CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 124


 “Bantu aku untuk setia.” Wajah Joe terlihat serius, ia sama sekali tak main-main dengan kalimat itu. Membuat Bayu, begitu tercengang mendengar nya.


“Apa Joe, apa aku tidak salah dengar?” Tanya Bayu berusaha memastikan.


“Aku hanya akan mengatakan ini untuk yang terakhir kalinya. Please, bantu aku untuk setia.” Mengulang kembali kalimat nya, mempertegas, jika saat ini ia begitu sungguh-sungguh dengan apa yang di ucapkan nya itu.


Bayu mendelik, begitu takjub saat mendengar nya. Bagaimana tidak, Joe, sosok yang sudah bertahun-tahun ini di kenal nya. Tak pernah serius terhadap wanita apalagi betekuk lutut. Hari ini, siang ini, detik ini, ia malah mendengar jika sahabat nya itu ingin setia. Yang benar saja!


Aku nggak salah dengarkan. Joe si raja Playboy, akhirnya insaf juga.


Bayu, menaruh telapak tangan nya di kening Joe. memastikan suhu badannya, apakah saat ini dia normal. Mungkinkah ia sedang sakit, makanya bisa bicara ngelantur seperti itu.


“Apa yang kau lakukan.” Tak senang, Joe menepis tangan Bayu disana. Yang dengan sengaja di letakkan nya di dahi nya.


“Kau tidak sakit.” Bayu menggeleng pelan.


“Kau menyumpahi ku sakit?” tatap Joe geram.


“Tidak-tidak, aku fikir kau sedang sakit sehingga berbicara ngelantur entah kemana.” Ujar Bayu jujur.


“Hah, sialan!” umpat Joe.


“Jadi, kau beneran serius mau setia?” tanya Bayu lagi memastikan.


“Sudah ku bilang, aku tidak akan mengulang nya untuk yang ketiga kali.” Tegas Joe.


“Hahahah! Baiklah aku mengerti. Joenathan Alexandre, si raja nya Palyboy sudah insaf sekarang!” Berbicara dengan tegas, namun terkesan menyindir.


“Jaga ucapanmu, jangan sampai terdengar orang.” Joe memperhatikan sekitar. Nada suara Bayu yang bisa di bilang agak keras tadi membuatnya sedikit khawatir. Jika-jika sampai ada yang mendengar nya.


“Ups, sorry.” Bayu sedikit menutup mulutnya dengan ujung jari tangan nya.


Sementara Joe, terlihat mengerlingkan hawa dingin kepadanya.


Sore hari.


Terlihat para karyawan mulai sibuk mmengemasi barang-barang nya. Tak terkecuali dengan Bos besar seperti Joe.


Setelah menyelesaikan pekerjaan yang ada di layar laptopnya. Kini Joe menutup nya. Terlihat Tania yang ada disana juga  sedang sibuk merapikan berkas-berkas di meja nya. Ya, Tania tak hanya tinggal diam. Ia juga membantu Joe dalam pekerjaan-nya, mengurus segala sesuatunya tentang apa yang di kerjakan Joe saat itu.


“Sayang, makasih ya.” Ucap Joe lembut, senyum nya juga terlihat begitu hangat sore itu.


Entah makanan apa yang terakhir di makan nya, sehingga bisa membuatnya berlaku seperti itu.


Joe, dia tersenyum, kenapa dia bisa tersenyum seperti ini? Apakah dia tidak marah padaku, dan menerima begitu saja hukuman yang ku berikan untuknya.


Tania melirik aneh kearah Joe.


“Sayang, kenapa kau menatapku seperti itu?” Joe membalas tatapan Tania yang begitu tajam kearah nya.


Di sunggingkan-nya senyum nya, lalu dengan cepat Tania menjawab.


“Karena aku suka. Hahahahah!” di susul gelak tawa kemudian.


Joe terperangah, lagi-lagi Tania menunjukkan sikap yang membuat Joe tak habis fikir dengannya. Bagaimana bisa, dia berbicara se-santai itu sekarang. Mengingat akan apa yang baru saja di lakukan Tania terhadapa dirinya. Dan lagi, baarusan dia masih menatap aneh kepadanya, seolah menaruh curiga. Namun sekarang, ekspresi berubah begitu saja dan malah tertawa dengan lepas.


Joe, menghela nafas panjang, menyaksikan tawa Tania yang terdengar begitu renyah. Entah mengapa Joe merasa senang, bahagia saat melihat nya. Tawa itu, seolah menjadi magnet kuat yang mampu membuat perasaan Joe bahagia. Sungguh, tak dapat di jelaskan oleh kata-kata. Yang pasti Joe kini seolah tersihir menyaksikan tawa itu. Di topang nya dagunya di bantalan sofa, hingga tak terasa garis senyum nya melebar, di iringi dengan matanya yang semakin menyipit.


Tania tau akan hal itu. Tau akan sedari tadi Joe yang terus memperhatikan dirinya, tawanya. Tania lantas tersenyum menanggapinya. Kini setelah ia membereskan semua, tumpukan dokumen yang ada di meja kerja suaminya. Tania pun lantas menghampiri Joe, yang sedang duduk menunggunya di sofa.


“Sudah selesai?” tanya Joe yang menengadahkan kepalanya, menatap Tania yang berdiri di hadapan nya.


“Hmm, sudah.” Tersenyum, menunjukkan keceriaan-nya. Yang ia yakini, Joe suka akan hal itu.


“Ya sudah, sekarang kita pulang.” Kata Joe seraya bangkit dari duduk nya.


Tania yang berdiri disana pun kini dengan segera menyergah tangan Joe, menggandeng nya dengan mesra.


“Ini salah satu hukuman untukmu.” Menengadah keatas menatap wajah Joe.


“Ya, aku mau kita bergandengan terus seperti ini sampai masuk mobil. Karena aku ingin semua orang tau jika kau milikku, jangan sampai mereka berani merebut nya.” Jelas Tania.


Joe tersenyum, ternyata ini maksud gadis nya. Tingkah nya yang semakin hari semakin berani saja membuat Joe takjub.


Apakah aku terlalu memanjakan nya selama ini?


Kalimat itu tercetus begitu saja di benak Joe. Meskipun merasa sedikit risih dengan perlakuan seperti itu, namun Joe sama sekali tak menolak. Malah kini ia membalas gandengan tangan Tania dengan lembut.


“Baiklah, sesuai permintaan mu.” Ujar Joe.


Tak mendapat penolakan apapun dari Joe membuat Tania semakin besar kepala. Kini dengan beraninya ia menyandangkan tas nya di sebelah tangan Joe untuk di bawanya.


“Sekalian, sebagai pembuktian jika kau sangat sayang kepadaku.” Ujar Tania cepat.


Joe kembali menarik nafas panjang. Melirik kearah tas wanita yang melingkar di tangan nya.


Haruskah, aku melakukan hal-hal seperti ini? Gila! Ini benar-benar gila.


Batin Joe.


Rasanya ingin sekali Joe menolak. Namun, saat ingin mengucapkan tentang keberatan-nya, lidah Joe seakan kelu. Malah kini kepalanya mengangguk dengan sendirinya, seolah menerima semua apa yang di lakukan Tania terhadap nya.


“Makasih sayang, cup!” ekspresi kegembiraan di tunjukkan Tania. Dengan mendaratkan sebuah ciuman lembut pipi Joe.


Lagi-lagi Joe seperti tersihir. Layaknya anak-anak yang baru saja mendapatkan sebuah permen dari Ibunya. Joe pun kini menurut dengan segala apa yang di inginkan Tania.


Di sepanjang perjalanan, mulai dari saat Joe dan Tania keluar dari ruangan nya. Semua mata memandang kearah mereka. Terutama kearah Joe, sosok Bos di perusahaan. Tas  wanita yang berwarna kalem tersebut juga kian menarik perhatian, karena magnet sang penyandang nya.


“Wah, itu pak Bos. Kok bisa ya,” bisik para karyawan kepada karyawan lainnya.


“Cinta itu buta, dan juga bisa merubah segalanya. Sama seperti Presdir kita sekarang.” Bisik Karyawan lainnya.


Hancur sudah sekarang. Image dingin yang selama ini di bentuk nya luntur lah sudah. Sosok dingin, tegas dan tak sembarang, sepertinya sudah tak lagi ada di dirinya. Bisikan-bisikan itu semakin terdengar di telinga nya, hingga membuat nya menggeram, mengepalkan tangan nya.


Namun saat ia mendengar tentang mereka yang mengatakan.


“Presdir ini memang sosok pria idaman yang begitu sempurna ya, bukan hanya tampan dan juga kaya. Ternyata dia sangat sayang dan perhatian kepada istrinya, pria seperti ini sangat langka di bumi ini, bikin iri saja.” Kata salah seorang karyawan.


“Ya, ya, bikin iri saja!” timpal karyawan lainnya.


Kalimat terakhir malah membuat nya bangga.


“Kau dengar kan sayang, mereka iri dengamu. Karena kau wanita yang paling beruntung karena bisa mendapatkan pria sepertiku.” Ucap nya dengan penuh percaya diri.


“Ya, kau benar. Saking beruntung nya, kedepan-nya aku akan mempunyai banyak saingan cinta yang akan berusaha mendapatkan dirimu. Maka, mulai sekarang jagalah dirimu baik-baik, karena jika tidak, aku juga tidak akan segan-segan melakukan hal yang sama sepertimu.” Ancam Tania.


Wah-wah! Semakin menarik saja nih perjalanan cinta di antara mereka. Saingan cinta?  Pasti nggak akan ada ya, yang mau mempunyai saingan cinta disini. Apalagi saingan memperebutkan suami sendiri, hahah!


Nb. Jangan lupa tinggalkan Like dan juga Komentar nya ya.


Mampir juga ke karya Ra yang lainnya.


1.       Ternyata ini Cinta


2.       Pengantin yang tak Dirindukan


3.       Pengantin yang tak Dirindukan (2)


Happy reading! Terimakasih^^


TBC.


Mampir juga ke karya teman Ra yang satu ini ya👇