
Di kantor.
Perang dingin kini terlihat di antara Bayu dan juga Wulan. Keduanya terlihat saling menatap sinis antara satu sama lain, seolah-olah menyimpan dendam yang begitu mendalam.
Gadis ini, berani-beraninya dia menatapku seperti itu.
Batin Bayu saat berhadapan langsung dengan Wulan.
Lihat saja, bagaimana aku akan membuatmu kelimpungan dengan pekerjaanmu hari ini.
Sebuah ide jahat saat ini telah disusun dengan rapi di benaknya.
“Kau, buatkan kopi untukku,” titah Bayu kepada Wulan.
Wulan hanya diam tak menjawab, dengan gerakan bangkit dari duduknya. Berdiri lalu melangkah pergi dari sana.
“Berhenti!” seru Bayu.
Seketika, Wulan pun menghentikan langkahnya. Sementara Bayu kini berjalan menghampiri Wulan.
“Aku menyuruhmu untuk membuatkan segelas kopi untukku, tapi kau malah berlalu pergi seperti ini. Sebenarnya, kau menuruti perintahku atau tidak?” tanya Bayu dengan puncak kekesalannya.
“Bukankah anda menyuruh saya untuk membuat kopi? Saya berdiri di sini hendak berjalan ke arah dapur membuatkan kopi untuk anda,” jelas Wulan dengan kalimat formal.
Bayu mengerutkan dahinya, “Ooo… begitu, yasudah lanjutkan dan segera antar ke ruanganku.”
Setelah mengucapkan kalimatnya, Bayu pun lantas pergi dari sana kembali ke ruang kerjanya. Sekilas, ia menolehkan pandangannya ke arah Wulan yang sudah mulai bergerak. Sebuah tatapan sinis disertai licik, itulah
yang saat ini tersorot dari matanya.
Wulan berjalan menuju ke arah dapur. Dapur kantor yang berada di lantai yang sama dengan tempatnya bekerja. Ya, perusahaan itu mempunyai dapur di setiap lantai para karyawannya bekerja. Dapur kecil yang sengaja di desain untuk sekedar menyeduh kopi.
Tak berapa lama kemudian, Wulan pun kini sudah tiba di sana. Di buka nya lemari gantung yang ada di sana, Wulan mengambil dua stoples yang ada di dalam. Satunya berisi gula, sedangkan satunya lagi berisikan bubuk kopi. Sebuah cangkir juga tak lupa di ambil, berikut lapiknya yang berupa piring kecil pasangannya.
Wulan, kini terlihat sudah menyeduh kopinya dengan air panas yang mengalir dari sebuah dispenser multifungsi yang ada di sana. Segera, ia pun bergegas pergi dari sana. Membawakan secangkir kopi buatannya kepada si atasan bertampang jelek bebuyutannya.
Setelah berjalan cukup jauh, dari dapur kantor menuju ke ruangan atasannya. Wulan akhirnya sudah tiba di sana. Di ayunkannya kepalan tangannya yang tak seberapa, beberapa kali sebelum membuka pintunya. Kini setelah ritual itu selesai, Wulan pun membuka pintu itu dan melangkah masuk ke dalam.
Di dalam sana Wulan melihat, Bayu yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Matanya menatap ke arah laptop sambil sesekali mendaratkan tangannya di keyboard yang ada di sana.
Wulan kini sudah tiba di depan meja kerja Bayu. Diletakkannya kopi buatannya itu di meja yang ada di depannya, sangat hati-hati dan tanpa bersuara, tak ingin kehadirannya menjadi penganggu atas keseriusan seseorang yang ada di depannya.
Wulan lantas membalikkan badannya, setelah selesai meletakkan kopinya. Namun, baru beberapa langkah ia beranjak terdengar suara semburan dari belakang.
“Pyuurrrhh!”
Bayu memuntahkan kembali minuman yang sudah masuk ke mulutnya. Dengan mata yang memicing ia menatap ke arah Wulan dan kemudian memanggilnya.
“Wulan!” serunya dari belakang.
Wulan yang tadinya sudah berhenti karena mendengar sesuatu yang aneh di belakangnya lantas segera membalikkan badannya. Dilihatnya ke arah depan, Bayu menatapnya dengan sorotan mata yang tajam. Tak bersuara, Wulan masih berdiri terpaku di tempatnya menatap Bayu yang ada di ujung sana.
“Kesini kau!” panggil Bayu.
Ada apa sebenarnya, apa yang sedang terjadi?
Batin Wulan.
Dengan langkah yang agak sedikit malas, Wulan pun akhirnya kembali lagi ke meja kerja Bayu.
“Minuman apa ini!”
“Kopi,” jawab Wulan polos.
“Aku tau ini kopi, tapi mengapa pahit sekali?” tanya Bayu, padahal rasanya sama sekali tidak pahit. Manisnya pas, sama seperti biasanya.
“Pahit?” Wulan mengerutkan dahinya. “Perasaan, saya menggunakan takaran yang seperti biasanya. Bagaimana bisa rasanya pahit?” tanya Wulan dengan rasa tak percayannya. Mengingat, jika tadi ia memang menggunakan takaran yang seperti biasanya.
“Jadi kau ingin menyalahkanku?” sorot mata Bayu kian tajam.
“Bukan seperti itu maksud saya, tapi—“
Belum habis kalimat Wulan, Bayu menyelanya. “Jika tidak percaya minum saja!” Bayu menyerahkan cangkir kopi yang tadinya sudah ia semburkan dengan kopi yang tadi di minum nya.
Iuuhhhh, jijik, mana mungkin aku mencicipi kopi itu. Melihatnya saja sudah membuatku mual, apalagi meminumnya.
Batin Wulan.
“Baiklah, saya akan segera membuatkan yang baru untuk anda.”
Wulan mengalah, dari pada harus mencicipi kopi yang bercampur dengan air saliva milik Bayu. Toh membuat kopi juga tidak terlalu lama, jadi yasudah buat lain saja. Begitu pikirnya.
Hahahah, rasakan! Ini baru awalnya saja, lihat bagaimana aku akan membuatmu bolak-balik ke dapur hari ini, hingga kakimu merasa lelah dan memilih menyerah.
Batin Bayu dengan tawa yang kepuasaan yang ada di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian.
“Tuan, ini kopi yang baru.”
Diletakkannya kembali kopi buatannya di atas meja kerja Bayu. Namun kali ini masih di sana, menunggu Bayu mencicipinya tak ingin kesalahan tadi terjadi untuk yang kedua kalinya.
“Silahkan diminum,” mempersilakan Bayu untuk segera meminum kopinya.
“Apa kau tidak lihat jika aku sedang sibuk! Aku akan meminumnya, begitu pekerjaanku sekesai!” bentak Bayu.
“Hmm, baiklah.”
Wulan memilih mengalah, bagaimanapun ini masih jam kerja. Dan sekarang ia sedang menjalankan perkerjaannya sebagai sekretaris pribadinya Bayu.
Sudah sekitar lima menit Wulan menunggu, tapi Bayu belum juga menyentuh kopinya. Tak sabar, akhirnya Wulan pun memilih pergi dari sana, namun lagi-lagi baru beberapa langkah kakinya beranjak suara semburan itu kembali terdengar, membuat Wulan mau tidak mau kembali membalikkan badannya.
“Kau gila, ya! Tadi kepahitan, dan sekarang kemanisan. Apa kau ingin aku menderita diabete dengan memberikan begitu banyak gula untukku!” lagi-lagi suara dengan nada tinggi itu terdengar.
Tangan Wulan pun mengepal. Rasanya, ia tadi sudah memastikan membuat minuman itu dengan takaran biasa. Tapi, kenapa Bayu mengatakan jika itu terlalu banyak gula. Pasti ada sesuatu di sebaliknya.
Tak banyak berkata-kata, Wulan pun segera menghampiri meja kerja Bayu. mengambil kembali cangkir kopi yang ada di sana.
“Kerja yang becus! Jika tidak, keluar saja dari pekerjaanmu itu, bikin orang marah saja.” cibir Bayu.
Wulan berlalu dari sana, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Di buatkannya lagi kopi yang sama, dengan takaran yang sama pula. Namun kali ini, ia tidak hanya membuatkannya satu melainkan dua. Ya, dua gelas kopi dengan takaran yang sudah dipastikan sama.
Wulan pun membawanya masuk ke dalam ruang kerja Bayu. namun, sebelum meletakkannya di meja kerja, terlebih dahulu Wulan menaruh secangkir kopi yang satunya di meja yang ada di depan sofa. Baru setelah itu ia membawa yang satunya lagi kepada Bayu untuk disuguhkan.
Kali ini, Wulan tak menunggu. Setelah meletakkan kopi itu di meja kerja Bayu. Gadis itu berpura-pura bergegas pergi dari sana. Sesuai dugaannya, sama seperti sebelumnya. Setelah beberapa langkah pergi dari sana, Bayu kembali melakukan hal yang sama seperti yang sebelumnya. Menyemburkan kopinya dan memekik memanggil namanya.
Wulan pun menoleh, setelah sebelumnya mengambil secangkir kopi yang lainnya yang tadi ia letakkan di meja yang ada di depan sofa. Segera, ia pun melangkah menghampiri Bayu dengan segenap keberaniannya yang telah
terkumpul akibat kekesalannya.
“Apa anda kembali bermasalah dengan kopinya?” tanya Wulan dengan nada tak senang.
“Ya, itu semua karena kau terlalu banyak memasukkan bubuk kopinya,” tukas Bayu melempar kesalahan kepada Wulan.
“Terlalu banyak? Hah, baiklah akan kutunjukkan.”
Bayu mengerutkan dahi mendengar ucapan Wulan. Dilihatnya gadis itu mencicipi kopi yang ada di tangannya.
Sial! Ternyata dia membuat dua cangkir kopi.
Batin Bayu.
Sesaat kemudian, setelah Wulan mencicipi kopi buatannya dan merasa tak menemui masalah di sana. Segera, Wulan mendaratkan sebuah siraman dari cairan hitam pekat yang dibuatnya itu ke arah jas yang dikenakan Bayu
dengan lantangnya.
Byuurr!
“Arrgghhh!” Bayu memekik.
Bukan pakaiannya saja yang kotor, tapi kulitnya juga merasa sedikit panas akibat siraman yang menembus pakaiannya, mengenai kulitnya.
“Kau! Berani-beraninya,” sorot mata Bayu terlihat tajam, seolah-olah ingin mencengkeram. Layaknya serigala yang ingin memakan mangsanya.
“Apa! Tidak senang?” tantang Wulan.
“Apa kau tau dengan apa yang kau lakukan?”
“Aku tau, aku sedang membalas seseorang yang sedang menindasku sekarang.”
“Aku bisa memecatmu dari sini,” ancam Bayu.
“Pecat? Hah, aku tidak takut!”
“Kau menantangku?”
“Ya, aku menantangmu.” tekan Wulan.
“Kau, berani-beraninya—“
“Ya, aku berani. Karena aku Wulan tidak akan terima begitu saja jika ada seseorang yang berusaha menindasku. Apalagi itu pria jelek sepertimu,” tunjuknya kearah Bayu.