CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 154


Sunyi, sepi, keheningan menyelimuti sepasang anak manusia yang tengah membaringkan tubuh di pembaringan empuk miliknya. Sedari tadi, setibanya dirumah, taka da satu kalimat pun yang terucap dari bibir sepasang suami-istri itu.


Tania memilih diam seribu bahasa serta memilih menghindar tatkala akan berhadapan dengan Joe. makan malam pun berlalu dengan keheningan yang tercipta di antara keduanya. Joe, memilih mempertahankan egonya, di bandingkan meminta maaf atau berbicara terlebih dahulu dengan Tania.


Begitupula dengan Tania. Perlakuan kasar Joe, serta kalimat terakhirnya yang menghujam hingga ke sanubari, membuat Tania berang. Apa-apaan dengan ini semua, bukankah hal itu sudah menunjukkan jika ia hanyalah sesuatu yang tak berguna bagi Joe.


Bahkan, saat ini Tania menganggap. Jika dirinya hanyalah sebuah tempat pelampiasan hasrat sahaja.


Ya Tuhan… betapa bodohnya aku yang menganggap, jika Joe akan berubah demi diriku. Mencintaiku, melindungiku, serta anakku.


Batin Tania seraya mengelus perutnya.


Perlahan, di balik punggung itu. Secercah air bening mengalir melintasi permukaan halus nan kenyal, menggenangi sebuah kain yang melapisi busa kapas didalamnya.


Tania menahan isaknya, menutup mulutnya, agar tak terdengar oleh manusia yang sedang terbaring sampingnya. Air mata itu kian menitik, seiring dengan kesedihan, serta kesakitan yang melanda diri.


Apa artinya sebuah pernikahan, berkatakan ‘cinta’ tapi tak berlandaskan kepercayaan. Apa artinya sebuah pernikahan, mengatakan ‘sayang’ tapi tak mampu menunjukkan kasih sayang.


Ini, sungguh ironis. Kehidupan rumah tangga yang sederhana, berlandaskan kepercayaan serta kasih sayang itu ternyata sangat sulit untuk terwujud. Asa, dalam penantian berharap bisa berubah namun sepertinya hal itu seolah tak mungkin terwujud.


Ibaratkan sepasang penopang, yang menahan beban diatasnya. Jika salah satunya jatuh, maka hancurlah sudah. Keduanya juga akan ikut jatuh beserta beban yang menimpanya. Begitu juga rumah tangga. Jikalau tiada pondasi,


mampukah rumah itu berdiri dengan tegak? Tidak akan, ia akan retak dengan sendirinya, berang-angsur hancur tanpa pondasi yang mempu menahannya.


Joe, menatap kearah Tania. Melihat punggung yang saat ini tengah membelakanginya. Jika biasanya Tania suka menyandarkan kepala di bahunya. Kali ini tidak, wanita itu lebih memilih menjarakkan posisi tidur dan juga membelakanginya.


Tania, kenapa kau membuatku seperti ini? Tidakkah kau tau, betapa besar rasa cintaku padamu?


Batin Joe.


Malam kian larut, cahaya bulan semakin redup. Di luar sana, angin berhembus kencang. Menyapu dedaunan yang ada di jalan. Sementara yang di dahan, terlihat jatuh berguguran.


Tania masih terisak, menahan tangis yang tak ingin di tunjukkan. Ia memejamkan mata, seraya menahan bibir, membungkam suara. Tak bisa di jelaskan, mungkin ini kesakitan yang teramat dalam. Hingga tak berapa lama


kemudian, Tania terlelap dengan air mata yang perlahan mengering sendiri di sana.


***


Mentari pagi perlahan mulai menanjak diatas langit. Cahayanya menembus masuk kedalam kamar melalui sela-sela gorden. Joe tersntak dalam tidurnya, dilihatnya kearah samping sudah taka da lagi Tania di sana.


“Kemana dia?” lirih Joe yang mengerutkan dahinya.


Setelah mengucek-ucek sebentar matanya. Joe, kini membuka selimutnya, dan membiarkannya jatuh di lantai. Ia mengerlingkan pandangannya kearah balkon, tapi di sana  pintu masih tertutup dengan rapat. Kemudian, Joe pun menapaki langkahnya menyusuri ruang kamar menuju kearah kamar mandi.


Ceklek!


Pintu terbuka. Joe melihat  tidak ada siapapun di dalam.


“Kemana dia pergi?” lirih Joe seraya mengerutkan dahinya.