
“Astaga … jadi Bayu suka sama Wulan?!” mulut Tania ternganga
lebar. Ia sungguh tak menyangka, jika Bayu benar-benar jatuh hati kepada
sahabatnya Wulan, karena selama ini Tania sendiri tau betul bagaimana sikap
Bayu kepada Wulan, dari cerita yang disampaikan oleh sahabatnya itu. “Ternyata
benar kata orang, sikap benci yang ditunjukkan oleh seorang pria itu ternyata
didasarkan karena cinta,” dengan pelan Tania menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa yang kau katakan?” Joenathan tak mengerti.
“Ya, cinta! Cinta yang diawali dari sebuah kebencian, yang
saat ini tengah dirasakan oleh sahabatmu Bayu,” Tania menjelaskan. “Awalnya
menunjukkan rasa benci yang teramat dalam, menyiksa sahabatku Wulan hingga
akhirnya ia memutuskn keluar dari pekerjaan yang selama ini sangat
diimpikannya. Namun sekarang ia sendiri yang merasa kehilangan setelah Wulan
pergi, dan menyadari jika sebenarnya ia sendiri sangat mencintai Wulan.”
“Ya, kau benar, setelah kepergian Wulan baru ia
menyesalinya. Andai saja saat itu ia meminta maaf dan menahan Wulan untuk
pergi, pasti saat ini ia tidak akan mengalami hal seperti ini,” sambut
Joenathan membenarkan apa yang dikatakan Tania.
“Hmm … sepertinya kita harus berbuat sesuatu kepada mereka,”
ujar Tania.
***
Hari itu, Tania membuat janji dengan sahabatnya Wulan,
meminta izin kepada Roy sang atasan untuk mengizinkan Wulan pulang lebih awal.
Tentu saja Roy mengizinkannya, terlebih itu Tania yang meminta. Wulan pun
akhirnya diizinkan untuk pulang lebih awal.
Siang itu setelah menyantap makan siangnya di Caffe miliknya
Roy. Tania lantas membawa pulang Wulan bersamanya. Sebenarnya bukan benar-benar
pulang ke rumah, melainkan mengajak sahabatnya itu untuk pergi ke suatu tempat.
“Bagaimana, apa kau sudah siap?” tanya Tania saat melihat
Wulan yang saat ini sudah berdiri di hadapan nya.
Wulan mengangguk pelan seraya berkata, “Siap komandan!”
disertai gerakan tangan yang ditaruh di dahi nya, layaknya seorang prajurit
Tania pun tersenyum dibuatnya, selalu Wulan dapat menghiburnya.
“Yasudah, yuk kita pergi!” ajak Tania dengan tangan yang
saat ini sudah digandengkan di tangannya Wulan.
Beberapa saat kemudian…
Tania dan Wulan pun sudah memasuki mobil yang di bawa oleh
Tania. mobil yang memang dikhususkan untuk membawa Tania kemanapun yang ia
suka, berikut dengan dua orang penjaga sekaligus supir yang menyetirkan mobil
untuk Tania.
“Nia, kita ini sebenarnya mau kemana sih?” tanya Wulan
dengan kening yang mengkerut.
“Kita akan pergi bersenang-senang, percayalah.”
“Bersenang-senang, kemana?” Wulan semakin tak mengerti
dibuatnya.
“Kau ikut saja, nanti di sana kau juga akan tau hal apa yang
akan kita lakukan,” kata Tania yang membuat Wulan semakin penasaran.
Di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup tersohor di kotanya.
Sang pengawal sekaligus supir pribadi Tania memberhentikan mobilnya. Tania dan
Wulan turun dari sana beriukut kedua pengawal yang diutus oleh Joenathan itu.
Mereka berjalan bersama memasuki pusat perbelanjaan itu,
tentu dengan jarak yang sudah di atur oleh Tania. Semua itu dilakukan agar
tidak terlalu mencolok di tengah keramaian, mengingat setelan yang dikenakan
kedua pengawalnya itu serba hitam, dengan aksesories kacamata hitam pula.
Kedua ajudan itu pun akhirnya menjaga jarak, sesuai dengan
yang di perintahkan oleh majikannya itu.
Mata Wulan saat terlihat melirik kesana-kemari, menilik
keseluruh sudut pusat perbelanjaan, memperhatikan situasi yang ada. Tiba-tiba
saja, di tengah rasa penasaran yang pada saat itu menghantuinya, ia tercengang
saat Tania yang mengajaknya masuk ke dalam salah satu butik yang cukup terkenal
dengan merek, kualitas dan juga harga yang terbilang tidak murah itu.