CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 126


Joe meringkuk didalam kamar yang berseberangan dengan Tania. Bantal guling yang ada disana di raba nya, lalu kini di peluk nya.


“Tania.” lirih nya, membayangkan sosok yang di peluk nya kini adalah istrinya, Tania.


Lagi, dan lagi, Joe harus tidur dengan berpelukan guling. Di pejamkan nya matanya, sosok Tania terlihat disana. Gadis itu seolah tidur di samping dirinya, memandang nya, serta melemparkan senyum kepadanya.


“Sial!” Joe mengumpat, melempar bantal guling yang tengah di peluk nya hingga jatuh ke lantai. “Mana bisa aku tidur jika terus seperti ini.” Lirih nya seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya.


Wajah Tania yang selalu hadir, di setiap Joe memejamkan mata. Membuat Joe sama sekali tak bisa tenang, hatinya terus gelisah, memikirkan Tania.


Kini Joe terlihat menarik selimut nya, hingga keatas kepala menutupi wajah nya. Berharap, bisa segera tidur dengan pulas. Namun, hal itu tak sesuai harapan nya. Karena bayangan Tania kini kembali hadir di dalam selimut nya, tersenyum dan menyentil hidung nya.


“Aaaarrrrgggh!” Joe murka.


Kembali, ia melemparkan selimutnya begitu saja ke lantai. Menemani guling, yang sudah terlebih dulu teronggok jatuh kesana. Andai saja mereka bisa bersuara, mungkin mereka juga akan mengumpat. “Kegalauan mu karena


istrimu sungguh menyiksa kami Tuan.”


Joe meradang, haruskah ia bergadang lagi malam ini. Tak bisa tidur, karena di bayangi terus dengan wajah Tania.


Tidak-tidak, Aku harus segera pergi menemui Tania. Memohon ampun padanya, meminta untuk memberikan keringanan hukuman untukku. Jika tidak, bisa gila Aku harus seperti ini terus karena nya.


Gumam Joe.


Kini ia pun memutuskan untuk pergi ke kamar Tania.


Dengan memakai kaos oblong tanpa lengan, dan juga celana ponggol yang menutupi lutut nya. Joe berjalan, melangkah pasti keluar dari kamar nya, menuju ke kamar Tania.


Setibanya disana.


Klek!


Pintu tak dapat di buka.


“Di kunci?” Joe mengerutkan dahinya. “Dia pasti sudah waspada, kalau-kalau Aku datang tanpa di duga.”


Kini Joe memutar otak bagaimana bisa masuk kedalam kamar. Jika harus mengetuk pintu, mungkin itu akan sia sia. Karena Tania, pasti tidak akan membukakan pintu kamar nya.


Joe berjalan, menyusuri koridor disana. Berdiri tepat didepan sebuah jendela, yang bisa menghubungkan nya dengan balkon kamar Tania.


Lelaki sejati harus nekat. Jika tidak, bukan lelaki sejati nama nya.


Gumam Joe.


Kini ia melompat dari jendela, berpegangan pada tiang penyangga. Ilmu kemiliteran yang dulu sempat di tempuh nya, akhirnya berguna juga sekarang. Sangat lihai, karena sudah terlatih sebelumnya. Kini tanpa menuai kesulitan, Joe pun tiba di balkon kamar Tania.


“Kebetulan, pintunya juga terbuka.” Senyum sumringah terpancar di raut wajah nya.


Perjuangan nya tidak sia-sia. Karena selangkah lagi, ia dapat melihat kekasih hatinya, Tania. Joe berjalan perlahan, mengendap-endap mendekati pintu balkon, hingga akhirnya saat ia tiba disana. Joe melihat, Tania, gadis yang telah berhasil membuat resah dirinya itu kini ternyata tengah asyik bertelepon manja dengan pria lain, yaitu Roy.


“Tania, berani-berani nya kau.” Mengeram, seraya mengepalkan tangan nya. Sementara tatapan matanya, terlihat dingin dan terkesan buas.


Sementara itu Tania, di tengah ke asyikan nya mengumpat Joe dalam hati. Tanpa sengaj saat ia mengitari matanya memperhatikan sekitar ruang kamar nya, kini melihat Joe sedang berdiri disana, tepat nya di pintu balkon kamar nya.


“Joe.”


Tania tersentak, ponsel yang tengah tersambung dengan Roy seketika di matikan nya.


Kini ia kembali memperhatikan kearah sosok tinggi putih berbadan kekar yang tengah menatap kearah nya.


Gawat! Bisa mati aku malam ini.


Gumam Tania, dengan segala kekhawatiran nya.


Sementara Joe, kini perlahan melangkahkan kakinya mendekat kearah Tania.


“Joe, sedang apa kau disini?” tanya Tania dengan mengernyitkan dahi nya.


“Sedang apa? Seharusnya kau tau lebih jelas kan dengan semua ini.” Tukas Joe semakin mendekat.


“Joe, kau harus ingat! Saat ini kau tengah menjalani masa hukuman, satu minggu!” suara Tania terdengar tegas, saat melihat Joe yang semakin dekat kearah nya.


menekankan suaranya.


“Hukuman! Hukuman apa! Aku tidak merasa berbuat salah dengan mu.” Tania berusaha berkilah.


Mungkinkah dia mendengar semuanya? Jika ia, habislah aku malam ini.


Glek!


Tania menelan ludah nya sendiri, melihat tatapan Joe yang kian menakutkan.


“Hmm, masih berusaha berkilah.” Joe, menekan kedua bibirnya seraya mengangguk pelan. “Baiklah, aku juga tak akan segan-segan menambah hukuman mu sekarang.” Seringai Joe. Kini tangan kirinya memegangi rambut Tania,


lalu mencium nya. “Hmm, wangi. Sepertinya kau juga sudah tau jika aku akan datang malam ini.” Ungkap nya lagi.


Tania mendelik, menggigit tipis bibir bawah nya. Berkilah pun sudah tak bisa. Tak ada jalan lain, karena sudah tertangkap basah maka mengaku saja, dari pada nantinya Joe semakin menambah hukuman-nya.


“Joe, maaf.” Lirih nya.


“Maaf? Untuk apa?” mengernyitkan dahinya nya, memiringkan sedikit kepalanya. “Hmm, apa sudah ingin mengaku sekarang?” tanya Joe lagi.


“Itu bukan salahku. Tadinya, ku fikir itu telefon penting karena sudah berulang kali memanggil. Jadi aku menjawab nya, saat ku jawab ternyata itu Kak Roy yang menelepon.” Tania akhirnya berkata jujur. Namun, ia masih tak ingin di salahkan tentang hal itu. “Mau ku matikan, namun aku tak enak dengan Kak Roy, takut di bilang sombong.” Tambah Tania lagi.


“Hmm, jadi begitu ya. Tak ingin di bilang sombong oleh pria lain. Namun, dengan suami sendiri malah menjauhkan diri.” Ucap Joe.


“Hah, bu-bukan seperti itu. A-aku…”


“Aku apa? Masih ingin berkilah?” Joe semakin mendekatkan wajah nya kearah Tania.


“Bu-bukan begitu, itu semua salahmu,” menjawab cepat, sambil memalingkan wajah.


Oh Tuhan… habislah sudah. Joe terlihat marah sekali sekarang.


“Hmm, masih berani mengatakan jika cuma aku saja yang salah.” Sorot mata Joe kian menekan.


“Ti-tidak! bu-bukan begitu, a-aku ju-juga salah.” Tania tak bisa berkutik sekarang, aura Joe semakin kuat, tangan nya kini juga sudah mengcengkeram kuat bahu Tania, dan..


Cup!


Joe mendaratkan ciuman nya.


Tuh kan, habislah sudah. Kali ini tidak dapat mengelak lagi, aku juga sudah ketahuan salah.


“Kejadian ini, kita anggap impas. Aku berjanji tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi, begitupun juga kau.” Tegas Joe.


“Tapi Joe! Aku hanya menelpon saja tidak lebih, dan lagi pula kami hanya berteman. Tidakkah kau merasa keterlaluan karena membatasi pergaulan ku.” Tania mengutarakan rasa keberatan nya.


“Kau istriku, berteman dengan wanita aku tidak masalah. Namun, jika itu pria, akan sangat bermasalah untukku.” Kata Joe, tangan nya kini sudah menjalar entah kemana.


“Joe, hmm.” Merasa geli dengan sentuhan tangan Joe yang mengitari perut nya.


“Kenapa? Apa kau menginginkan nya juga?”


“Hah, A-aku ti-tidak.”


“Sudah terlambat, karena aku sudah tidak bisa lagi menahan nya.”


Ooo.. apa yang terjadi-terjadilah, yang Joe tau Tania adalah milik nya. Yang jomblo di larang baper, sini Ra peluk^^


Mampir juga ke karya Ra yang lainnya.


1.       Ternyata ini Cinta


2.       Pengantin yang tak Dirindukan


3.       Pengantin yang tak Dirindukan (2)


Happy reading! Terimakasih^^


TBC.