
“Sial! Sial! Sial!!”
Sebuah teriakan menggema memenuhi isi ruangan. Tas yang
tadinya tersandang dengan indah di sebuah bahu seorang gadis cantik, sekarang
terlempar dengan sangat keras ke atas sebuah sofa yang ada di ruang tamu sebuah
apartemen yang di huni nya itu.
Buk!
Setelah menghempaskan tas nya di sana, wanita itu yang tak
lain adalah Katty lantas ikut mengempaskan dirinya ke sofa yang sama, di mana
tadi ia melemparkan tas nya. Tubuhnya ia sandarkan dengan posisi kepala yang
menengadah ke atas, menatap langit-langit apartemen nya.
“Aaaaa!!!” suara lengkingan keras kini terdengar, menggema
ke seluruh ruangan. Katty berusaha meluapkan segala emosinya yang saat ini
tengah melanda jiwanya. Dikatupkannya kedua telapak tangannya menutupi wajah
nya, dan beberapa saat kemudian…
“Sial! Bagaimana bisa aku mengandung anak ini!” pekik Katty
dengan cengkraman kuat di perut nya. “Aku tidak menginginkannya!” mulai
memukul-mukulkan tangannya kea rah perut ratanya. “Anak ini, aku sama sekali
tidak menginginkannya, tidak ingin!!” lagi, hantaman itu dengan keras mendarat
di perut nya. “Aku tidak ingin anak ini! Tidak ingin! Tidak ingin! Tidak
ingin!!!” lengkingan itu kembali terdengar, hingga akhirnya…
“Hiks… hiks… hiks…” Katty menangis.
Perlahan-lahan, buliran air mata pun mulai jatuh membasahi
pipinya, sungguh tak tertahankan. Cairan bening yang sedari tadi terus memenuhi
pelupuk matanya sekarang ini semakin tak dapat di tahan, jatuh keluar tak
terkontrolkan.
Katty menangis sejadi-sejadinya menumpahkan segala
kesedihannya. Sedih akan nasib yang saat ini menimpa dirinya, hamil dengan pria
yang sama sekali tak dicintainya. Pria dengan latar belakang rendah, yang sama
sekali tak layak untuk berdiri di samping nya.
yang sudah terjadi tidak dapat di putar kembali. Jika saja waktu boleh
berputar, mungkin malam itu ia tidak akan melakukan hal itu kepada Joenathan.
Niat hati ingin menghancurkan hubungan pernikahan antara
Joenathan dan Tania, serta obsesi yang ingin membuat Joenathan kembali bertekuk
lutut kepadanya, memohon akan belas kasih serta cintanya. Kini, malah Katty
sendirilah yang terjerumus ke dalamnya. Ke dalam lembah hitam yang paling
dalam. Hal buruk yang dilakukannya, hendak memisahkan pasangan suami istri yang
saat ini tengah berbahagia merajut rumah tangga mereka sekarang ini seolah
menjadi sebuah karma untuk Katty. Karma atas niat buruknya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Mempertahankan anak
ini, sungguh itu hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Kevin adalah seorang
pengantar makanan, yang mengingat profesinya saja sudah tidak pantas jika
disandingkan dengan Katty. Jika orangtuanya sampai bertanya, apa yang harus
dijelaskannya, haruskah ia berkata jujur jika ayah dari bayi yang dikandungnya
itu adalah seorang pengantar makanan?
“Aaaahhh! Itu tidak mungkin terjadi. Aku, Katty, tidak akan
sudi memiliki seorang suami yang berprofesi sebagai tukang antar makanan. Mau
di taruh di mana mukaku nanti?!”
Jiwa Katty semakin bergelut. Bergelut dengan batinnya,
rasanya ingin sekali ia menggugurkan anak itu sekarang juga. Namun, jika ia
sampai melakukannya, Kevin sudah mengancam jika ia akan menyebarkan koleksi
video mereka yang tengah berhubungan badan. Sungguh, hal itu akan lebih sangat
memalukan untuk dirinya.
“Aaaahhhh!! Sial! Sial! Sial!” Katty mengehentak-hentakkan
kedua tangannya. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang harus aku
lakukan sekarang… hiks.”
Air mata Katty terus mengalir, meratapi kesedihannya.