CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 117


“Pak, jalan!” perintah Tania seraya menepuk pelan sang sopiryang saat ini duduk di depan nya. Atau lebih tepat nya di kursi kemudinya.


Lalu kini sopir itu pun menoleh kearah nya.


“Kita akan kemana Nona?” tanya si Sopir.


Tania terkejut, matanya terbelalak saat mendapati si Sopir yang ternyata masih sangat muda.


Buseet! Sopir ini tampan sekali. Masih muda lagi.


Gumam Tania.


Wajah nya masih terpaku menatap Sopir itu.


“Nona, kemana kita akan pergi?” tanya Sopir itu lagi kaku, menatap serius kearah Tania.


Tania tersadar, lalu seketika ia memalingkan wajah.


“Ke kantor nya Joe.”


Sopir itu pun mengangguk mengerti, lalu kini ia kembali menghadap ke setir kemudinya dan menjalankan mobil nya.


Wajah Tania memerah, akibat salah panggil kepada Sopir tadi. Bagaimana bisa dia memanggilnya Pak, sementara Sopir itu jika di hitung-hitung umurnya sekitar dua puluh hingga dua puluh lima. Masih sangat muda tentu nya.


Bagaimana aku bisa begitu ceroboh sih!


Keluh Tania.


Tania kini duduk dengan menghadap kearah kaca mobil, memperhatikan suasana jalan kota.


Riuh rendah kendaraan terdengar disana-sini. Suara klakson mobil dan juga motor membuat kebisingan di keramaian kota. Tania kini terlihat mengeluarkan ponsel nya dari tas yang di sandang nya. Heandseat pun tak luput


di raih nya, lalu kini di pasangkannya di telinga nya.


Tania sudah jauh lebih rileks sekarang karena ia sudah tak dapat mendengar lagi kebisingan di luar. Malah kini kepalanya terlihat bergoyang sedikit layaknya seseorang yang tengah menikmati acara music. Mungkin saat ini ia sedang memutar nya di ponsel nya.


Beberapa waktu berlalu. Setelah melewati kemacetan jalanan Ibukota. Kini mobil yang di tumpangi Tania sudah tiba di kantor milik Joenathan. Tania di turunkan oleh sang Sopir tepat di depan pintu masuk perusahaan. Lalu setelah itu, mobil itu pun pergi menuju kearah lobi parkiran.


“Hmm, akhirnya tiba juga disini.” Lirih Tania.


Tania kini terlihat mendongakkan kepalanya, menatap kearah langit. Gedung pencakar langit ini, sudah lama sekali tak ia kunjungi semenjak pernikahan nya dengan Joenathan. Hingga akhirnya, hari ini ia kembali bisa berdiri disana.


Namun, keberadaan nya kali ini bukanlah lagi sebagai karyawan disini. Melainkan sebagai Nyonya dari sang pemilik perusahaan.


“Kini semuanya sungguh sudah terbalik. Dulunya aku bekerja disini, namun sekarang…”


Belum lagi tuntas Tania mengucapkan kalimat nya. Tiba-tiba saja dari arah depan seseorang melambaikan tangan kearah nya.


“Tania!” suara seorang wanita terdengar berkumandang memanggil nama nya.


Segera, Tania pun menoleh kearah suara itu.


“Wulan.” Lirih nya.


Melihat lambaian tangan Wulan, Tania pun bergegas kesana.


“Tania, akhirnya kamu tiba.” Wulan menarik nafas lega, saat melihat sahabat nya yang akhirnya datang juga.


“Hmm, ya.” jawab Tania seraya tersenyum.


“Sekarang kamu buruan pergi masuk ke ruangan suamimu.” Titah Wulan dengan suara agak pelan. Ia takut jika ia  mengeraskan suaraanya, para karyawan kantor yang saat ini sedang mondar-mandir disana mendengar percakapan mereka.


Tania mengerutkan dahinya.


“Ada apa sih?” tanya nya bingung.


“Sini deh!” Wulan menarik tangan Tania dan menyeret nya masuk kedalam lift.


Dan sekarang akhirnya mereka bisa berdua disana tanpa ada orang lain yang dapat mendengar percakapan mereka. Wulan lantas memencet tombol untuk menuju keatas. Sementara Tania hanya berdiri diam disamping sahabat nya.


“Memang nya ada apa sih? Kok kamu ngotot banget nyuruh aku cepat-cepat ke ruangan Joe.” mengerutkan dahinya, menatap serius kearah Wulan.


“Itu, Bu Katty, yang aku ceritain tadi. Sekarang dia ada di ruangan nya Joe.” jelas Wulan.


“Apa!” seru Tania. seketika matanya ikut terbelalak dengan sendirinya.


“Hmm, tadi setelah pembahasan kerjasama selesai dan perusahaan Bu Katty setuju untuk bekerjasama menyerahkan proyek nya ke perusahaan kita. Dia ngajakin Joe untuk makan siang bersama.” Adu Wulan.


“Benarkah? Terus bagaimana tanggapan Joe?” Tanya Tanya di landa penasaran, bagaimana suami playboy nya itu dalam menyikapi hal ini.


“Tentu saja Joe menolak.” Jawab Wulan cepat. “Tapi Tania, tadi sewaktu mereka berdua bersalaman. Aku melihat Joe sampai mengeluarkan keringat di dahinya, dan juga mereka salamannya lama banget.” Adu Wulan lagi.


“Benarkah? Dasar wanita gatel!” umpat Tania. “Suami playboy ku juga, pasti sekarang ini dia sudah tergoda dengannya.” Lirihnya lagi.


Mendengar hal itu, membuat Wulan seketika tersenyum. Ia lantas menahan tawanya dengan menutup mulut nya dengan sebelah tangannya.


“Ehmm,” sedikit nada keluar dari sana.


“Kamu kenapa ketawa?”


“Lucu dengar kalimat kamu. Saat menyebut, suami playboy ku.” Terkekeh kecil saat menyampaikannya.


“Cih!” menatap sinis kearah Wulan sekarang. “Aku doakan supaya kelak kamu mendapatkan suami playboy juga.” Cibir Tania.


“Apa! Kamu nyumpahin aku dapat suami playboy yang sama seperti mu.” Wulan mendelik, tangannya kini memegang pinggang nya. Seolah tak terima dengan yang di ucapkan Tania.


“Itu karena tadi kamu menertawakanku.” Sungut Tania kesal.


“Tapi kan aku udah bantuin kamu!” protes Wulan.


Ting!


Di tengah-tengah pembicaraan yang belum selesai itu. Kini lift pun berhenti di lantai atas yang di inginkan mereka. Pintu punterbuka, dan Tania segera melangkah di susul Wulan di belakang nya.


“Kalau untuk itu, makasih banget karena udah ngabarin ke aku. Namun, soal suami playboy, sepertinya aku tidak dapat menarik lagi kata-kata ku. Karena aku juga mau kamu merasakan, bagaimana rasanya mempunyai suami playboy nantinya, hahahah!” ucap Tania di susul gelak tawa setelah nya.


“Tania!” wajah Wulan terlihat merah, pertanda dia sedang marah. Melihat hal itu, Tania tak tinggal diam. Kini ia berlari kecil meninggalkan sahabat nya disana, karena takut terkena amukan darinya.


“Terimakasih sudah mengantarku!” serunya seraya semakin mempercepat langkah nya, meninggalkan Wulan di belakang nya.


Wulan diam tak mengejar. Seruan Tania tadi ternyata berhasil menarik beberapa karyawan yang berada disana. Sehingga membuat nya kini berjalan seraya menundukkan wajah nya. Tak berani menatap salah satu dari mereka.


Dasar Tania sialan! Bisa-bisa nya dia menjerit seperti itu, dan mendo’akan ku yang tidak-tidak. membuatku kesal saja, hah… untung saja dia sahabatku.


Umpat Wulan dalam hati setelah berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara itu.


Tania yang saat ini sudah jalan menjauh, kini akhirnya tiba di depan ruangan suaminya Joenathan Alexandre. Tania pun memegang handle pintu, seraya menarik napas nya dalam-dalam.


Hmm, apa yang akan terjadi ya? kalian pasti penasaran kan, dan juga sebal karena terperangkap disini. Hehehe^^ jangan marah-marah, karena besok kalian akan tau jawaban nya.


Nb. Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar nya ya. Karena dengan seperti itu, secara langsung kalian sudah membayar hasil jerih payah Ra. Terimakasih^^


Mampir juga ke karya Ra yang lainnya.


1.       Ternyata ini Cinta


2.       Pengantin yang tak Dirindukan


3.       Pengantin yang tak Dirindukan (2)


Terimkasih^^ happy reading!


Tbc.