
Di kediaman Joenathan Alexandre.
Tania duduk diatas ranjang dengan memanyunkan bibirnya, menyandarkan badannya di sandaran ranjang. Ia mulai bosan karena tak melakukan apapun seharian. Di tambah lagi, setelah adegan ciuman yang cukup panas tadi, Joe tiba-tiba saja menjauh darinya, tidak seperti biasanya.
“Joe, kau kemana!” sentaknya dalam duduknya.
Pandangan matanya mengedar keseluruh isi ruangan. Mencari Joenathan yang telah menghilang.
“Joe… beraninya kau meninggalkanku di sini sendiri!” Tania kesal.
Di lantai bawah.
Joenathan terlihat duduk sambil membuka televisinya. Sebuah acara reality show dari sebuah channel yang ada di sana ditontonnya. Ciuman Tania yang sangat panas tadi, terpaksa ia sudahi. Joe harus menjauh menjauh, agar lebih bisa mengontrol hasratnya.
Itu adalah kali pertamanya, Tania menciumnya dengan penuh hasrat. Ciuman yang sangat mendominasi, serta gerakan tangan yang liar, membuat Joe hampir tak sanggup menahan hasratnya. Jika saja Joe tak mengingat, bahwa saat ini Tania baru saja pulang dari rumah sakit. Dan juga pesan Naufal kepadanya tentang mengatur jarak **** agar tak berlebihan, seperti yang sudah-sudah ia lakukan. Mungkin saat ini Joe sudah melahap habis wanitanya itu.
Bagaimanapun, Tania adalah wanitanya. Wanita yang sangat di cintainya. Terlebih saat ini ia juga tengah mengandung anaknya, hasil dari buah cinta mereka. Meskipun awalnya Joe tak ingin seorang bayi. Takut jika hal itu akan bepengaruh pada kasih sayang dari Tania, yang tentu saja akan terbagi.
Namun, entah mengapa saat Joe mendengar jika wanitanya telah hamil. Perasaan senang tak terbendung menghampiri hatinya. Merasa, telah menjadi lelaki sejati, yang sukses menghamili Istrinya (Tania).
Joe bahkan membayangkan, bagaimana kelak wajah si bayi. Apakah akan mirip dengan dirinya, atau mungkin mewarisi kecantikan Ibunya (Tania). Entahlah, yang pasti Joe merasa jika ia harus bisa menjaga serta melindungi
Tania dan calon bayinya sekuat mungkin.
Sebuah gelas yang berisikan cairan hitam, diambilnya diatas meja. Lalu kini, Joe mengarahkannya ke mulutnya, aroma khas menyertai hidungnya, membuat Joe tak sabar menyesapinya. Segelas kopi hitam buatan sang pelayan kini sudah mendarat di tenggorokan. Joe, kembali meletakkan gelas itu di meja yang ada di depannya, dan kembali menikmati tontonannya.
Dari arah tangga, terlihat sesosok wanita tengah memperhatikan Joe yang tengah asik menonton acara di televise. Tangannya dilipat di dada, sementara keningnya mengerut disertai bibirnya yang manyun. Tania merasa kesal melihat Joe yang tengah asyik bersantai.
Ia sama sekali tak menyangka jika Joe akan meninggalkan dirinya sendirian di kamar, memilih nonton disini sendirian. Perlahan, Tania lalu menapakkan langkahnya menuruni anak tangga. Tak bersuara, karena ingin Joe
merasa terkejut dengan kedatangannya.
Joe masih fokus. Sementara itu Tania kini sudah berdiri tepat di belakangnya. Bersiap-siap, untuk memberikan sebuah hukuman, melampiaskan amarahnya.
“Joe.” suaranya terdengar pelan. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?” mengulurkan kedua tangannya kearah leher. Lalu perlahan naik keatas, mengitari daun telinga, kemudian Tania menariknya dan juga memutarnya keatas.
“Arrgghh!” Joe mengerang. Tarikan yang di lakukan oleh Tania membuatnya kesakitan. Tak tangung-tangung, telinga Joe kini merah menyala akibat tarikan yang di lakukan oleh Tania.
“Hahahahahah!” Tania tertawa, terbahak-bahak melihat Joe mencak-mencak kesakitan. Gerakannya, dan juga ekspresi yang di tunjukkan Joe sangatlah lucu sekarang.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Joe seraya memegang kedua daun telinganya.
“Apa yang ku lakukan. Bukankah kau juga tau apa yang sedang ku lakukan sekarang.” berdiri dengan santai, dengan tawa yang masih menyerta. Entah mengapa, Tania merasa sangat puas setelah melakukan hal itu kepada Joe.
“Kau menarik telingaku!” Joe masih memegang kedua telinga seraya mengelusnya perlahan.
“Itu, karena kau meninggalkanku.” sambut Tania cepat.
Ia lalu melangkah kearah sofa yang sama, dan duduk di sana. “Itu hukuman untukmu karena telah berani meninggalkanku.”
Joe, mengernyitkan mata. “Berani sekali kau menghumku.”
“Kenapa tidak.” Tania membentangkan kedua tangannya di sandaran sofa. “Itu pelajaran untukmu agar kedepannya tak lagi melakukan hal yang sama terhadapku.”
Matanya kini mulai mengerling kearah meja yang ada di depannya, dan begitu melihat ada si hitam pekat di sana. Entah mengapa, tangan Tania tergerak untuk mengambilnya.
“Sluurrpp!”
Dengan sekali serapan Tania menghambiskan kopi yang ada di gelas, dan setelah itu dengan santainya ia kembali meletakkan gelas kosong itu di meja.
“Kopiku!” Joe segera meraih gelas yang baru saja di letakkan Tania. Melihat isi didalamnya yang ternyata sudah habis tak tersisa. “Berani sekali kau menghabiskan kopiku.” berbalik, menatap Tania tajam.
“Itu sebagai kompensasi untukku karena merasa rugi usai kau abaikan.” jawabnya santai.
Joe tertegun, menatap wanitanya. Sikap berani yang di tunjukkan Tania membuatnya takjub. Kekesalannya akan kopinya yang sudah di habiskan kini telah sirna saat Joe mendengar ucapannya.
“Berhenti menatapku. Bisa-bisa kau jatuh cinta lagi kepadaku.”
Joe tersenyum, kepedean Tania membuatnya kembali takjub.
“Kau—“
“Ah, sudahlah. Mood ku sudah hilang disini.” Belum sempat Joe menghabiskan kalimatnya, malah kini Tania menyergahnya dengan beberapa kata yang keluar dari mulutnya. Tania, kemudian bangkit dari duduknya dan berdiri dihadapan Joe.
“Apa?” mendongakkan kepalanya keatas, melihat Tania dengan tatapan kesal.
“Temani aku berenang ya.” tiba-tiba suaranya terdengar begitu lembut di sertai seulas senyuman dari bibirnya.
“Hmm, ada maunya aja ngomongnya manis gitu.”
“Kau tidak mau. Yasudah!” dengan cepat ekspresinya kembali berubah. Tania lantas melangkahkan kakinya pergi darisana.
Joe menghela nafasnya. Sikap Tania yang mulai suka berubah-ubah membuatnya pusing. Pria itu perlahan bangkit dari duduknya, mengejar Tania yang telah jauh pergi meninggalkannya di sana.
Di kolam renang.
Tania sudah melepas semua pakaiannya. Hanya tersisa bra dan juga underwear yang masih melekat di tubuhnya. Entah mengapa, melihat air yang ada di depannya itu membuat Tania ingin sekali melompat kesana. Tapi sebelumnya, gadis itu menggerai rambutnya terlebih dahulu sebelum menceburkan diri ke dasar kolam renang yang terlihat sangat terawat.
Joe, mematung memandangi lekuk indah tubuh Tania yang terpampang di depannya. Kulit putih bersih, serta kedua gumpalan kenyal yang terasa sesak berada di sana begitu mengusik birahinya. Tak berkedip, Joe memandangi keindahan yang ada di depannya. Namun, hal itu seketika buyar saat Tania menyeburkan diri ke kolam.
“Ah, Joe. tahan… jangan sampai kau tergoda.” Memegangi pusakanya dan berusaha menenangkannya.
“Tania… kau sungguh berhasil membuatku gila.” Joe, menggeleng pelan.
Sore itu, Tania berenang sendiri di kolam. Sementara Joe, hanya duduk selonjoran di kursi santai sambil meneguk jus jeruk yang ada di tangannya. Matanya tak lepas menatap kearah Tania yang sedang berenang ria di sana. Sesekali ia juga mengulas senyuman saat Tania berenang kearahnya.
“Joe, ayo!” ajak Tania.
“Aku masih ingin bersantai. Bersenang-senanglah, aku akan tetap disini mengawasimu.”
“Tapi, Joe. Aku mulai jenuh sendirian.”
“Ayo, turunlah kesini. Aku ingin mengajakmu lomba renang bersamaku!” ajak Tania lagi.
“Hmm, baiklah.” Joe akhirnya berdiri, beranjak dari kursi santainya. Lalu, saat ia hendak menghampiri Tania yang tengah bersandar di tepi kolam,
“Hai Bro!” seruan Bayu membuat langkah Joe terhenti dan menoleh kearahnya.
“Bayu.” lirih Joe.
Bayu dan Wulan kini sudah berada di sana. Melangkah beriringan kearah Joe yang berdiri mematung menatap mereka. Wulan melihat Tania di kolam, gadis itu lalu menyapa seraya melambaikan tangannya.
“Tania!”
Seulas senyuman di sematkan Tania, membalas sapaan Wulan.
“Kamu udah sehat?” Wulan kini sudah tiba didepan Tania dan berjongkok di sana.
“Sudah.” Tania mengangguk pelan.
“Syukurlah,” Wulan menarik nafas lega. “Oya, nih aku bawain kamu Kue Rangi.” Menunjukkan kantong yang di tentengnya.
Raut wajah Tania seketika berubah, saat mendengar Wulan yang mengucapkan Kue Rangi. “Wahh… Lan, kamu masih ingat aja makanan kesukaanku.”
“Tentu dong.” Seulas senyuman di sunggingkan Wulan. “Ayo, naik! Kita makan sama-sama.” Ajaknya kini.
Tak menunggu lama. Tania kemudian segera beranjak dari kolam. Mendengar kata Kue Rangi, membuatnya seketika lapar sekarang. Dengan gerakan gemulai Tania kini melangkah menghampiri Wulan yang sudah duduk di kursi yang berada di ujung sana.
Tanpa sengaja. Bayu melihat Tania yang sedang melangkah kearah Wulan. Kulit putih bersihnya, dan juga lekukan tubuh yang terlihat sempurna, membuat mata lelaki itu tak berkedip. Ini kali pertama Bayu melihat Tania dengan penampilan yang begitu seksi.
“Bro, indah banget.” Tak sadar kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Joe mendelik, memperhatikan kearah objek yang sedang dilihat Bayu. Seketika Joe menendang kaki Bayu yang tak jauh darinya.
“Aww!” Bayu menjerit. Tendangan Joe sangat kuat, begitu terasa, hingga membuat nyeri kakinya. “Sialan kau Joe!” merunduk, megangi kakinya dengan kedua tangannya.
“Siapa suruh kau begitu menikmati tubuh Istriku.” Tersenyum sinis.
“Mana ada menikmati, aku hanya tak sengaj melihatnya.”
“Tak sengaja hingga tak berkedip begitu?” tatapnya tajam. “Kau pantas mendapatkannya.” Sambungnya lagi.
Joe lalu membalikkan tubuhnya, mengambil jubah handuk yang berada di meja yang ada di sana. lalu kini, ia melangkah pergi kearah Tania yang kini sudah duduk dengan Wulan di sana. Sedangkan Bayu, masih mengusap-usap kakinya, berusaha meredakan nyeri karena tendangan Joe tadi.
“Sayang, pakai ini.” Joe memakaikan Tania jubah handuk yang di bawanya.
Tania menoleh, lalu kini mengulas senyumnya. “Makasih ya sayang.” memegang sebelah pipi Joe dengan tanga kanannya.
Joe mengangguk tersenyum.
“Oya, duduklah disini. Kita makan Kue Rangi sama-sama ya.”
“Hmm, baiklah.” Joe mengangguk patuh.
Pria itu lantas menarik kursinya, menggesernya agar dekat dengan Tania, lalu kini duduk di sana. “Mana kuenya?” Joe melihat keatas meja.
“Eh, ini.” Wulan membuka bungkusnya, lalu kini ia menyerahkan makanan yang di bawanya itu kepada Tania.
Tania meraih bungkusnya, lalu mengambil satu kue yang ada di sana. Kemudian ia menyerahkannya kepada Joe. “Ini, makanlah.” sedikit ragu. Namun, ia berharap Joe juga bisa menyukainya.
Joe mengambilnya, lalu kini memperhatikan bentuk kue itu. “Kue apa ini?” tanyanya polos.
“Ini namanya Kue Rangi, makanlah. Rasanya sangat enak.”
TBC.