel hadiahnya. Akankah ia senang, hingga berjingkrak kegirangan? Hahahah!
Batin Katty.
Gadis itu tertawa puas dalam hati.