CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 208


Di dalam sebuah kamar yang ada di hotel tersebut. Terlihat Sam


yang tengah berdiri menatap dirinya sendiri di depan sebuah cermin yang ada di


depan nya. Senyum simpul tertarik dari sudut bibirnya, tatkala menatap pantulan


dirinya sendiri di sana.


“Bagaimana penampilan ku?” tanya Sam kepada sesosok yang


sedari tadi berdiri di samping nya.


“Sempurna,” jawab pria yang saat ini memakai jas berwarna


hitam tersebut.


“Semua mata akan memandang ke arah anda Tuan, tak terkecuali


para wanita,” tambah pria yang biasa disapa Malik itu.


“Haha, sayang nya aku tak pernah berharap mereka melirik ke


arah ku,” kata Sam dengan wajah tanpa ekspresi. “Hanya satu wanita yang


kuinginkan menoleh ke arah ku, tapi sayang nya hal itu tidak akan mungkin


terjadi,” sambung Sam.


“Kenapa anda pesimis Tuan, saya yakin tidak akan ada satu


wanita pun yang akan menolak pria sebaik anda,” kata Malik tak tau.


“Dia sudah menikah,” ujar Sam sembari membalikkan badan.


“Apa! bagaimana bisa?” tanya Malik tak percaya.


Sam tersenyum seraya membalikkan badan, menatap Malik yang


ada di samping nya.


“Aku hanya pria biasa, sama seperti yang lainnya. Tidak semua


wanita akan menyukai ku,” kata Sam.


“Tidak, anda salah,” Malik menggeleng. “Anda bukan seperti


pria biasa, anda adalah pria hebat,” kata nya yakin. “Di luar sana, banyak


sekali wanita yang mengidolakan anda dan sangat ingin bersanding dengan anda,”


tambah Malik.


“Sayang nya, dia bukan salah satunya,”ujar Sam.


“Sungguh sangat di sayang kan,” tunduk Malik penuh sesal.


“Sudahlah, jangan membahas hal itu lagi. Saat ini di luar


sana orang-orang pasti sedang menunggu kehadiran ku,” kata Sam menyudahi


pembicaraan.


_______


Ting!


Sam keluar dari sana dengan beberapa orang bersamanya. Salah


satunya adalah Malik orang kepercayaan Sam. Sementara itu dua lainnya adalah


pengawal yang selalu Malik bawa untuk menjaga Sam.


“Aaaaaa!!!”


Terdengar jeritan seseorang dari arah tangga.


“Siapa itu?” Sam mengerutkan dahinya dengan perasaan cemas


yang tiba-tiba saja melanda hatinya.


“Saya akan memeriksanya Tuan,” kata Malik seraya pergi dari


sana.


Di lantai, atau yang lebih tepatnya lagi di bawah anak


tangga. Malik melihat seorang wanita terbaring lemah tak sadarkan diri dengan


darah segar yang keluar begitu banyak. Malik kaget, panik dan segera ingin


memberitahukan Sam. Namun, ternyata Sam kini juga sudah berada di tempat itu.


Entah mengapa saat itu begitu mendengar suara teriakan,


perasaan Sam tiba-tiba saja tidak enak. Hatinya merasa cemas dengan degupan


jantung yang tak beraturan. Hal itu lantas membuat Sam memutuskan untuk segera


ikut pergi ke arah sana. Memeriksa sendiri kejadian yang saat ini terjadi di


sana.


“Tania,” lirih Sam.


Matanya membelalak tatkala melihat sosok Tania yang saat ini


terbaring di sana. Darah yang mengalir, membasahi lantai membuat Sam sangat panik.


Ia lantas segera berhambur ke arah Tania, memeluk erat tubuh itu.


“Tania, Tania,” panggil Sam dengan suara lirih. Namun sayang


nya, Tania mendengar.


“Nona ini siapa Tuan?” tanya Malik bingung.


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Segera siapkan mobil,”


perintah Sam.


Di angkat nya tubuh Tania yang saat itu terbaring di lantai,


menggendongnya dengan darah yang berceceran di sana. Sam tak peduli lagi dengan


setelan yang di pakainya kini, karena yang terpanting saat ini adalah bagaimana


caranya menyelamatkan Tania dengan segera.