
Diatas langit. Terlihat, cahaya bintang bertaburan di sana-sini mengelilingi indahnya sinar bulan purnama malam itu. Semilir angin yang berhembus menerbangkan rambut Tania yang di biarkan tergerai.
Di pembatas balkon yang ada didalam kamarnya. Wanita itu berdiri sambil menatap kearah langit, menikmati indahnya cahaya bulan purnama beserta teman-temannya. Tania tersenyum, seraya sesekali mengelus lembut
perutnya yang masih rata.
Apa yang selama ini dinanti olehnya akhirnya terwujud sudah. Seorang bayi, hasil buah cintanya dengan Joenathan kini tengah menetap di perutnya. “Baik-baik di sana ya sayang.” lirihnya sambil menatap ke perutnya. Tania kini kembali mengulas senyumnya.
Di dalam kamar. Joenathan baru saja keluar dari kamar mandi. Ia menyikat giginya, dan juga mencuci wajahnya. Rutinitas yang selalu di lakukannya setiap kali sebelum tidur. Pria itu kini mengerlingkan pandangannya keseluruh ruang kamarnya.
Namun, sayangnya. Tak terlihat sosok yang sedang dicarinya. Angin berhembus masuk, membuat Joe mengedarkan pandangannya kearah pintu balkon. Dilihatnya, pintu itu terbuka lebar, dan juga samar-samar ia melihat sesosok tubuh yang sangat tidak asing baginya tengah berdiri di sana. Seolah sengaja membiarkan angin malam menusuk tulang.
Joe bergegas datang kesana, mendekati Tania yang tengah berdiri menikmati malam. Setibanya di sana, Joe lantas memeluk tubuh itu dari belakang, mesra. “Sayang, kenapa kau berdiri di sini?” tanya Joe dengan suara yang terdengar begitu lembut.
Tania menoleh, mengerjapkan matanya. “Aku lagi lihat itu.” Tunjuknya kearah langit.
Joe, menengadahkan kepalanya menatap langit. Heran, apa sebenarnya yang membuatnya tertarik. “Apa yang kau lihat di sana?”
“Bulan dan bintang, indah sekali bukan?”
“Indah?” Joe kembali menengadahkan kepalanya, menatap ke langit. “Biasa saja. Bukankah setiap malam juga akan keluar bulan dan bintang seperti itu.” Ujarnya polos.
Joe memang seorang playboy. Namun, semasa lajangnya, ia tak pernah sekalipun memperhatikan cahaya bulan dan juga bintang yang ada di langit. Wanita-wanita yang dulu bersamanya juga seperti itu. Mereka tidak pernah menunjuk kearah langit pada malam hari. Yang mereka inginkan hanyalah, dinner di tempat romantic, berbelanja dan juga menghabiskan liburan akhir pekan di Luar Negeri.
“Malam ini beda Joe.” mata Tania juga tak lepas darisana. Fokus menatap kearah langit.
“Apa bedanya? Bukankah jika sudah malam, bintang dan juga bulan pasti akan tampak di sana.”
“Enggak dong.”
Tania menoleh kearah Joe sekarang. Menatap matanya dengan tatapan lembut.
“Oya?”
“Iya.” Tania mengangguk pelan. “Bulan purnama hanya ada satu kali dalam satu bulan.” Jelasnya kemudian.
“Oya?”
“Tapi kenapa selama ini aku tidak memperhatikannya ya.”
“Itu karena kau terlalu sibuk bermain dengan pacar-pacarmu.” Sentil Tania di hidung Joe.
“Aww!” Joe mengusap pelan hidungnya. “Beraninya kau menyentilku.” Menatap tajam kearah Tania.
“Iya, aku berani. Memangnya kenapa?” kembali menyentil hidung Joe dengan kuat. Lalu kini, wanita itu melepaskan pelukan Joe, melangkah menjauh lalu menjulurkan lidahnya. “Weekk, hahahah!” tertawa lepas seraya berlari masuk kedalam.
“Tania, awas kau ya.” berlari mengejar Tania masuk kedalam.
Tania masuk kedalam kamar mandi. Mengunci pintunya dari dalam. Membuat Joe tak bisa masuk kesana. Pria itu kini terlihat duduk di pembaringan menunggu Tania keluar, berencana membalaskan dendamnya.
Di dalam kamar mandi.
Setelah berpakaian rapi dengan lingerie yang membalut tubuhnya. Tania lantas menggerai rambutnya, menyisirnya dengan rapi. Tak lupa, Tania juga menyemprotkan parfum yang tak terlalu menyengat di tangannya.Sedikit, lalu kini ia gosokkan dan membalurinya di daerah-daerah terntentu miliknya.
“Hmm, selesai.” Tania mengedipkan matanya di depan cermin yang memantulkan dirinya.
Setelah merasa cukup dengan penampilannya. Kini tiba saatnya, ia melangkahkan kakinya kembali kedalam kamar dengan segala rayuan
yang telah di persiapkannya.
Ceklek!
Pintu terbuka. Tania masuk kedalam kamar dan berjalan menyusuri ruang. Di atas tempat tidur, Joe yang mendengar derap langkah kaki Tania, kini menoleh kearahnya.
Astaga… bagaimana aku bisa menahan diri jika dia berpenampilan seperti ini.
Batin Joe seraya menelan ludahnya.
Joe lantas memalingkan muka. Tak ingin menatap terlalu lama, karena hal itu bisa membuatnya hilang akal.
Sabar, Joe… sabar.
Kembali berusaha menguatkan diri agar tak hilang kendali. Tapi, itu hanya berlaku beberap detik. Karena kini saat Tania sudah mendekat dan naik keatas pangkuannya, hati Joe serasa ingin meledak.
Deg!
“Tania,”
“Hmm,” Tania menggigit tipis bibirnya.
“Turunlah.” Berusah tetap menahan dirinya.
“Kenapa? Bukankah kau suka?”
“Iya, tapi—“
“Tapi apa?” timpal Tania.
“Kau sedang hamil sekarang, dan kata Naufal hubungan in—” Jelas Joe.
“Sssstt!” Tania menempelkan tangannya di permukaan bibir Joe. Menutup mulutnya hingga tak bisa melanjutkan kalimatnya. “Aku tidak ingin mendengar apapun. Karena saat ini yang ku tau, aku sangat menginginkanmu.”
Bisiknya di telinga Joenathan.
Jantung Joe berdegup kencang. Bisikan mesra dari Tania membuatnya mabuk kepayang. Nasihat Naufal tentang menjaga jarak hubungan sepertinya sudah tak lagi diindahkan. Malam ini, Tania terlihat begitu berhasrat. Membuatnya tak bisa mengelak dengan apa yang diinginkannya.
Malam ini sungguh berbeda dari biasanya. Jika sebelum-sebelumnya, Joe lah yang memulai duluan. Tapi sekarang, sangat berbanding terbalik. Tania lah yang mengambil inisiatif untuk hal itu. Membuat Joe, tak dapat menolak.
TBC.