
Malam hari.
Saat ini Tania telah selesai mengenakan gaun panjang yang dibelinya tadi bersama dengan Wulan. Gaun berwarna hitam dengan taburan permata dibagian atas nya, terlihat begitu mewah saat sudah melekat di tubuh Tania.
Aura kecantikan Tania semakin terpancar, meskipun saat ini sedang mengandung enam bulan. Tapi perut buncitnya itu tidak menutupi sedikitpun kecantikan yang Tania punya, yang ada malah penampilannya malam ini terlihat begitu seksi di mata Joenathan.
“Inikah gaun yang menghabiskan begitu banyak uang ku?” tanya Joenathan.
Pria itu saat ini sudah berdiri di depan cermin yang sama bersama Tania, memposisikan tubuh nya di belakang tubuh Tania, lalu memeluknya dari belakang.
Tania mengangguk dengan seulas senyum yang di pancarkan. “Ya, kau benar, lagipula kau sendiri kan yang bilang jika aku harus menghabiskan uangmu. Jadi, ya … aku beli saja yang ini tanpa melihat harga terlebih dahulu. Ternyata jumlah uang yang dikeluarkan untuk gaun ini lumayan juga, hahahah!” Tania tertawa.
“Kau senang?” tanya Joe dengan dagu yang menempel di bahu Tania.
“Ya, tentu saja!” seru Tania.
“Jika kau merasa senang dengan menghabiskan uang ku, maka lakukanlah setiap hari,” ujar Joenathan.
“Tidak, kita harus berhemat, karena sebentar lagi kita berdua akan segera memiliki anak.” sahut Tania.
“Itu urusanku mencari uang, tugasmu adalah untuk menghabiskan. Jika masalah tabungan, aku sudah mengaturnya sedari dulu. Ya … kira-kira cukuplah untuk masa tua kita nanti.” kata Joenathan.
“Tapi aku tidak mau.”
Tania kini melepaskan tangan Joenathan yang melingkar di badan. Ia lantas membalikkan tubuhnya beralih ke arah ranjang untuk mengambil sesuatu di sana.
“Kenapa? Bukankah kau sangat senang berbelanja?”
Joenathan masih berdiri di tempat nya.
“Benar, tapi aku jauh lebih senang mengumpulkan uang. Jika terus berbelanja barang-barang mahal, hatiku menangis saat mengingat jumlah uang yang aku belanjakan.”
“Kenapa harus menangis?”
“Kemiskinanku di masa lalu membuatku sangat sayang kepada uang, menghargai uang adalah bagian hidupku,” cetus Tania.
“Itu dulu, sekarang kau sudah ada aku. Aku, Joenathan, akan membiayaimu seumur hidupmu. Jadi, mulai sekarang kau tak perlu takut lagi tentang masalah uang,” ujar Joenathan.
“Iya, aku tau, sekarang aku sudah memiliki bank bersamaku. Tapi, bukan berarti aku akan menghamburkannya. Dari pada membuangnya untuk hal yang tidak perlu, lebih baik kita sedekahkan sedikit hasil jerih payahmu itu agar
“Setiap bulan aku bersedekah, membiayai beberapa panti asuhan yang ada di Ibukota,” kata Joenathan.
“Oya? Baguslah kalau begitu, berarti uang yang kau berikan kepadaku tidak akan berkurang lagi, hahaha!” lagi-lagi Tania tertawa.
Joe, mengelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya. Bahagia melihat Tania yang bisa tertawa seperti sekarang ini, tapi apa sebenarnya yang membuat Tania sangat bahagia malam ini? Pertanyaan itu terbesit begitu saja di benak Joe.
Setelah mengambil sesuatu yang ada di atas ranjang, Tania lantas kembali beralih berdiri di depan cermin.
“Joe, apa kau sudah menghubungi Bayu tadi? Sudahkah kau mengatakan jika dia juga harus datang malam ini? Ingat Joe, aku tidak ingin diabaikan di sana,” Tania memperingatkan.
“Sudah,” Joe mengangguk. “Tadi sudah ku katakan kepada Bayu. Dia bersedia datang, dan akan bertemu dengan kita di sana.
“Baguslah, jadi aku tidak perlu khawatir sekarang,” senyum Tania kembali merekah.
Sebuah minyak kayu putih dengan kemasan mini, yang di ambil nya tadi di atas ranjang sekarang sudah di buka penutupunya. Tania lantas mengarahkannya ke arah hidung, menghirup aromanya.
“Hmm … rasanya lega sekali sekarang,” kembali menutup botol minyak kayu putih tadi.
“Apa itu yang kau pegang?” tanya Joe menunjuk ke arah botol.
“Ini?” Tania mengangkat tangannya, memperlihatkan apa yang di pegang nya.
Joe pun mengangguk.
“Minyak kayu putih,” terang Tania.
“Minyak kayu putih?”
“Heuumm,” Tania mengangguk. “Aku suka aromanya, karena dengan menghirupnya rasa mual ku akan berkurang,” jelas Tania.
“Oya, apakah seampuh itu?” Joe meragukan. “Sini, coba aku cium,” pintanya seraya mengulurkan tangannya.
Tania memberikan, lalu Joe segera membukanya. Menghirup aromanya, yang menurutnya ternyata biasa-biasa saja.
“Aromanya menyegarkan, tapi aku tidak merasakan apa-apa di tubuh ku. Kau bilang minyak ini ampuh.”
“Hmm … bukan untukmu, tapi untukku. Ke jelaskan pun kau tidak akan mengerti,” mengembuskan napas dengan kasar.