CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 214


Cinta tidak harus memiliki. Mencintai tidak selamanya harus berbalaskan dari orang yang kita kasihi. Terkadang, melihatnya bahagia dengan pilihannya membuat kita sendiri merasakan bahagia. Senyumnya, tak harus bersama


kita. Kasihnya juga bahkan tak mesti bersama kita. Ada kala kita hanya bisa melihat orang yang terkasih bahagia dengan yang lain. Pilihan yang mampu membuatnya tersenyum riang serta semangat dalam menjalani hidup.


Seperti itulah yang saat ini dirasakan oleh Sam. Cinta yang begitu tulus kepada Tania. Sangat dalam bagaikan lautan lepas. Namun, sayangnya cinta itu tak berbalaskan.


Mencoba ikhlas memang tidaklah mudah, sangat sulit untuk dilakukan. Namun, hal itu harus dijalankan demi menghapus sebuah rasa yang selama ini tersimpan di lubuk hati. Memang tidak mudah, tapi itu harus dilakukan.


Agar kelak, ia sendiri bisa bahagia dengan kehidupannya meskipun itu bukan dengan sosok yang selama ini dicintainya, yaitu, Tania.


Ya, meski belum sepenuhnya bisa merelakan. Namun Sam tetap berupaya untuk menghapus rasa yang saat ini masih tertanam di hati. Melihat bagaimana Tania yang sangat bahagia saat berada di dalam pelukannya Joenathan


membuat Sam akhirnya memutuskan untuk mundur. Kembali membiarkan Joenathan, menghapus setiap air mata yang mengalir di pipi Tania. Berharap kelak setelah ini, Joenathan benar-benar bisa menjaga Tania, berbahagia dengan putranya, melindungi keluarganya.


_________


Di sebuah tempat, dengan kungkungan jeruji besi yang mengelilingi. Terlihat seorang wanita tengah duduk meringkuk melingkari kedua lututnya dengan kedua tangan. Tampak takut dengan lingkungan sekitar. Terlihat


dari caranya memandang ke sana-sini, ke setiap sudut tempat yang dihuni oleh beberapa wanita lainnya.


Ini adalah kali pertama wanita itu berada di tempat seperti itu. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam hidupnya tentang tempat yang dihuninya saat ini, bahkan dalam bayangan pun tidak pernah. Tempat dimana para pesakitan berada, menebus kesalahan yang telah diperbuat.


Terdengar suara langkah kaki, yang kemudian memperlihatkan seorang pria bertubuh tegap yang memakai seragam cokelat. Seragam yang ditakuti oleh para penjahat, karena seragam itu identik dengan penegak kebenaran yang akan menghukum siapapun yang telah bersalah.


‘Polisi’ kalimat yang membuat para penjahat langsung gentar begitu mendengarnya. Bahkan jika melihat bayangannya saja, orang-orang yang telah berlaku criminal akan segera lari bersembunyi tak menampakkan batang


hidungnya.


Saat ini posisinya sedang berada di kantor polisi. Tempat di mana para pelaku tindak kejahatan ditawan. Mereka yang berlaku tidak adil terhadap orang lain maupun dirinya sendiri semuanya di tangkap dan di masukkan ke dalam tempat yang sama, yaitu kedalam sebuah ruangan kungkungan jeruji besi.


“Nona Katty.” terdengar suara seseorang memanggil, yang berasal dari salah satu aparat penegak hukum yang memang sengaja datang ke tempat itu.


Mendengar namanya di panggil, wanita itupun lantas segera bangkit dari tempatnya dan segera menghampiri Pak Polisi yang memanggilnya.


“Saya Katty, Pak.” Berdiri tegak dengan kedua tangan yang memegang jeruji besi yang menghalanginya. “Apakah Saya akan di bebaskan, Pak? Sudah ada orang yang datang untuk menjamin Saya ‘kan, Pak” rentetan pertanyaan


itu terlontar. Penuh harap.


 “Ada seseorang yang ingin menemui anda sekarang.” berkata tanpa menjawab pertanyaan Katty sebelumnya, sembari membuka pintu sel yang kemudian kembali ditutup setelah Katty keluar darisana.


“Siapa?” kedua alis Katty menyatu. Apa mungkin itu kedua orangtuanya? Begitu pikirnya.


“Temui saja, maka anda akan mengetahui sendiri siapa orangnya,” kata Polisi tersebut seakan tidak ingin banyak bicara.


Katty mengangguk, mengerti dengan apa yang Polisi itu katakan. Patuh adalah solusi sekarang, mengingat ini bukanlah tempatnya. Di mana ia bisa mengatakan, menyuruh, membantah, sesuka hatinya.


Jika ingin kemudahan, maka bersikap baiklah.


Batin Katty.


Katty pun lantas keluar dari ruangan tersebut bersama dengan Pak Polisi yang terus mengawalnya.


_______


Seorang pria yang mengenakan kemeja putih yang dipadu-padankan dengan celana jeans hitam miliknya. Pria itu saat ini menoleh ke arah Katty dengan tatapan penuh kebencian.


“Untuk apa kau di sini?” tanya Katty dengan nada tak suka.


“Kau wanita yang keji! Bagaimana bisa kau menghabisi anakmu sendiri, bahkan di saat ia belum lahir dan baru tumbuh di rahimmu!” sosok itu marah, dengan kedua mata memerah.


“Hanya segumpal darah saja kenapa kau sampai bersikap seperti itu.” acuh, merasa tidak bersalah dengan apa yang diperbuat.


“Apa kau bilang? Segumpal darah?” Kevin memicingkan mata. “Apa kau tau, gumpalan darah itu adalah darah dagingku! Calon anakku!” seru Kevin dengan suaraa yang dipelankan. Hal itu dikarenakan saat ini mereka berada


di kantor polisi, dan tak jauh dari tempat mereka berbicara. Polisi yang tadi mengantar Katty berdiri di sana, melakukan tugasnya, menjaga tahanan yang tadi Polisi itu bawa.


“Bukankah sudah ku katakan, aku tidak sudi mengandung anakmu!” tekan Katty dengan mata membelalak.


Jelas sekali sorot mata itu terlihat menantang Kevin yang saat ini ada di depannya.


“Dasar wanita iblis, tidak bisakah kau membiarkan anak itu tumbuh di rahimmu serta melahirkannya dengan baik ke dunia. Jika pun kau tidak ingin menikah denganku, atau merawat bayimu. Maka serahkan padaku, biarkan aku


yang mengurusnya. Bukannya malah bertindak seperti ini, membunuh dengan sengaja.” kata Kevin panjang lebar.


“Melahirkannya untukmu, cih!” cibir Katty. “Jangankan melahirkan, mengandungnya saja aku tidak sudi,” cemoohnya lagi.


“ ‘Ku pikir dengan kehamilanmu kau akan berubah, tapi ternyata dugaanku itu salah. Sifatmu malah jauh lebih kejam dari sebelumnya.” kata Kevin. Sementara itu Katty tak menggubris dengan apa yang Kevin katakan hingga membuat amarah Kevin yang semakin meluap-luap.


“Cih! Berubah, hanya untuk pegantar makanan murahan sepertimu, jangan harap!” sangat angkuh dengan kalimatnya. Ternyata, selama beberapa jam mendekam di balik jeruji besi tidak membuat sifat angkuh Katty berubah.


“Ya, aku memang seorang pengantar makanan. Terus kenapa? apakah ada yang salah dengan hal itu?” wajah Kevin mulai memerah. “Apa yang kulakukan itu halal, bekerja keras tanpa meminta-minta. Dan aku bangga dengan hal itu.” mendelikkan matanya seolah balik menantang Katty sekarang.


Beberapa bulan bekerja menjadi seorang pengantar makanan ternyata membuat Kevin sadar akan arti kerja keras. Tidak semua orang beruntung seperti dirinya, terlahir dari keluarga kaya yang hidup dengan serba berkecukupan.


“Memang, tapi pekerjaan itu mana bisa dibandingkan denganku,” cibir Katty.


“Siapa kau sekarang?” dagu Kevin terangkat saat mengucapkan kalimatnya. “Perusahaan orangtuamu telah bangkrut, rumah kalian telah disita, dan sekarang putri semata wayangnya yaitu Nona Katty yang terhormat telah masuk ke dalam penjara. Kau pikir, dengan statusmu itu siapa yang akan menginginkanmu lagi? Apalagi sebentar lagi kau akan ditetapkan sebagai tersangka dari percobaan pembunuhan terhadap Nona Tania Alexandre,” Kevin mengungkap fakta.


“Kau,” Katty mengeram kesal. Apa yang dikatakan Kevin barusan sungguh membakar hati, hingga membuat wajahnya memerah karena amarah.


“Bahkan aku juga akan memastikan untuk menghukummu lebih lama di sini karena kekejianmu yang telah membunuh anakku.”


“Kau, apa kau juga melaporkanku?”


“Ya, aku melaporkanmu atas aborsi yang telah kau lakukan.”


TBC.



Rekomendasi untuk kalian🧡