
Malam ini masih seperti biasanya. Joenathan dan Tania, masih
tidur di dalam kamar yang berbeda. Itu semua dilakuan, Joe, agar ia bisa
mengontrol dirinya. Ya, Tania, juga tau akan hal itu. Tapi, malam ini ia
mempunyai sebuah rencana, dan mau tak mau harus mengganggu, Joe, di kamarnya.
Sebuah dress, Tania, kenakan. Agak longgar, dengan panjang
yang hampir menutupi lututnya. Namun, di bagian atasnya. Bagian yang menutupi
bahunya dibiarkan turun, disertai rambut yang sengaja dikuncir kuda, agak
tinggi naik keatas.
Ya, Tania, sengaja ingin mempertontonkan leher, dan juga
bagian dadanya. Tau, jika itu adalah salah satu titik kelemahan, Joe, yang tak
dapat dilihat darinya. Jika biasanya saat melihat, Tania, yang mengenakan
pakaian seperti itu. Tanpa menunggu, Joe, langsung menyergap dirinya.
“My King’ku, maaf jika malam ini aku akan kembali
merepotkanmu,” seulas senyuman, tampak terpancar dari sudut bibir, Tania.
Di depan cermin. Wanita itu berdiri, sambil menatap diri
sendiri, dengan berbagai rencana yang sudah dipersiapkan sedari tadi. Kini,
Tania, pun telah siap untuk melangkah pergi.
Di dalam kamar, Joenathan.
Terlihat, Joe, sedang duduk disebuah meja sambil menatap
kelayar laptopnya. Pekerjaan, yang tadinya belum sempat, Joe, selesaikan
dikantor. Ia bawa pulang, dan sekarang sedang dikerjakan.
Terlihat, secangkir kopi menemani, Joe, dalam mengerjakan
pekerjaannya. Hampir habis, hanya tinggal dua tegukan saja. Joe, lantas
menyeruput sisanya, setelah apa yang dikerjakannya itu telah benar-benar
selesai.
Dilihatnya, kearah jam dinding yang ada di kamar. Waktu
sudah menunjukkan pukul 22:02 Wib. Sudah larut, dan sekarang waktunya untuk
tidur. Joe, kini sudah berdiri di samping ranjangnya, berencana untuk
mengistirahatkan diri di sana, setelah menekuni berbagai macam hal yang
membuatnya lelah.
Namun, barusaja, Joe, menaikkan sebelah kakinya. Tiba-tiba
saja, ia memikirkan tentang, Tania.
lirih, Joe, dengan pertanyaannya.
Diangkatnya lagi kakinya yang telah menapaki ranjangnya. Tak
jadi, merebahkan tubuhnya di sana, karena teringat akan sosok wanita yang
dicintainya. Joe, berniat keluar dari kamarnya, hendak pergi ke kamar, Tania,
memastikan, apa wanitanya itu sudah tertidur dengan lelap sekarang. Ya, mungkin
setelah itu, Joe, baru bisa tertidur dengan lelap setelah melihat, Tania.
Ceklek!
Pintu terbuka. Telah berdiri didepannya sosok wanita yang
ingin dikunjunginya. “Sayangku,” Joe, membelalakkan matanya menatap wajah,
Tania.
Tania, mengulas senyuman. “Joe, kau mau kemana?” kedua
alisnya, tampak ia naikkan saat melontarkan pertanyaannya.
“A-aku, tadinya berencana untuk mengunjungimu di kamar. Tapi,
sekarang kau—“ Joe, tak melanjutkan lagi kalimatnya. Matanya, terlihat melirik
penampilan, Tania, dari ujung rambut hingga keujung kaki.
Glek!
Terlihat, jakun, Joe, yang bergerak naik turun tak beraturan.
Sedangkan matanya, tampak terus menatap kearah leher yang dibiarkan terbuka.
“Joe,” Tania, menyapanya. Tapi, Joe, sama sekali tak
menjawab. “Joe,” panggil, Tania, lagi. namun, lagi-lagi, Joe, sama sekali tak
menjawab. Matanya, terlihat fokus memandang kearah depan.
Tania, menggeleng dengan seulas senyuman yang kembali
melingkar. Melihat ekspresi, Joe, yang seperti itu, rasanya ingin sekali dia
tertawa. tapi, Tania, tak melakukannya. malah kini, ia kembali memanggil, Joe,
sambil menepuk bahunya.
“Joe!!”
Joe, tersentak. Tepukan tangan yang mendarat di bahunya
membuat, Joe, kembali tersadar. Penampilan, Tania, yang terlihat sederhana
ternyata cukup menarik perhatiannya. Hal itu karena, Tania, yang dengan sengaja
mengekspos bagian lehernya. Sehingga membuat penampilannya yang sederhana
menjadi begitu memikat.