
Di dalam sebuah kamar yang ada di hotel tersebut. Terlihat Sam
yang tengah berdiri menatap dirinya sendiri di depan sebuah cermin yang ada di
depan nya. Senyum simpul tertarik dari sudut bibirnya, tatkala menatap pantulan
dirinya sendiri di sana.
“Bagaimana penampilan ku?” tanya Sam kepada sesosok yang
sedari tadi berdiri di samping nya.
“Sempurna,” jawab pria yang saat ini memakai jas berwarna
hitam tersebut.
“Semua mata akan memandang ke arah anda Tuan, tak terkecuali
para wanita,” tambah pria yang biasa disapa Malik itu.
“Haha, sayang nya aku tak pernah berharap mereka melirik ke
arah ku,” kata Sam dengan wajah tanpa ekspresi. “Hanya satu wanita yang
kuinginkan menoleh ke arah ku, tapi sayang nya hal itu tidak akan mungkin
terjadi,” sambung Sam.
“Kenapa anda pesimis Tuan, saya yakin tidak akan ada satu
wanita pun yang akan menolak pria sebaik anda,” kata Malik tak tau.
“Dia sudah menikah,” ujar Sam sembari membalikkan badan.
“Apa! bagaimana bisa?” tanya Malik tak percaya.
Sam tersenyum seraya membalikkan badan, menatap Malik yang
ada di samping nya.
“Aku hanya pria biasa, sama seperti yang lainnya. Tidak semua
wanita akan menyukai ku,” kata Sam.
“Tidak, anda salah,” Malik menggeleng. “Anda bukan seperti
pria biasa, anda adalah pria hebat,” kata nya yakin. “Di luar sana, banyak
sekali wanita yang mengidolakan anda dan sangat ingin bersanding dengan anda,”
tambah Malik.
“Sayang nya, dia bukan salah satunya,”ujar Sam.
“Sungguh sangat di sayang kan,” tunduk Malik penuh sesal.
“Sudahlah, jangan membahas hal itu lagi. Saat ini di luar
sana orang-orang pasti sedang menunggu kehadiran ku,” kata Sam menyudahi
pembicaraan.
_______
Ting!
Sam keluar dari sana dengan beberapa orang bersamanya. Salah
satunya adalah Malik orang kepercayaan Sam. Sementara itu dua lainnya adalah
pengawal yang selalu Malik bawa untuk menjaga Sam.
“Aaaaaa!!!”
Terdengar jeritan seseorang dari arah tangga.
“Siapa itu?” Sam mengerutkan dahinya dengan perasaan cemas
yang tiba-tiba saja melanda hatinya.
“Saya akan memeriksanya Tuan,” kata Malik seraya pergi dari
sana.
Di lantai, atau yang lebih tepatnya lagi di bawah anak
tangga. Malik melihat seorang wanita terbaring lemah tak sadarkan diri dengan
darah segar yang keluar begitu banyak. Malik kaget, panik dan segera ingin
memberitahukan Sam. Namun, ternyata Sam kini juga sudah berada di tempat itu.
Entah mengapa saat itu begitu mendengar suara teriakan,
perasaan Sam tiba-tiba saja tidak enak. Hatinya merasa cemas dengan degupan
jantung yang tak beraturan. Hal itu lantas membuat Sam memutuskan untuk segera
ikut pergi ke arah sana. Memeriksa sendiri kejadian yang saat ini terjadi di
sana.
“Tania,” lirih Sam.
Matanya membelalak tatkala melihat sosok Tania yang saat ini
terbaring di sana. Darah yang mengalir, membasahi lantai membuat Sam sangat panik.
Ia lantas segera berhambur ke arah Tania, memeluk erat tubuh itu.
“Tania, Tania,” panggil Sam dengan suara lirih. Namun sayang
nya, Tania mendengar.
“Nona ini siapa Tuan?” tanya Malik bingung.
“Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Segera siapkan mobil,”
perintah Sam.
Di angkat nya tubuh Tania yang saat itu terbaring di lantai,
menggendongnya dengan darah yang berceceran di sana. Sam tak peduli lagi dengan
setelan yang di pakainya kini, karena yang terpanting saat ini adalah bagaimana
caranya menyelamatkan Tania dengan segera.